Canggih dan Mutakhir Penemuan NASA Terbaru (Tes Mata sederhana)

Test Mata sederhana saya harap ini berhasil pada anda

Silah kan ikuti petunjuk

1. Pertama tutup salah satu mata anda.
2. Arahkan Mouse Pointer anda pada bintang merah *.
3. Clik Kanan Pada Bintang merah tsb *.
4. Lalu Pilih Select All
5. Anda AKan LIat Hasilnya.

                           
                             *

TES  RESULT:

 

 

 

 

MATA ANDA BAIK-BAIK SAJA TAPI MAAF……

OTAK ANDA AGAK SEDIKIT TIDAK NORMAL…?

KARENA ANDA SERING NYASAR KE BLOG INI UNTUK MENCARI GAMBAR FORNO DAN VIDEO PORNO…..

 

TOBAT YA…

SEBELUM MALAIKAT MAUT MENJEMPUT ANDA….

 

JANGAN MARAH YA…

CUMA BECANDA…… J J J

DOA SEBELUM BERHUBUNGAN SEX DENGAN ISTRI SENDIRI…

Mungkin banyak orang yang selalu lupa membaca do’a saat akan berhubungan intim dengan istrinya sendiri.  Maka tak heran jika dari hasil hubungan itu banyak terlahir anak-anak yang tidak taat kepada perintah Allah. Karena pada proses awalnya sudah dibantu oleh setan.Baca artikel saya tentang Hati-hati jamgan berjima’ dengan setan.

Maka sebelum melakukan hubungan Rasulullah SAW mengajarkan doa yang singkat ini . Walaupun singkat banyak dari kita yang tidak hafal.

Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah :”Seandainya salah seorang dari kamu apabila mendatangi (menyetubuhi) istrinya ia
mengucapkan :
Bismillahi, Allahumma jannibnasy syaithana wajannibisy-syaithana maa razaqtanaa

[Dengan Nama Allah, ya Allah jauhkan setan dari kami dan jauhkan setan dari (anak) yang Engkau berikan kepadakami],
maka sesungguhnya jika ditakdirkan diantara keduanya didalam persetubuhan itu akan mendapat anak,
niscaya setan tidak akan membahayakan anak itu selamanya. ( Hadits Shahih riwayat : Bukhari 1/45,6/141, Muslim 4/155, Abu Dawud no. 2161, Darimi 2/145, Ibnu Majah no. 1919, Baihaqi 7/149, Ath-Thiyalis no.
2705, Ahmad 1/216, 217, 220, 243, 283, 286, Termidzi, Nasa’i, Ibnu Abi syaibah)

Fiqh Hadits :
a. Disunnatkan bagi orang yang hendak bercampur dengan istrinya, terlebih dahulu mengucapkan do’a perlindungan sebagaimana diajarkan Nabi. Faedahnya,
pertama : Supaya suami-istri itu dijauhkan dari Allah dari berbagai macam gangguan dan tipu daya setan didalam melepaskan hajatnya masing-masing. Sebab tidak jarang suami-istri yang habis berkumpul kemudian
bertengkar satu sama lain saling menyalahkan yang akhirnya berlarut-larut. Faedah yang kedua : Jika ditakdirkan akan mendapatkan anak dari hasil persetubuhan itu, maka setan tidak akan membikin
bahaya terhadap anak itu selamanya.

b. Sabda Nabi : “Niscaya setan tidak akan membahayakan anak itu selamanya”, maksudnya setan tidak akan sampai membuat anak itu menjadi kufur. Ini disebabkan berkah nama Allah.

Wallahu ‘alam bi showab.

Hati-Hati Jangan Berjima’ dengan Jin

Dunia ghaib termasuk dunia jin memang ada dan kita manusia hanya diberikan
pengetahuan sedikit tentangnya. Diantaranya adalah kehidupan jin, serangan jin
serta tindakan pengobatan dan pencegahan atas serangan mereka.

Jin bisa mengganggu manusia dari hanya penampakan suara atau angin atau bayngan
yang menakutkan hingga bisa menyebabkan kesurupan termasuk kasus anaknya pak
Rizqirad merupakan gangguan jin. Gangguan bisa dari beberapa sebab, bisa dari
tempat gangguan tersebut atau bisa berasal dari prilaku kita sendiri (kondisi
internal) sehari-harinya.

Keduanya punya solusi sendiri dalam Islam.

