Mengapa Wanita Banyak Menghuni Neraka…?

Sebuah pernyataan yang cukup lazim terdengar di telinga kita bahwa kebanyakan penduduk neraka dihuni oleh para wanita.

Berdasarkan Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Aku melihat ke dalam surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.”

Muncul pertanyaan di benak kita, apa yang menyebabkan kebanyakan wanita menjadi penduduk neraka? Dalam sebuah kisah ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam melihat Surga dan neraka.

Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum, “ … dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Shahabat pun bertanya, “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah?” Beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, “Karena kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata, ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)

Dalam hadits lainnya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjelaskan tentang wanita penduduk neraka, beliau bersabda, “ … dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti punuk onta. Mereka tidak masuk Surga dan tidak mendapatkan wanginya Surga padahal wanginya bisa didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu)

Bagi para muslimah atau umumnya wanita ketika membaca atau mendengar hadist-hadist di atas sontak naik darah dan tidak bisa menerima sepenuhnya. Minimal akan berhujjah bahwasanya wanita bisa berbuat demikian karena ada penyebabnya, bukan tiba-tiba ingin berlaku demikian. Siapapun kalau ditanya tentu saja tidak ada yang ingin masuk neraka apalagi diklaim akan masuk neraka. Naudzubillah mindzalik!

Memang, berlayar mengarungi bahterah rumah tangga itu tidak semudah yang dibayangkan. Seorang muslimah tepatnya seorang istri, tidak saja harus membekali dirinya dengan ilmu agama yang cukup tapi juga mutlak dibutuhkan mental baja dan manajemen yang baik dalam mengelola gelombang kehidupan beserta segala pernak pernik yang menyertainya. Ketika urusan rumah tangga tidak pernah ada habisnya, anak-anak rewel dan kondisi fisik sedang tidak fit, kemudian suami pulang kerja minta dilayani tanpa mau perduli dengan kondisi kita, biasanya, dalam kondisi seperti ini tidak banyak wanita yang tetap mampu mengendalikan kesabarannya. Manusiawi bukan? Belum tentu!Justru dalam situasi seperti inilah keimanan dan kesabaran kita akan teruji. Apakah kita masih bisa mengeluarkan kata-kata manis sekaligus rona muka penuh dengan senyum ketulusan? Sulit memang! Tapi sulit bukan berarti tidak bisa!

Jika kita cermati hadist diatas secara seksama, maka akan kita dapati beberapa sebab mengapa wanita bisa menjadi penduduk minoritas di surga, di antaranya :

Pertama, kufur terhadap kebaikan-kebaikan suami. Sebuah fenomena yang sering kita saksikan, seorang istri yang mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya dalam waktu yang panjang hanya karena satu hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Padahal seharusnya seorang istri selalu bersyukur terhadap apa-apa yang diberikan suaminya, karena Allah SWT tidak akan melihat istri yang seperti ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam,“Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasa’i di dalam Al Kubra dari Abdullah bin ‘Amr).

Kedua, durhaka terhadap suami. Durhaka yang sering dilakukan seorang istri adalah durhaka dalam ucapan dan perbuatan. Wujud durhaka dalam ucapan di antaranya ketika seorang istri membicarakan keburukan-keburukan suaminya kepada teman-teman atau keluarganya tanpa alasan yang dibenarkan oleh syar’i. Sedangkan durhaka dalam perbuatan diantaranya bersikap kasar atau menampakkan muka yang masam ketika memenuhi panggilan suami, tidak mau melayani suami dengan alasan yang tidak syar’i, pergi atau ke luar rumah tanpa izin suami, mengkhianati suami dan hartanya, membuka dan menampakkan apa yang seharusnya ditutupi dari anggota tubuhnya, atau sebaliknya enggan berdandan dan mempercantik diri untuk suaminya padahal suaminya menginginkan hal itu.

Jika demikian keadaannya maka sungguh merugi wanita-wanita yang kufur dan durhaka terhadap suaminya. Mereka lebih memilih jalan ke neraka daripada surga karena mengikuti hawa nafsu belaka.

Jalan ke surga memang tidaklah dihiasi dengan bunga-bunga nan indah, melainkan melalui rintangan-rintangan yang berat dan terjal. Tetapi ingatlah di ujung jalan ini Allah menjanjikan surga bagi orang-orang yang sabar menempuhnya.

Sementara, jalan menuju ke neraka penuh dengan keindahan yang menggoda dan setiap manusia sangat tertarik untuk melaluinya. Tetapi, sadarlah bahwa di ujung jalan ini, neraka telah menyambut dengan beragam siksa-Nya.

Lalu, bagaimana caranya agar para wanita atau para istri tidak terperosok ke dalam neraka?

Jangan pesimis, masih banyak cara dan tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri jika kita ingin menjadi penduduk minoritas di surga.

Masih ingat kan, ketika rasulullah bersabda dalam sebuah hadist shahih jami’, “Perempuan apabila shalat 5 waktu, puasa di bulan ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat kepada suaminya, maka masuklah dia dari pintu surga mana saja yang dia kehendaki.”

Mengacu dari hadist di atas, mari kita berlomba menegakkan sholat dengan lebih khusu’, memperbayak sholat-sholat sunah karena sholat yang benar dan khusu’ bisa membentengi diri kita dari perbuatan yang munkar. Selain puasa/shaum wajib di bulan romadhon, latihlah diri untuk terbiasa melakukan shaum sunah. Hiasilah diri dengan sabar dalam ketaatan dengan suami dan banyak-banyaklah beristigfar karena istigfar bisa meruntuhkan dosa-dosa kecil yang tidak kita sadari.

Dan juga ada sebuah amalan yang sepele tapi sering terlupakan adalah bershodaqoh (sedekah). Bershodaqohlah dalam keadaan lapang dan sempit karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah menuntunkan satu amalan yang dapat menyelamatkan kaum wanita dari adzab neraka.

Ketika beliau selesai khutbah hari raya yang berisikan perintah untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan anjuran untuk mentaati-Nya. Beliau pun bangkit mendatangi kaum wanita, beliau menasehati mereka dan mengingatkan mereka tentang akhirat kemudian beliau bersabda, “Bershadaqahlah kalian! Karena kebanyakan kalian adalah kayu bakarnya Jahanam!” Maka berdirilah seorang wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang berubah kehitaman kedua pipinya, iapun bertanya, “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena kalian banyak mengeluh dan kalian kufur terhadap suami!” (HR. Bukhari)

Bershadaqahlah! Karena shadaqah adalah satu jalan untuk menyelamatkan kalian dari adzab neraka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari adzabnya. Amin. Wallahu’alam.

Sumber: http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/mengapa-wanita-banyak-menghuni-neraka.htm

Kasihan… Perempuan Gendut Ditolak Melahirkan di Rumah Sakit

SOMERSET, KOMPAS.com — Sebuah rumah sakit di Somerset, Inggris, menolak seorang ibu gendut melahirkan di tempat itu. Kebijakan itu diterbitkan kemarin dan memicu protes dari sejumlah orang.

Weston General Hospital menetapkan bahwa para ibu dengan indeks massa tubuh atau body mass index lebih dari 34 (angka indeks diperoleh dari berat dibagi tinggi badan dalam hitungan meter dikali dua) akan ditolak karena para staf khawatir pasien obesitas akan meninggal di rumah sakit selama proses melahirkan. Pihak Weston merujuk pasien di atas angka indeks 34 itu ke rumah sakit di Bristol yang jaraknya 20 mil dari Somerset, tetapi punya unit bersalin yang dilengkapi fasilitas berteknologi tinggi.