TEMPAT GANGGUAN (Tempat Kejadian Perkara)

Yang pertama TEMPAT kejadian perkara gangguan jin bisa dimana saja di sekolah
ataupun di rumah, dimana tempat tersebut terdapat hal-hal yang bisa mengundang
jin untuk menetap atau cuma singgah misalnya ditempat itu ada satu atau
beberapa GAMBAR dan patung yang bernyawa (makhluk hidup). Hal itu bisa menjadi
sarana/media persinggahan jin untuk menetap dan mengganggu manusia sebagaimana
petunjuk dari Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa salam:

Dari Ibnu Abbas Radiyallahu `anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu `alaihi
wasalam bersabda : “(Sesungguhnya kami para) Malaikat tidak masuk rumah yang di
dalamnya ada anjing dan gambar” (HR Bukhari & Muslim, dengan lafadz Muslim).

Dalam riwayat Ibnu Umar “(Sesungguhnya kami para) Malaikat tidak masuk rumah
yang di dalamnya ada anjing dan gambar.”.

Dari Zaid bin Khalid dari Abi Talhah secara marfu’ : “Malaikat tidak akan masuk
rumah yang di dalamnya ada anjing dan patung (gambar).” (HR Muslim).

Imam Nasa’i meriwayatkan dengan lafadz : “Jibril minta izin kepada Nabi
Shallallahu `alaihi wasalam, beliau berkata : Masuklah. Kata Jibril: Bagaimana
saya akan masuk sedangkan dalam rumah Anda ada tirai brgambar? Maka jika Anda
potong kepala-kepalanya, atau Anda jadikan hamparan yang dipijak (dihinakan
setelah dipotong, red – barulah Jibril akan masuk). Karena sesungguhnya kami –
para malaikat – tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya ada gambar-gambar.”
(HR Abdur Razaq, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan beliau mengatakan Hasan Shahih
dan Ibnu Hibban mensahihkannya).

Jika malaikat tidak bisa masuk maka sudah bisa dipastikan bahwa jin syaithon
yang akan leluasa masuk karena jin syaithon paling takut dengan malaikat yang
memasuki dan mengelilingi rumah orang mukmin yang ahli ibadah lagi bertauhid.
Sebenarnya aturan dari Nabi kita tentang gambar ini masih banyak.

Lalu hal lain selain gambar adalah penggunaan tempat itu sendiri. Jika
disekitar tempat itu ada kegiatan yang tidak sesuai dengan syar’ie bisa pula
mengundang syaithon datang ke tempat itu. Misalnya WC Umum tersebut selain buat
buang air juga tempat buang janin hasil berzina, transaksi narkoba, transaksi
judi dan kemaksiatan lain yang mengundang syaithon datang kesana.

KONDISI INTERNAL MANUSIANYA

Sebenarnya WC tanpa ada kegiatan kemaksiatan yang tersebut diataspun sudah
disinyalir ada satu atau lebih jin yang menetap disana. Hal ini sesuai dengan
petunjuk Nabi yang menyuruh ummatnya berdoa sebelum masuk WC:
[ÈöÓúãö Çááåö] Çóááøóåõãøó Åöäøöíú ÃóÚõæúÐõ Èößó ãöäó ÇáúÎõÈõËö æóÇáúÎóÈóÇÆöËö.
“Dengan nama Allah. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari godaan
setan laki-laki dan perempuan”.
(HR. Al-Bukhari 1/45 dan Muslim 1/283. Sedang tambahan bismillaah pada
permulaan hadits, menurut riwayat Said bin Manshur. Lihat Fathul Baari 1/244.
)Maka bacalah doa tersebut ketika kaki kiri masuk WC atau kamar mandi untuk
melindungi kita semua dari gangguan jin.Itu salah satu kondisi internal yang
mengundang gangguan jin disamping kondisi internal lainnya yang mengundang:

Jin ikutan makan karena kita dan keluarga tidak baca doa di awal dan diakhir
makan- jin ikut tidur bersama kita bahkan dapat mengganggu lewat mimpi,
mengencingi telinga kita agar tak dengar azan, menindih badan kita agar berat
bangun malam dan shubuh, meniup mata kita agar tetap ngantuk karena kita tidak
membaca doa dan dzikir sebelum tidur dan saat bangun tidur.-jin ikut -maaf-
ber-jima’ karena kita tidak baca doa sebelum jima seperti yang dicontohkan Nabi
sholallahu ‘alaihi wa salam.- dlsb

Maka kesimpulannya mengamalkan amal sholih
berupa ibadah wajib dan sunnah sesuai perintah dan larangan Allah dan Rosul-Nya
maka Jin syaithon akan segan mengganggu kita terutama jika kita memiliki TAUHID
yang kuat.Contoh yang paling nyata sepanjang sejarah dalam kasus ini terdapat
seorang shahabat Nabi yang paling ditakuti oleh syaithon adalah Umar bin
Khaththab rhodiallahu anhu. Di saat beberapa orang di zaman kekhalifahannya
mulai menumbuhkan kemusyrikan ternyata Umar membabatnya. Itu tergambar dalam
riwayat dimana Umar melarang orang mengkeramatkan suatu pohon yang dulunya
merupakan tempat para mujahidin menggantungkan pakaian perangnya.
Maka kondisi internal inilah yang perlu diintensifkan yakni berusaha semampu
mungkin mengamalkan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dan mengamalkan
sunnah-sunnah yang dianggap remeh padahal melindungi kita dari gangguan ghaib
dari syaithon jin dan manusia (tukang sihir atau dukun) seperti sunnah-sunnah
tidur, masuk WC/kamar mandi, berjima’ (hubungan suami istri), membuang air
panas, bersuci dengan batu saat buang air besar, tidak memajang gambar dan
patung makhluk hidup disetiap ruangan dlsb.

Itu semuanya terkait dengan ketaatan dan keimanan kita kepada Allah dan
Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa salam yang terkandung dalam pengertian haqqo
tuqotihi (Taqwa yang sesungguhnya)

Wallahu’alam bishshowwab

Vagina Dikhitan Bagi Wanita Wajibkah…?

Di antara hal yang sering diperbincangkan di masyarakat adalah masalah khitan bagi wanita, apa hukumnya? Berikut penjelasan yang mudah-mudahan bermanfa’at bagi kita semua.

Definisi Khitan

Di dalam kamus bahasa Arab terkenal ‘Lisan al-‘Arab’ (materi: Khatana) dinyatakan, kata Khitan berasal dari kata kerja Khatana al-ghulama wa al-jariyata, yakhtinuhuma, khitnan. Bentuk Ism (Kata benda)-nya adalah Khitan dan Khitanah. Seorang yang dikhitan (disunat) disebut makhtun. Ada yang mengatakan, al-khatnu untuk laki-laki sedangkan untuk wanita disebut al-khafdhu. Sedangkan kata khatiin artinya orang yang dikhitan, baik laki-laki mau pun wanita. Abu Manshur mengatakan, ?Khitan adalah letak pemotongan dari kelamin laki-laki maupun wanita.? Dalam hal ini, terdapat hadits masyhur yang berbunyi, (artinya) ?Bila dua khitan (alat kelamin laki-laki dan wanita) telah bertemu, maka telah wajiblah mandi.?

Imam An-Nawawi di dalam Syarah Shahih Muslim (I: 543) berkata, ?Yang wajib bagi laki-laki adalah memotong seluruh kulit yang menutup ujung dzakar hingga terbuka semua ujungnya tersebut. Sedangkan bagi wanita adalah memotong sedikit bagian dari kulit yang di atas farji.?

Al-Hafizh Ibn Hajar di dalam kitabnya Fath Al-Bari (X: 340) berkata, ?Al-Khitan adalah bentuk mashdar dari kata kerja Khatana, yaitu Qatha’a (memotong). Sedangkan Al-Khatnu adalah memotong sebagian tertentu dari anggota tertentu.?

Al-Hafizh Ibn Hajar juga ber-kata, ?Imam an-Nawawi berkata, ?Khitan bagi laki-laki dinamakan I’dzar sedangkan bagi wanita dinamakan Khafdh.? Abu Syammah berkata, ?Menurut ahli bahasa, untuk sebutan semua (bagi laki-laki dan wanita) digunakan I’dzar sedangkan Khafdh khusus bagi wanita.?

Hadits-Hadits tentang Khitan Wanita

1. Dari Abu Hurairah, ia berkata, ?Aku mendengar Nabi bersabda, ‘Fitrah itu ada lima; khitan, mencukur bulu kemaluan, menggunting kumis, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak.? (HR.Imam Muslim, Abu Daud, an-Nasa’i dan Ibn Majah)

Hadits ini sering dimuat dalam penjelasan mengenai khitan bagi wanita namun untuk dijadikan sebagai dalil khusus bagi khitan wanita tidak menyatakan secara terang-terangan dan gamblang, kecuali dari sisi makna umum yang dikandungnya bilamana diga-bungkan dengan hadits lainnya, ?Sesungguhnya kaum wanita adalah sekandung kaum laki-laki.?