Perhitungan indeks massa tubuh digunakan untuk mengukur apakah seseorang memiliki berat yang sehat untuk ukuran tinggi badannya. Indeks massa tubuh di atas 30 dinilai obesitas, dan lebih dari 40 dinilai sudah sangat gendut. Ibu dengan tingkat indeks massa tubuh yang tinggi diyakini berisiko tinggi mengalami pendarahan dan komplikasi selama proses persalinan.

Seorang juru bicara Rumah Sakit Weston General mengatakan, mereka tidak punya fasilitas untuk menangani kelahiran yang rumit. "Unit itu dipimpin seorang bidan, dan tidak ada konsultan spesialis seorang pun. Tidak pernah ada. Unit ini didesain lebih sebagai rumah dan lebih sederhana untuk melahirkan, suasana yang disukai beberapa ibu." katanya.

Namun ia menambahkan, "Jika ada risiko komplikasi, punya sejarah melahirkan yang sulit, diabetes, atau apa pun yang membutuhkan peralatan khusus, maka para ibu dari awal dianjurkan untuk pergi ke Bristol."

Bagaimanapun, kebijakan itu memicu protes. Para pemrotes menilai perempuan gendut telah diperlakukan tidak adil dengan adanya aturan tersebut. Carole Welch, yang mengelola kelas Slimming World lokal, mengatakan, tidak benar bahwa perempuan gendut tidak dapat melahirkan dengan selemat di dekat rumah mereka sendiri dan harus dipaksa mencari unit bersalin yang jauh.

"Perempuan yang tinggal di kota itu, tidak peduli berapa pun ukuran mereka, harus dapat melahirkan tanpa harus pergi bermil-mil jauhnya," katanya. "Seharusnya, rumah sakit itu meningkatkan fasilitasnya agar bisa menangani setiap perempuan hamil. Jika indeks masa tubuh saya lebih dari 34, maka saya tidak suka dengan kebijakan itu. Itu tidak adil," tambahnya.

Sebuah laporan tahunan dari Somerset mengungkapkan bahwa angka kelebihan berat badan dan obesitas meningkat pesat di kawasan itu dalam beberapa tahun terakhir. Para ahli memperkirakan, sebanyak 29.600 orang dewasa, sekitar 18 persen populasi, menderita obesitas di wilayah itu.

Wah Gawat Terjadi Mal Praktek Alat Kuret Tertinggal di Rahim Seorang Pasien Wanita di Medan

Buramnya penyebab kematian Rosaliana br Kaban, akhirnya terkuak juga kemarin (11/11) sore. Ternyata, blooding atau pendarahan cewek pekerja salon itu, karena alat korek atau kuret rahim yang terbuat dari stainless steel, tertinggal di organ kewanitaannya. Inilah penelusuran tim POSMETRO MEDAN.

Berada di pinggir jalan kawasan Simalingkar B, sebuah rumah permanen tak berpagar terlihat sepi. Seorang pria bertato berumur 30-an tahun, tampak sibuk memotong rebung (bambu muda). Usai mengucap salam, pria itu mempersilahkan menemui wanita paruh baya yang asyik mengunyah sirih.

Rambut wanita itu terlihat acak-acakan. Kesannya terlihat seram. Ya..dia adalah dukun yang jadi perantara Chandra dan Rosaliana bertemu dokter aborsi di Delitua. Awalnya, si dukun hanya jadi tempat konsultasi Chandra dan Rosalina.

“Orang itu (Chandra dan Rosaliana-red) mau buang bayi. Mereka datang sekira jam 6 sore. Sampek di sini, saya kusuk dulu Rosaliana. Makanya aku tahu dia hamil 4 bulan. Baru kukasih minum ramuan. Baru jam 7 kami ke delitua naik mobil kawan si Chandra ke rumah dokter itu. Di sanalah digugurkan,”ujarnya.

Bahkan dukun ini juga tahu soal kematian Rosaliana. “Pacar Chandra itu mati karena tinggal alat korek di dalam (rahimnya-red). Sekarang gak tahu lagi kemana orang si Chandra,”terang dukun berkulit hitam itu. Soal aborsi, si dukun dengan PD-nya membeberkan kehaliannya. “Aku bisa bantu untuk aborsi, tapi biayanya mahal, bisa sampai Rp1,5 juta lebih. Udah sering kubantu orang kek gitu (aborsi),”ujarnya.

Tak lama, si dukun terdiam begitu tahu Koko adalah reporter POSMETRO MEDAN. Dia enggan memberkan lanjut soal keahliannya dan nama dokter di Delitua. Terpisah, Ony, warga Simalingkar yang kenal Chandra, mengakui kedekatan Chandra dan Rosaliana. Hanya saja, dia tak tahu dimana salon tempat kerja Rosaliana. “Sekarang Chandra itu tidak lagi ada di Simalingkar. Biasanya terus dia di kedai ini,” ujar Ony.

“Kita telah melakukan pencarian Chandra, sampai ke Lubuk Pakam. Kita juga akan memanggil dukun yang mengobati korban dan memintai keterangannya. Sementara isi lambung korban telah kita kirim ke Lab Polda untuk diteliti,”terang Waka Polsek Delitua, Iptu WD.Sidabutar.

medika

Inilah Pemicu Pria Selingkuh

VIVAnews – Pertanyaan besar biasanya akan selalu

muncul dalam pikiran, jika kesabaran dan kelembutan

Anda ternyata dibalas pengkhianatan oleh pasangan.

Rasa sedih, marah dan kecewa pasti Anda alami saat

mengetahui bahwa pasangan tidak setia. Banyak hal

yang memicu pria berselingkuh, mungkin salah satu

penyebabnya tidak pernah terpikirkan oleh Anda. Bisa

jadi karena memang ia tipe pria yang suka berselingkuh

atau perselingkuhan tersebut terjadi karena suasana dan

rasa jenuhnya. Ketahui apa saja yang memicu pria

berselingkuh. Uang Banyak orang yang berpendapat

saat pria dalam keadaan mapan, risiko melakukan

perselingkuhan semakin besar. Hal itu bisa terjadi

karena ia memiliki segalanya dan mudah saja melakukan

perselingkuhan. Terutama bila istrinya sangat

bergantung dalam hal ekonomi padanya. Kondisi

tersebut juga bisa membuatnya lebih mudah dimaafkan

karena alasan kekhilafan. Hal ini bukan berarti pria yang

belum mapan tidak melakukan perselingkuhan. Tetapi,

kondisi yang mapan ini bisa Harta, tahta dan wanita

memang menjadi ujian bagi pria. Saat status sosial atau

jabatan seorang pria menjadi lebih tinggi banyak sekali

godaan yang menghampirinya termasuk untuk

berselingkuh. Akan makin banyak wanita yang

menggoda dan mendekatinya karena status dan

kekuasaannya. Kesempatan untuk melakukan

perselingkuhan pun menjadi lebih besar. Seringkali

kesibukan istri membuat suami merasa tersisihkan.