Sedangkan hadits-hadits yang khusus menyinggung tentang khitan wanita, semuanya tidak terlepas dari sorotan dan cacat. Di antaranya:

2. Hadits yang dikeluarkan Abu Daud dari Ummu ‘Athiyyah, bahwasanya seorang wanita berkhitan di Madinah, lantas Nabi berkata kepadanya, ?Janganlah engkau bebani dirimu sebab hal itu lebih menguntungkan wanita dan lebih dicintai suami.? Namun pada isnad hadits ini terdapat Muhammad bin Hassan. Abu Daud berkata, ?Seorang Majhul (tidak dikenal identitasnya).? Ia juga berkata, ?Ia meriwayatkan hadits Mursal.? Beliau kemudian melemahkan hadits ini.

3. Terdapat pendukung lain untuk hadits Ummu ‘Athiyyah di atas yang dimuat oleh al-Khatib al-Baghdadi (V: 327) dari jalur Muhammad bin Sallam al-Jumahi, dari Ummu ‘Athiyyah tetapi di dalam isnadnya terdapat Za’idah bin Abi ar-Raqqad, seorang periwayat hadits Munkar sebagaimana dikata-kan al-Hafizh Ibn Hajar di dalam kitabnya Taqrib at-Tahdzib.

4. Mengomentari ucapan Abu Daud terhadap hadits Ummu ‘Athiyyah, ?Ia meriwayatkan hadits Mursal?; pengarang buku ‘Aun al-Ma’bud, syarah Sunan Abi Daud berkata, “Demikian juga diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak, ath-Thabarani, Abu Nu’aim dan al-Baihaqi dari Abdul Malik bin Umair, dari adh-Dhahhak bin Qais, ?Di Madinah terdapat seorang wanita yang dikenal dengan Ummu ‘Athiyyah, lalu Rasulullah berkata kepadanya,?” (lalu menyebutkan teks hadits Ummu ‘Athiyyah di atas).? Kemudian Syaikh al-Mubarakfuri, pengarang ‘Aun al-Ma’bud menyebutkan bahwa hadits tersebut memiliki dua jalur lainnya, salah satunya diriwayatkan Ibn ‘Adiy, dari hadits Salim bin Abdullah bin Umar secara Marfu’. Jalur lainnya diriwayatkan al-Bazzar, dari hadits Nafi’ bin Abdullah bin Umar secara Marfu’ akan tetapi di dalam isnadnya (yaitu lafazh al-Bazzar) terdapat Mandal bin Ali, seorang periwayat lemah. Sedangkan dalam isnad Ibn ‘Adiy terdapat Khalid bin Amr al-Qurasyi, seorang periwayat yang lebih lemah dari Mandal.

5. Kemudian pengarang kitab ‘Aun al-Ma’bud mengomentari, “Dan hadits tentang khitan wanita diriwayatkan dari banyak jalur yang semuanya adalah Dha’if (lemah) dan cacat, tidak boleh berhujjah dengannya.!”

6. Seperti yang dinukil dari Ibn ‘Abd al-Barr, ia berkata, “Tidak terdapat Khabar (hadits) yang dapat dijadi-kan acuan dalam masalah khitan (wanita) dan tidak pula terdapat sunnah yang layak diikuti.”

7. Hadits lainnya adalah hadits Usamah al-Hadzali, ia berkata, ?Rasulullah bersabda, ?Khitan itu adalah sunnah bagi kaum laki-laki dan kehormatan bagi kaum wanita,’ namun ini adalah hadits lemah sebab ia dimuat di dalam Musnad Ahmad (V:75) di mana berasal dari jalur Hajjaj bin Artha’ah yang merupakan periwayat lemah dan seorang yang dikenal sebagai Mudallis.

8. Ibn Hajar di dalam Fath al-Bari (X: 341) menyebutkan beberapa Syawahid (hadits-hadits pen-dukung), di antaranya hadits Sa’id bin Bisyr, dari Qatadah, dari Jabir, dari Ibn ‘Abbas. Namun tentang periwayat bernama Sa’id masih diperselisihkan. Abu asy-Syaikh juga meriwayatkan hadits Ibn ‘Abbas itu dari jalur lain. Demikian pula, al-Baihaqi mengeluarkannya juga dari hadits Abu Ayyub al-Anshari.

Menurut Syaikh Musthafa al-‘Adawi, setiap jalur periwayatan hadits-hadits tersebut tidak terlepas dari sorotan dan cacat.