Terutama jika sang istri juga bekerja dan sesampainya

dirumah sibuk mengurus rumah dan anak- anak. Jika pria

tidak bisa mengatasi perasaan tersisihnya dalam

keluarga, perselingkuhan pun bisa dilakukan. Pria bisa

mencari kehangatan dari wanita lain dan kembali ke

rumah seolah tidak terjadi apa-apa. Rasa iseng juga bisa

menjadi awal perselingkuhan. Misalnya saling berkirim

sms dengan wanita yang baru dikenalnya atau chatting

dengan wanita lain. Keisengan tersebut pun bisa

berlanjut menjadi hubungan yang Internet juga memicu

pria melakukan perselingkuhan. Bisa melalui laman

jaringan sosial atau chatting dengan wanita yang baru

dikenalnya di dunia maya. Berselingkuh di dunia maya

bisa lebih mudah dan tidak ketahuan

Inilah Pemicu Pria Selingkuh

Pertanyaan besar biasanya akan selalu

muncul dalam pikiran, jika kesabaran dan kelembutan

Anda ternyata dibalas pengkhianatan oleh pasangan.

Rasa sedih, marah dan kecewa pasti Anda alami saat

mengetahui bahwa pasangan tidak setia. Banyak hal

yang memicu pria berselingkuh, mungkin salah satu

penyebabnya tidak pernah terpikirkan oleh Anda. Bisa

jadi karena memang ia tipe pria yang suka berselingkuh

atau perselingkuhan tersebut terjadi karena suasana dan

rasa jenuhnya. Ketahui apa saja yang memicu pria

berselingkuh.

Uang

Banyak orang yang berpendapat saat pria dalam keadaan

mapan, risiko melakukan perselingkuhan semakin besar.

Hal itu bisa terjadi karena ia memiliki segalanya dan

mudah saja melakukan perselingkuhan. Terutama bila

istrinya sangat bergantung dalam hal ekonomi padanya.

Kondisi

tersebut juga bisa membuatnya lebih mudah dimaafkan

karena alasan kekhilafan. Hal ini bukan berarti pria yang

belum mapan tidak melakukan perselingkuhan. Tetapi,

kondisi yang mapan ini bisa Harta, tahta dan wanita

memang menjadi ujian bagi pria. Saat status sosial atau

jabatan seorang pria menjadi lebih tinggi banyak sekali

godaan yang menghampirinya termasuk untuk

berselingkuh. Akan makin banyak wanita yang

menggoda dan mendekatinya karena status dan

kekuasaannya. Kesempatan untuk melakukan

perselingkuhan pun menjadi lebih besar. Seringkali

kesibukan istri membuat suami merasa tersisihkan.

Terutama jika sang istri juga bekerja dan sesampainya

dirumah sibuk mengurus rumah dan anak- anak. Jika pria

tidak bisa mengatasi perasaan tersisihnya dalam

keluarga, perselingkuhan pun bisa dilakukan. Pria bisa

mencari kehangatan dari wanita lain dan kembali ke

rumah seolah tidak terjadi apa-apa. Rasa iseng juga bisa

menjadi awal perselingkuhan. Misalnya saling berkirim

sms dengan wanita yang baru dikenalnya atau chatting

dengan wanita lain. Keisengan tersebut pun bisa

berlanjut menjadi hubungan yang Internet juga memicu

pria melakukan perselingkuhan. Bisa melalui laman

jaringan sosial atau chatting dengan wanita yang baru

dikenalnya di dunia maya. Berselingkuh di dunia maya

bisa lebih mudah dan tidak mudah ketahuan.

Vivanews

Fitnah dan Suara Wanita

FITNAH DAN SUARA WANITA Dr. Yusuf Qardhawi

PERTANYAAN

Sebagian orang berprasangka buruk terhadap wanita.
Mereka menganggap wanita sebagai sumber segala bencana
dan fitnah. Jika terjadi suatu bencana, mereka berkata,
“Periksalah kaum wanita!” Bahkan ada pula yang
berkomentar, “Wanita merupakan sebab terjadinya
penderitaan manusia sejak zaman bapak manusia (Adam)
hingga sekarang, karena wanitalah yang mendorong Adam
untuk memakan buah terlarang hingga dikeluarkannya dari
surga dan terjadilah penderitaan dan kesengsaraan atas
dirinya dan diri kita sekarang.”

Anehnya, mereka juga mengemukakan dalil-dalil agama
untuk menguatkan pendapatnya itu, yang kadang-kadang
tidak sahih, dan adakalanya – meskipun sahih – mereka
pahami secara tidak benar, seperti terhadap
hadits-hadits yang berisi peringatan terhadap fitnah
wanita, misalnya sabda Rasulullah saw:

“Tidaklah aku tinggalkan sesudahku suatu fitnah yang
lebih membahayakan bagi laki-laki daripada (fitnah)
perempuan.”

Apakah maksud hadits tersebut dan hadits-hadits lain
yang seperti itu? Hadits-hadits tersebut kadang-kadang
dibawakan oleh para penceramah dan khatib, sehingga
dijadikan alat oleh suatu kaum untuk menjelek-jelekkan
kaum wanita dan oleh sebagian lagi untuk
menjelek-jelekkan Islam. Mereka menuduh Islam itu dusta
(palsu) karena bersikap keras terhadap wanita dan
kadang-kadang bersikap zalim.

Mereka juga mengatakan, “Sesungguhnya suara wanita –
sebagaimana wajahnya – adalah aurat. Wanita dikurung
dalam rumah sampai meninggal dunia.”

Kami yakin bahwa tidak ada agama seperti Islam, yang
menyadarkan kaum wanita, melindunginya, memuliakannya,
dan memberikan hak-hak kepadanya. Namun, kami tidak
memiliki penjelasan dan dalil-dalil sebagai yang Ustadz
miliki. Karena itu, kami mengharap ustadz dapat
menjelaskan makna dan maksud hadits-hadits ini kepada
orang-orang yang tidak mengerti Islam atau berpura-pura
tidak mengerti.

Semoga Allah menambah petunjuk dan taufik-Nya untuk
Ustadz dan menebar manfaat ilmu-Nya melalui Ustadz.
Amin.

JAWABAN

Sebenarnya tidak ada satu pun agama langit atau agama
bumi, kecuali Islam, yang memuliakan wanita, memberikan
haknya, dan menyayanginya. Islam memuliakan wanita,
memberikan haknya, dan memeliharanya sebagai manusia.
Islam memuliakan wanita, memberikan haknya, dan
memeliharanya sebagai anak perempuan.

Islam memuliakan wanita, memberikan haknya, dan
memeliharanya sebagai istri. Islam memuliakan wanita,
memberikan haknya, dan memeliharanya sebagai ibu. Dan
Islam memuliakan wanita, memberikan haknya, dan
memelihara serta melindunginya sebagai anggota
masyarakat.

Islam memuliakan wanita sebagai manusia yang diberi
tugas (taklif) dan tanggung jawab yang utuh seperti
halnya laki-laki, yang kelak akan mendapatkan pahala
atau siksa sebagai balasannya. Tugas yang mula-mula
diberikan Allah kepada manusia bukan khusus untuk
laki-laki, tetapi juga untuk perempuan, yakni Adam dan
istrinya (lihat kembali surat al-Baqarah: 35)

Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pun nash Islam,
baik Al-Qur’an maupun As-Sunnah sahihah, yang
mengatakan bahwa wanita (Hawa; penj.) yang menjadi
penyebab diusirnya laki-laki (Adam) dari surga dan
menjadi penyebab penderitaan anak cucunya kelak,
sebagaimana disebutkan dalam Kitab Perjanjian Lama.
Bahkan Al-Qur’an menegaskan bahwa Adamlah orang pertama
yang dimintai pertanggungjawaban (lihat kembali surat
Thaha: 115-122).

Namun, sangat disayangkan masih banyak umat Islam yang
merendahkan kaum wanita dengan cara mengurangi
hak-haknya serta mengharamkannya dari apa-apa yang
telah ditetapkan syara’. Padahal, syari’at Islam
sendiri telah menempatkan wanita pada proporsi yang
sangat jelas, yakni sebagai manusia, sebagai perempuan,
sebagai anak perempuan, sebagai istri, atau sebagai
ibu.

Yang lebih memprihatinkan, sikap merendahkan wanita
tersebut sering disampaikan dengan mengatas namakan
agama (Islam), padahal Islam bebas dari semua itu.
Orang-orang yang bersikap demikian kerap menisbatkan
pendapatnya dengan hadits Nabi saw. yang berbunyi:
“Bermusyawarahlah dengan kaum wanita kemudian
langgarlah (selisihlah).”

Hadits ini sebenarnya palsu (maudhu’). Tidak ada
nilainya sama sekali serta tidak ada bobotnya ditinjau
dari segi ilmu (hadits).

Yang benar, Nabi saw. pernah bermusyawarah dengan
istrinya, Ummu Salamah, dalam satu urusan penting
mengenai umat. Lalu Ummu Salamah mengemukakan
pemikirannya, dan Rasulullah pun menerimanya dengan
rela serta sadar, dan ternyata dalam pemikiran Ummu
Salamah terdapat kebaikan dan berkah.

Mereka, yang merendahkan wanita itu, juga sering
menisbatkan kepada perkataan Ali bin Abi Thalib bahwa
“Wanita itu jelek segala-galanya, dan segala kejelekan
itu berpangkal dari wanita.”

Perkataan ini tidak dapat diterima sama sekali; ia
bukan dari logika Islam, dan bukan dari nash.1

Bagaimana bisa terjadi diskriminasi seperti itu,
sedangkan Al-Qur’an selalu menyejajarkan muslim dengan
muslimah, wanita beriman dengan laki-laki beriman,
wanita yang taat dengan laki-laki yang taat, dan
seterusnya, sebagaimana disinyalir dalam Kitab Allah.

Mereka juga mengatakan bahwa suara wanita itu aurat,
karenanya tidak boleh wanita berkata-kata kepada
laki-laki selain suami atau mahramnya. Sebab, suara
dengan tabiatnya yang merdu dapat menimbulkan fitnah
dan membangkitkan syahwat.

Ketika kami tanyakan dalil yang dapat dijadikan acuan
dan sandaran, mereka tidak dapat menunjukkannya.

Apakah mereka tidak tahu bahwa Al-Qur’an memperbolehkan
laki-laki bertanya kepada isteri-isteri Nabi saw. dari
balik tabir? Bukankah isteri-isteri Nabi itu
mendapatkan tugas dan tanggung jawab yang lebih berat
daripada istri-istri yang lain, sehingga ada beberapa
perkara yang diharamkan kepada mereka yang tidak
diharamkan kepada selain mereka? Namun demikian, Allah
berfirman:

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka
(istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir
…”(al-Ahzab: 53)

Permintaan atau pertanyaan (dari para sahabat) itu
sudah tentu memerlukan jawaban dari Ummahatul Mukminin
(ibunya kaum mukmin: istri-istri Nabi). Mereka biasa
memberi fatwa kepada orang yang meminta fatwa kepada
mereka, dan meriwayatkan hadits-hadits bagi orang yang
ingin mengambil hadits mereka.

Pernah ada seorang wanita bertanya kepada Nabi saw.
dihadapan kaum laki-laki. Ia tidak merasa keberatan
melakukan hal itu, dan Nabi pun tidak melarangnya. Dan
pernah ada seorang wanita yang menyangkal pendapat Umar
ketika Umar sedang berpidato di atas mimbar. Atas
sanggahan itu, Umar tidak mengingkarinya, bahkan ia
mengakui kebenaran wanita tersebut dan mengakui
kesalahannya sendiri seraya berkata, “Semua orang
(bisa) lebih mengerti daripada Umar.”

Kita juga mengetahui seorang wanita muda, putri seorang
syekh yang sudah tua (Nabi Syu’aib; ed.) yang berkata
kepada Musa, sebagai dikisahkan dalam Al-Qur’an:

“… Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia
memberi balasan terhadap (kebaikan)-mu memberi minum
(ternak) kami …” (al-Qashash: 25)

Sebelum itu, wanita tersebut dan saudara perempuannya
juga berkata kepada Musa ketika Musa bertanya kepada
mereka:

“… Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)? Kedua
wanita itu menjawab, ‘Kami tidak dapat meminumkan
(ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu
memulangkan (ternaknya), sedangkan bapak kami adalah
orang tua yang telah lanjut usianya.” (al-Qashash: 23)

Selanjutnya, Al-Qur’an juga menceritakan kepada kita
percakapan yang terjadi antara Nabi Sulaiman a.s.
dengan Ratu Saba, serta percakapan sang Ratu dengan
kaumnya yang laki-laki.

Begitu pula peraturan (syariat) bagi nabi-nabi sebelum
kita menjadi peraturan kita selama peraturan kita tidak
menghapuskannya, sebagaimana pendapat yang terpilih.

Yang dilarang bagi wanita ialah melunakkan pembicaraan
untuk menarik laki-laki, yang oleh Al-Qur’an
diistilahkan dengan al-khudhu bil-qaul
(tunduk/lunak/memikat dalam berbicara), sebagaimana
disebutkan dalam firman Allah:

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti
wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah
kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah
orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah
perkataan yang baik.” (al-Ahzab: 32)

Allah melarang khudhu, yakni cara bicara yang bisa
membangkitkan nafsu orang-orang yang hatinya
“berpenyakit.” Namun, dengan ini bukan berarti Allah
melarang semua pembicaraan wanita dengan setiap
laki-laki. Perhatikan ujung ayat dari surat di atas:

“Dan ucapkanlah perkataan yang baik”

Orang-orang yang merendahkan wanita itu sering memahami
hadits dengan salah. Hadits-hadits yang mereka
sampaikan antara lain yang diriwayatkan Imam Bukhari
bahwa Nabi saw. bersabda:

“Tidaklah aku tinggalkan sesudahku suatu fitnah yang
lebih membahayakan bagi laki-laki daripada (fitnah)
wanita.”

Mereka telah salah paham. Kata fitnah dalam hadits
diatas mereka artikan dengan “wanita itu jelek dan
merupakan azab, ancaman, atau musibah yang ditimpakan
manusia seperti ditimpa kemiskinan, penyakit,
kelaparan, dan ketakutan.” Mereka melupakan suatu
masalah yang penting, yaitu bahwa manusia difitnah
(diuji) dengan kenikmatan lebih banyak daripada diuji
dengan musibah. Allah berfirman:

“… Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan
kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) ….”
(al-Anbiya: 35)

Al-Qur’an juga menyebutkan harta dan anak-anak – yang
merupakan kenikmatan hidup dunia dan perhiasannya –
sebagai fitnah yang harus diwaspadai, sebagaimana
firman Allah:

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan
(bagimu)…” (at-Taghabun: 15)

“Dan ketabuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu
hanyalah sebagai cobaan …” (al-Anfal: 28)

Fitnah harta dan anak-anak itu ialah kadang-kadang
harta atau anak-anak melalaikan manusia dari kewajiban
kepada Tuhannya dan melupakan akhirat. Dalam hal ini
Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu
dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.
Barangsiapa yang membuat demikian, maka mereka itulah
orang-orang yang rugi.” (al-Munaafiqun: 9)

Sebagaimana dikhawatirkan manusia akan terfitnah oleh
harta dan anak-anak, mereka pun dikhawatirkan terfitnah
oleh wanita, terfitnah oleh istri-istri mereka yang
menghambat dan menghalangi mereka dari perjuangan, dan
menyibukkan mereka dengan kepentingan-kepentingan
khusus (pribadi/keluarga) dan melalaikan mereka dari
kepentingan-kepentingan umum. Mengenai hal ini
Al-Qur’an memperingatkan:

“Hai orang-orang beriman, sesungguhnya diantara
istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh
bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka …”
(at-Taghabun: 14)

Wanita-wanita itu menjadi fitnah apabila mereka menjadi
alat untuk membangkitkan nafsu dan syahwat serta
menyalakan api keinginan dalam hati kaum laki-laki. Ini
merupakan bahaya sangat besar yang dikhawatirkan dapat
menghancurkan akhlak, mengotori harga diri, dan
menjadikan keluarga berantakan serta masyarakat rusak.

Peringatan untuk berhati-hati terhadap wanita disini
seperti peringatan untuk berhati-hati terhadap
kenikmatan harta, kemakmuran, dan kesenangan hidup,
sebagaimana disebutkan dalam hadits sahih:

“Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku takutkan atas
kamu, tetapi yang aku takutkan ialah dilimpahkan
(kekayaan) dunia untuk kamu sebagaimana dilimpahkan
untuk orang-orang sebelum kamu, lantas kamu
memperebutkannya sebagaimana mereka dahulu
berlomba-lomba memperebutkannya, lantas kamu binasa
karenanya sebagaimana mereka dahulu binasa karenanya.”
(Muttafaq alaih dari hadits Amr bin Auf al-Anshari)

Dari hadits ini tidak berarti bahwa Rasulullah saw.
hendak menyebarkan kemiskinan, tetapi beliau justru
memohon perlindungan kepada Allah dari kemiskinan itu,
dan mendampingkan kemiskinan dengan kekafiran. Juga
tidak berarti bahwa beliau tidak menyukai umatnya
mendapatkan kelimpahan dan kemakmuran harta, karena
beliau sendiri pernah bersabda:

“Bagus nian harta yang baik bagi orang yang baik” (HR.
Ahmad 4:197 dan 202, dan Hakim dalam al-Mustadrak 2:2,
dan Hakim mengesahkannya menurut syarat Muslim, dan
komentar Hakim ini disetujui oleh adz-Dzahabi)

Dengan hadits diatas, Rasulullah saw. hanya menyalakan
lampu merah bagi pribadi dan masyarakat muslim di jalan
(kehidupan) yang licin dan berbahaya agar kaki mereka
tidak terpeleset dan terjatuh ke dalam jurang tanpa
mereka sadari.

Catatan kaki:

1 Perkataan ini sudah kami sangkal dalam
Fatwa-fatwa Kontemporer jilid I ini.

———————–
Fatwa-fatwa Kontemporer
Dr. Yusuf Qardhawi
Gema Insani Press
Jln. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740
Telp. (021) 7984391-7984392-7988593
Fax. (021) 7984388
ISBN 979-561-276-X

WANITA ADALAH AURAT….

Mensejajarkan kedudukan antara pria dan wanita sudah lama menjadi persoalan yang ‘diperjuangkan’ oleh mereka yang mengatasnamakan Islam liberal. Kasus Aminah Wadud misalnya, yang telah menjadikan 100-an orang jama’ahnya bercampur aduk antara laki-laki dan wanita, shafnya pun sejajar. Pemahaman yang salah kaprah itu ternyata lebih didasari pada akal belaka, karena memang bertentangan dengan landasan syar’i yang telah menjelaskannya.

Dalam tata cara shalat, memang ada beberapa perbedaan antara pria dan wanita. Diantaranya bahwa wanita diperintahkan untuk merapatkan tubuhnya pada saat ruku’ dan sujud serta pada saat duduk bersilang kaki dan merapatkan pahanya. Hal demikian karena wanita itu aurat, sehingga hendaknya merapatkan tubuh agar lebih tertutupi. Sebab jika merenggangkan tubuhnya, maka akan terlihat sebagian dari anggota tubuhnya yang seharusnya ditutupi. Rasulullah saw. bersabda,

“Wanita itu adalah aurat.” (HR. Tirmidzi)
Dengan landasan hadits inilah Abu Bakar bin Abdurrahman berpendapat, “Segala sesuatu yang nampak dari wanita itu aurat sampai kukunya pun demikian.” Demikian dengan auratnya di depan seorang laki-laki lain, semuanya adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan, karenanya wanita disebut dengan aurat.(Aunul ma’bud: 11/41)
Saat Ruku

Ketika posisi ruku dalam shalat, bagi pria diperintahkan agar menjauhkan kedua tangannya dari lambungnya, meletakan tangannya di atas lutut lalu merenggangkan jari jemarinya. Hal ini sebagaimana telah disebutkan dalam hadits Abi Mas’ud,

Dari Abi Mas’ud Uqbah bin Amru, bahwasannya dia melakukan ruku: dia jauhkan kedua tangannya dari lambungnya, meletakkan tangan di atas lututnya, dan merenggangkan jari jemarinya di atas lututnya. Lalu dia berkata, “Demikianlah aku melihat Rasulullah saw. melaksanakan shalat.” (HR. Ahmad Abu Daud dan Nasa’i)
Lain halnya dengan wanita, mereka disunahkan agar merapatkan tubuhnya saat ruku, tidak menjauhkan antara kedua tangan dengan lambungnya, sehingga dalam kondisi ruku pun tetap ia lebih tertutup karena baginya seperti itu adalah aurat. (al-Mugni:2/258)

Saat sujud
Demikian dengan posisi sujud. Bagi laki-laki mesti mengangkat sikunya sehingga kelihatan bagian ketiaknya. Dalam sebuah hadits disebutkan,

Dari Bara ia berkata, telah bersabda Rasulullah saw., “Bila engkau sujud, maka letakkanlah telapak tangan dan angkatlah sikumu.” (HR. Muslim)
Hadits ini jelas telah menentukan posisi sujud bagi laki-laki, yang hikmahnya agar posisi dahi dan hidung tetap di atas bumi dan jauh dari sikap kemalasan. Beda dengan wanita, mereka disunahkan agar merapatkan badannya ke bumi. Sebagaimana Hadits Zaid bin Abi Habib yang diriwayatkan Imam Abu Daud,

“Dari Zaid bin Abi Habib, bahwa Nabi n pernah melewati dua orang wanita yang sedang melaksanakan shalat. Maka beliau bersabda, “Bila kalian berdua sujud, hendaknya sebagian tubuh dirapatkan ke bumi, karena dalam hal ini wanita tidak seperti laki-laki.” (Subulussalam: 1/351)

Saat Duduk
Yang ketiga ketika posisi duduk, wanita hendaknya duduk bersilang dan merapatkan pahanya Dalam hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan Imam Baihaqi disebutkan,

“Dari Ibnu Umar disebutkan, bahwa Rasulullah saw. telah memerintahkan wanita muslimah untuk duduk bersilang kakinya dalam shalat.” (Sunan Baihaqi al-Kubra: 2/222)

Ali bin Abi Thalib ra. Berkata, “Apabila wanita muslimah mengerjakan shalat, maka hendaknya duduk dengan kaki bersilang di atas paha dan merapatkan pahanya.” Dengan nada serupa Khalid bin Lajlan berkata, “Kalian para wanita diperintahkan agar duduk dengan kaki bersilang di atas paha dalam shalat, dan janganlah duduk menyerupai laki-laki di atas pangkal pahanya.” (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah: 1/240)

AURAT WANITA

Mungkin sebagian wanita belum tahu apa sebenarnya aurat itu….
Berkaitan dengan hukum aurat perempuan secara jelasnya telah dinyatakan oleh Allah Taala dalam Al-Qur’an sebagai satu perintah dan kewajipan yang harus dilaksanakan oleh hambaNya yang mukmin mengikut keadaan dan situasi yang tertentu. Adalah menjadi satu kemestian “WAJIB” bagi setiap wanita akur dengan perintah Allah untuk memakai menutup kepala mereka dan jika perlu termasuk juga mukanya tanpa banyak soal dan tanpa alasan-alasan yang bodoh. Kiranya ada di antara mereka yang ingkar dengan perintah yang sudah termaktub dalam Kitabullah, ingatlah siksaan Allah adalah amat keras buat mereka!!!!!!. Sebagai melaksanakan kewajiban untuk menyebarkan yang HAQ ini, maka suluk bentangkan di sini dalil dan nas yang berkaitan dengan KEWAJIPAN MENUTIP AURAT bagi setiap wanita Islam yang mengaku beriman dengan Kitab Allah dan Rasulnya. Antaranya ialah sebagaimana berikut;

Nas Pertama

“Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka, atau bapa mereka atau bapa mertua mereka atau anak-anak mereka, atau anak-anak tiri mereka, atau saudara-saudara mereka, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang lelaki, atau anak bagi saudara-saudara mereka yang perempuan, atau perempuan-perempuan Islam, atau hamba-hamba mereka, atau orang gaji dari orang-orang lelaki yang telah tua dan tidak berkeinginan kepada perempuan, atau kanak-kanak yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan; dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka; dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu berjaya.” [Surah An-Nur:31}

Nas Kedua

“Wahai Nabi, suruhlah isteri-isterimu dan anak-anak perempuanmu serta perempuan-perempuan yang beriman, supaya melabuhkan pakaiannya bagi menutup seluruh tubuhnya (semasa mereka keluar); cara yang demikian lebih sesuai untuk mereka dikenal (sebagai perempuan yang baik-baik) maka dengan itu mereka tidak diganggu. Dan (ingatlah) Allah adalah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.” [Surah Al-Ahzab:59]

Nas Ketiga {Dari Kitab-kitab karangan Ulama Muktabar]

1. Aurat antara muslimat dan bukan muslimat.
Khilaf ulama’ dalam mentafsirkan kalimah `auNisaa’ ihinna’ dalam ayat 31 surah anNuur (24).
Menurut Tafsir Fakhrur_Razi, Jld 23, ms 207 menyatakan jumhur ulama’ mentafsir kalimah itu sebagai wanita-wanita Islam sahaja. Dari tafsir Qurthubi (Jld 12, ms 233) juga mentafsirkan kalimah “aunisaa’ihinna” itu sebagai wanita muslimah sahaja.

Ini bermakna aurat wanita dihadapan wanita bukan Islam ialah muka dan dua tapak tangan. Imam Qurthubi membawa hujah perintah Umar alKhattab RA kepada Gabnurnya, Abu Ubaidah alJarrah supaya tidak membenarkan wanita Islam mandi
bersama wanita ahli Zimmah di permandian awam.

Pandangan yang agak berlainan dari pandangan jumhur ialah pendapat Ibn Arabi (Ahkamul Qur’an, Jld 3, ms 326)
beliau berpendapat maksud `aunisaa’ihinna’ (wanita mereka) itu bermaksud semua wanita yang baik akhlaqnya dan baik hubungannya dengan wanita muslimah. Ini bermakna wanita Islam boleh membuka auratnya kepada wanita yang baik akhlaknya dan menjalin hubunan baik dengan mereka. Ia termasuk wanita bukan Islam. Jika wanita itu buruk akhlaknya termasuk wanita Islam sendiri, maka wanita Islam tidak boleh membuka auratnya. Syaikh Ali Asyhabuni (mufassir baru dari Saudi (Tafsir Asyabuni) menyokong pendapat Ibn Arabi.

MASALAH PERTAMA:
Hukum lelaki yang baligh melihat perempuan ajnabi. Di bawah ini saya nyatakan beberapa masalah di sekitar hukum ini:

a) Haram melihat kepada aurat perempuan yang ajnabi. Aurat perempuan di hadapan lelaki ajnabi sebagaimana yang telah disepakati oleh jumhur fuqahak ialah seluruh tubuh badannya kecuali muka dan dua tapak tangan.

b) Fuqahak telah berselisih pendapat mengenai muka dan dua tapak tangan perempuan ajnabi, adakah ia aurat atau tidak.

Menurut sebahagian ulamak, kedua anggota ini adalah aurat yang wajib ditutup samada ia menimbulkan fitnah ataupun tidak, atau samada akan menaikkan syahwat kepada lelaki yang melihat ataupun tidak.

Sebahagiannya pula berpendapat bahawa kedua anggota ini bukanlah aurat yang wajib ditutup. Tidak diharamkan bagi seorang lelaki melihatnya.

Walaubagaimanapun mereka ini bersepakat mengatakan bahawa keduanya haram dilihat apabila akan menimbulkan fitnah. Ini bermakna mereka bersetuju mengatakan haram hukumnya bagi lelaki ajnabi melihat kedua anggota ini apabila menimbulkan fitnah atau melihat keduanya dengan syahwat.

c) Pengharaman melihat aurat bukan sahaja pada anggota yang masih berhubung atau melekat dengan tubuh badan, bahkan diharamkan juga melihatnya setelah ia bercerai dari tubuh badan seperti kuku, rambut, bulu kemaluan dan lain-lain.

Wajib menyimpan anggota atau bulu yang telah bercerai dari tubuh badan dari dilihat oleh lelaki atau perempuan ajnabi.

MASALAH KEDUA: Kanak yang belum mengerti tentang aurat perempuan melihat perempuan.

Perempuan tersebut wajib menutup anggota di antara pusat dan lutut sebagaimana auratnya di hadapan mahram.

MASALAH KETIGA: Lelaki yang hampir baligh.

Lelaki yang hampir baligh diharamkan melihat aurat perempuan yang ajnabi sebagaimana lelaki yang telah baligh (lihat masalah pertama).

MASALAH KEEMPAT: Lelaki yang terpotong zakarnya dan buah pelirnya

Lelaki ini diharuskan melihat perempuan yang ajnabi sebagaimana dia melihat mahramnya, iaitu selain anggota di antara pusat dan lututnya.

MASALAH KELIMA: Lelaki yang hanya mempunyai zakar sahaja tanpa buah pelir atau yang mempunyai buah pelir sahaja tanpa zakar

Lelaki ini seperti hukum lelaki yang normal, iaitu yang mempunyai zakar dan buah pelir (lihat masalah pertama).

MASALAH KEENAM: Hamba lelaki melihat tuannya (perempuan)

Jika hamba tersebut bersifat adil (tidak fasik) dan tuannya juga bersifat adil, maka harus melihatnya sebagaimana melihat mahram, iaitu selain dari anggota di antara pusat dan lutut.

MASALAH KETUJUH: Melihat hamba perempuan

Melihat hamba perempuan sebagaimana hukum melihat perempuan yang merdeka (lihat masalah pertama).

MASALAH KELAPAN: Melihat kanak-kanak perempuan

Harus melihat seluruh anggota kanak-kanak perempuan yang belum sampai peringkat diingini oleh lelaki kecuali pada farajnya.
Diharuskan kepada ibubapa, penjaga atau perempuan yang menyusukan kanak-kanak perempuan yang masih dalam peringkat menyusu dan asuhan melihat dan menyentuh farajnya. Kerana dalam usia begini, ibu ataupun pengasuh terpaksa membasuh farajnya dari najis, mengubatinya atau sebagainya.

Melihat dan menyentuh zakar kanak-kanak lelaki adalah sebagaimana faraj kanak-kanak perempuan.

MASALAH KESEMBILAN: Melihat perempuan yang telah tua

Imam al-Ghazali berkata bahawa hukum melihat perempuan ajnabi yang telah tua adalah sebagaimana hukum melihat perempuan yang masih muda.

MASALAH KESEPULUH: Melihat perempuan yang mahram (yang haram dinikahi seperti ibu, saudara perempuan dan sebagainya)

Seorang lelaki diharamkan melihat anggota di antara pusat dan lutut mahramnya. Dia diharuskan melihat selain dari anggota tersebut.

Dia juga diharuskan berkhalwat dan bermusafir bersama mahramnya.

MASALAH KESEBELAS: Lelaki melihat lelaki

Seorang lelaki diharuskan melihat selain dari anggota di antara pusat dan lutut lelaki lain.

MASALAH KEDUABELAS: Melihat lelaki muda belia yang belum ditumbuhi janggut atau bulu (amrad)

Haram melihatnya dengan syahwat.

MASALAH KETIGABELAS: Perempuan melihat perempuan

Sebagaimana hukum lelaki melihat lelaki (lihat masalah kesebelas).

MASALAH KEEMPATBELAS: Perempuan kafir melihat perempuan muslimah

Diwajibkan kepada perempuan muslimah menutup auratnya di hadapan perempuan kafir kerana tidak, berkemungkinan dia akan menceritakan auratnya kepada lelaki kafir.

MASALAH KELIMABELAS: Perempuan melihat lelaki yang ajnabi

Sebagaimana hukum lelaki melihat perempuan yang ajnabi (lihat Masalah pertama).

MASALAH KEENAMBELAS: Perempuan yang fasik melihat perempuan yang terpelihara kehormatannya

Perempuan yang terpelihara kehormatannya wajib menutup auratnya di hadapa perempuan yang fasik kerana melakukan zina atau lebian (hubungan seks antara perempuan dengan perempuan)

MASALAH KETUJUHBELAS: Suami melihat isteri

Di bawah ini adalah masalah yang berhubung kait dengan hukum ini:

a) Harus bagi suami melihat seluruh tubuh badan isterinya atau hamba perempuan yang halal untuknya, tetapi makruh melihat farajnya lebih-lebih lagi batin farajnya.

b) Diharuskan juga menyentuh farajnya. Manakala melihat dan menyentuh duburnya tanpa memasukkan zakar ke dalamnya adalah harus.

c) Pengharusan ini hanya berlaku ketika isterinya masih hidup lagi. Setelah kematiannya, hukumnya adalah sebagaimana melihat mahramnya (lihat masalah kesepuluh).

MASALAH KELAPANBELAS: Isteri melihat suami

Sebagaimana hukum suami melihat isteri (lihat masalah ketujuhbelas).

MASALAH KESEMBILANBELAS: Menyentuh sesuatu yang haram dilihat

Masalah di sekitar hukum ini ialah:
a) Haram menyentuh sesuatu yang haram dilihat sebagaimana yang tercatat di dalam masalah-masalah yang lalu, kerana menyentuh adalah lebih mendatangkan kenikmatan dan kelazatan lagi jika dibandingkan dengan melihat.

b) Haram bagi dua orang lelaki atau dua orang perempuan berbaring di dalam satu kain atau selimut dalam keadaan berbogel dan di atas satu tilam.

Ibubapa atau penjaga wajib memisahkan di antara kanak-kanak lelaki atau perempuan dari tempat tidur ibubapanya. Begitu juga antara adik beradik lelaki dan perempuan.

c) Haram memicit atau mengurut peha lelaki lain tanpa lapik. Jika berlapik, maka diharuskan tetapi dengan syarat tidak dikhuatirkan fitnah dan tidak dengan syahwat.

d) Haram menyentuh mahramnya, begitu juga sesama lelaki atau sesama perempuan sekalipun pada anggota yang harus dilihat seperti pada kaki atau perutnya, termasuk mengusapnya kecuali kerana hajat atau dilakukan kerana timbul dari perasaaan kasih sayang serta bebas dari fitnah dan syahwat.

e) Haram menyentuh muka perempuan yang ajnabi sekalipun diharuskan melihatnya kerana hendak meminang.

f) Hukum berjabat tangan.

i- Seorang lelaki diharamkan berjabat tangan dengan perempuan yang ajnabi. Dalil yang mendasari hukum ini ialah:

Dalil pertama:
Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Saiyidah Aisyah r.a. mengenai bai’ah yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. terhadap beberapa orang perempuan, Aisyah r.a. berkata:
” Demi Allah, tangan baginda tidak menyentuh seorang perempuan pun dalam pembai’atan itu. Baginda hanya membai’at mereka dengan perkataannya: “Benar-benar telah aku bai’at kamu atas hal itu.” (Riwayat Bukhari)

Al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani di dalam kitabnya Fathul Bari berkata:
“Maksud ucapan Rasulullah s.a.w.:
“Benar-benar telah bai’at kamu dengan ucapan.”
adalah ucapan tanpa berjabat tangan sepertimana yang biasa terjadi, di mana lelaki berjabat tangan sewaktu bai’ah dijalankan.

Dalil kedua:
Dari Abdullah bin Amr bin al-As r.a. berkata:
“Rasulullah s.a.w. tidak pernah berjabat tangan tangan dengan perempuan dalam pembai’atan.” (Riwayat Imam Ahmad)

Sunat berjabat tangan antara sesama lelaki atau sesama perempuan ketika bertemu.

Makruh berjabat tangan dengan orang yang mempunyai penyakit kusta.

Haram hukumnya berjabat tangan dengan amrad (lelaki muda yang belum tumbuh misai atau bulu) dengan disertai oleh syahwat.

g) Makruh memeluk dan mengucup kepala sesama lelaki atau sesama perempuan kecuali terhadap orang yang baru sampai dari musafir atau orang yang lama tidak ditemui. Bahkan perkara ini sunat dilakukan.

h) Sunat mengucup tangan orang soleh, warak, berilmu agama atau sebagainya yang dihormati dan dimuliakan dari segi agamanya. Manakala makruh hukumnya melakukan perkara tersebut terhadap orang yang dihormati dari sudut keduniaannya, seperti orang yang berpangkat, orang kaya atau sebagainya.

i) Diharuskan mengucup mayat orang soleh.

j) Sunat mengucup kanak-kanak sekalipun anak orang lain kerana kasih sayang.

k) Sunat berdiri untuk orang yang mempunyai kelebihan di dalam bidang ilmu agama kerana menghormatinya, bukan kerana riyak, membesarkan atau mengagungkannya.

l) Makruh membongkokkan badan terhadap sesiapa sahaja.

KEADAAN KEDUA: MELIHAT DENGAN HAJAT

Berikut ini adalah masalah yang berhubung kait dengan keadan kedua ini, iaitu:

1) Harus melihat muka dan tapak tangan perempuan ajnabi kerana hendak mengahwininya

2) Kerana hendak membeli hamba perempuan.

Diharuskan melihat selain dari anggota di antara pusat dan lutut.

3) Kerana bermuamalat atau berurusan dengan perempuan seperti berjual beli. Yang dibenarkan hanyalah melihat mukanya sahaja untuk mengenalinya.

4) Menjadi saksi, seperti melihat faraj atau zakar kerana menjadi saksi zina atau melihat buah dada kerana menjadi saksi penyusuan.

5) Harus melihat dan menyentuh perempuan ajnabi dengan tujuan berbekam atau mengubatinya, tetapi dengan dua syarat:
a) Pengubatan itu dilakukan di hadapan mahram, suami atau dua orang perempuan yang boleh dipercayai.
b) Tidak terdapat seorangpun perempuan yang boleh mengubatinya.

6) Harus melihat muka perempuan ajnabi dan amrad ketika mengajar dengan syarat:
a) Ketiadaan tenaga pengajar wanita.
b) Berkeuzuran untuk mengajar di balik tabir, sebagai contoh: Ketika mengajar menulis atau menjahit guru terpaksa mengajarnya tanpa tabir.
c) Ada mahram, suami atau dua perempuan yang boleh dipercayai bersama perempuan tersebut.

7) Haram mengajar isteri yang telah ditalak.

Demikian himpunan hukum-kukum yang berkaitan dengan aurat perempuan yang dikutip dari Al-Quran, Hadis dan Ulama-ulama yang Muktabar.

Kesimpulannya; tidak syak lagi bahawa WAJIB bagi seorang perempuan menutup kepala dan seluruh tubuh kepada lelaki-lelaki asing.

Sebagai pengakhirnya renungilah firman Allah Taala seperti di bawah, semoga sama-sama kita mendapat peringatanNya;

“Dan tidaklah harus bagi orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan – apabila Allah dan RasulNya menetapkan keputusan mengenai sesuatu perkara – (tidaklah harus mereka) mempunyai hak memilih ketetapan sendiri mengenai urusan mereka. Dan sesiapa yang tidak taat kepada hukum Allah dan RasulNya maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang jelas nyata.” {Surah Al-Ahzab:36}
.
Allahu A’lam

‘Hacker’ Wanita China Lumpuhkan AS

hacwcinSelama ini, AS boleh membanggakan industri persenjataannya. Namun untuk pertahanan cyber, negara adi kuasa juga kewalahan. Apalagi dengan serbuan hacker-hacker nasionalis China. Siapa sangka, motornya seorang wanita.

Serangan cyber ke AS bukan hal baru. Tapi yang terbesar adalah pada 4 Mei 2001, saat situs Gedung Putih yang merupakan simbol pemerintahan mendapat serangan. Situs itu mulai mengeluarkan pesan error pada jam 8 pagi. Siang harinya, whitehouse.gov benar-benar mati total, akibat serangan yang disebut distributed denial-of-service (DDoS).

Dari kejauhan hacker menyerang server Gedung Putih dengan ribuan permintaan. Akibatnya, situs itu menjadi macet.

Hacker China sejak awal memang menjadi masalah bagi AS. Terlebih saat pesawat AS, EP-3 reconnaissance yang terbang di selatan pantai China bertabrakan dengan pesawat jet serbu China F-8.

Pilot AS berhasil lolos dari maut, tapi pilot China tidak berhasil menyelamatkan diri. Akibat peristiwa itu, hacker China naik pitam. Meskipun bukan serangan yang pertama, tapi gelombangan serangan itu adalah yanag paling besar. Bahkan New York Times menyebutnya sebagai Perang Dunia hacker.

Beberapa serangan jelas-jelas menunjukkan dilakukan oleh hacker dari China. “Hancurkan Imperialisme Amerika [sic]! Serang arogansi anti China!” demikian pesan yang terpampang di salah satu situs Departemen Dalam Negeri AS.

“CHINA HACK!” juga muncul di halaman muka departemen buruh. “I AM CHINESE,” tulis seseorang di situs angkatan laut AS. Hacker dari Arab Saudi, Argentina dan India juga melakukan ulah yang sama.

Serangan hacker China tidak terkoordinasi, namun intensitasnya tidak bisa dianggap sebelah mata. Selama dua tahun terakhir, mereka berhasil menyadap file penting milik NASA. Selain itu juga menguasai sistem komputer kritis milik Departemen Perdagangan. Sementara yang dianggap mendukung kemerdekaan Tibet termasuk situs CNN juga dilumpuhkan.

Sungguh tidak diyana salah satu kelompok hacker terbesar di China dipimpin oleh perempuan bernama Xiao Tian. Dia adalah pemimpin kelompok hacker yang disebut China Girl Security Team. Anggota kelompok yang mencapai 2.200 orang itu, bertanggung jawab pada berbagai aksi penggantian halaman depan berbagai situs.

Selama bertahun-tahun komunitas intelijen AS telah mengkhawatirkan, pemerintah China melakukan serangan ke infrastruktur cyber. Lalu apakah hacker ini dikoordinir oleh pemerintah China? James C Mulvenon, direktur lembaga think tank pertahanan Center for Intelligence Research and Analysis mengatakan tindakan hacking China lebih digalang oleh warga sipil yang melakukan patriotic hacking.

Di China, menjadi hacker tampak jadi cita-cita anak mudanya. Perkembangan hacker sangat didukung oleh situasi, banyak terdapat majalah, serta terdapat banyak kelompok hacker yang saling bertukar keahlian.

Survei Shanghai Academy of Social Sciences pada 2005 terhadap anak SD apakah lebih hacker atau bintang rock, 43% mengatakan lebih memuja hacker China. Bahkan sepertiganya mengatakan ingin menjadi salah satunya.

Keinginan menjadi hacker itu dipicu oleh nasionalisme yang didorong oleh perkembangan internet. Generasi pascaTiananmen tak lagi giat di demokratisasi, tapi nasionalisme lebih ditunjukkan dengan beroposisi terhadap negara barat. Tapi pejuang internet China yang menyebut dirinya sebagai red hacker bertindak sendiri, namun secara tidak langsung seperti atas nama pemerintah China.

Hacker China juga gila perhatian dengan memposting kesuksesannya, menyediakan email, URL, bahkan nomor ponsel. Hacker bisa ditemui di berbagai situs, misalnya saja hackbase.com, hacker123.com, atau hack8.cn.

Pada Februari, Presiden Barack Obama meluncurkan program penyelidikan 60 hari keamanan cyber guna memperkuat pertahanan internetnya. Komisi China Economic and Security Review dalam laporannya menyebut, spionase cyber China bisa menjadi ancaman terbesar pada teknologi AS.

Komisi itu menyebut pusat listrik serta air bisa menjadi target, selain itu air traffic control bandar udara, juga perbankan. Menyadari hal itu, pada Februari Presiden Obama mengajukan permintaan dana sebesar US$355 juta untuk mengamankan infrastrukltur cyber di sektor pemerintan maupun swata. Apakah ini akan berhasil menghentikan hacker nasionalis dari China? [I4]

Sumber: Inilah.com