9. Di dalam Musnad Ahmad (IV: 217) terdapat hadits dari jalur al-Hasan yang ketika ditanya mengenai sebab tidak datang ke acara khitanan, ia berkata, ?Pada masa Rasulullah, kami tidak mendatangi acara khitanan.? Mengenai hadits ini, Ibn Hajar membantahnya dengan menyatakan bahwa ia berkenaan dengan khitan seorang budak wanita, sebagaimana juga terdapat dalam sebagian jalur yang diriwayat-kan Abu asy-Syaikh. Akan tetapi hadits ‘Utsman tersebut tidak valid karena di dalam isnadnya terdapat Muhammad bin Ishaq dan al-Hasan yang keduanya dikenal sebagai Mudallis. Dalam teks hadits terse-but, keduanya meriwayatkannya secara ‘An-‘anah (menggunakan lafazh:’An). Juga terdapat Abdullah bin Abi Thalhah bin Kuraiz yang menurut Ibn Hajar, “Maqbul.”

Pendapat Para Ulama Mengenai Masalah Khitan Wanita

Di antara pendapat-pendapat tersebut:

1. Imam an-Nawawi (Syarah Muslim, I: 543) berkata, “Khitan hukum-nya wajib menurut Imam asy-Syafi’i dan kebanyakan para ulama, sedangkan menurut Imam Malik dan para ulama yang lain adalah sunnah. Menurut Imam asy-Syafi’i, ia wajib bagi kaum laki-laki dan wanita juga.”

2. Ibn Qudamah berkata di dalam al-Mughni (I:85), “Ada pun khitan, maka ia wajib bagi kaum laki-laki dan kehormatan bagi kaum wanita. Ini merupakan pendapat banyak ulama?” Imam Ahmad berkata, “Bagi laki-laki lebih berat (ditekan-kan).” Kemudian beliau menyebut-kan alasannya sedangkan bagi wanita menurutnya lebih ringan. (al-Mughni, I: 85)

3. Ibn Taimiyah (Majmu’ al-Fatawa, XXI: 114) ketika ditanya tentang khitan wanita, beliau menjawab, “Alhamdulillah; Ya.! Wanita dikhitan dan caranya adalah dengan memotong bagian paling atas kulit yang dikenal dengan sebutan ‘Arf ad-Dik (jengger ayam jantan).” Kemudian beliau menyebutkan hadits mengenai hal itu (Hadits Usamah al-Hadzali di atas) akan tetapi hadis tersebut adalah lemah.

3. Ibn Hajar juga menukil pendapat Syaikh Abu Abdillah bin al-Hajj di dalam kitab al-Madkhal yang menyatakan adanya perbedaan terhadap khitan wanita di mana tidak dapat ditekankan secara umum, tetapi harus dibedakan antara wanita timur dan Arab. Lalu beliau menyebutkan alasan-alasannya.

Mengenai pendapat-pendapat di atas, Syaikh Musthafa al-‘Adawi mengatakan, ?Alhasil, apa yang dipaparkan mengenai masalah khitan tersebut tidak terdapat dalil yang shahih dan Sharih (secara terang-terangan) yang mewajibkan wanita berkhitan. Karena itu, siapa di antara mereka yang melakukannya, maka itu adalah haknya dan bila tidak juga tidak ada masalah, Wallahu Ta’ala a’lam.?

(SUMBER: Jami’ Ahkam an-Nisa’ karya Syaikh Mushthafa al-‘Adawi, juz I, hal.17-23)

Mr “P” di Khitan Menambah Kejantanan

Bagi umat Muslim, sunat wajib hukumnya bagi anak laki-laki. Namun bagi komunitas non muslim, menurut sebuah survey, keputusan para orangtua menyunati anak laki-lakinya semata karena alasan kosmetik, atau kelumrahan saja.

Banyak yang menyatakan khitan penting bagi kesehatan, termasuk di AS. Bahkan American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan perlunya khitan bagi anak laki-laki. Namun nyatanya di AS, yang laju khitan setelah kelahiran bagi anak laki-laki mencatat rata-rata tertinggi, masih menjadi perdebatan perlu/tidaknya sunat.

“Di Amerika, kontroversi apakah khitan benar-benar dibutuhkan, masih berlangsung, kata Jack Sherman, M.D., associate chairman of pediatrics di Nassau County Medical Center in East Meadow, N.Y.

“Pada tahun 1971 dan 1975, AAP mengatakan hal itu tak diperlukan. Namun belakangan mereka mengamandemen kebijakan mereka. Pernyataan kebijakan AAP pada tahun 1999, didasarkan review data selama 40 tahun, mencatat bahwa khitan berpotensi mendatangkan manfaat secara medis. Nah.

Risiko utama yang dikaitkan dengan penis yang tak dikhitan adalah penile cancer, sebuah kondisi yang amat jarang, yang menimpa 10:1.000.000 pria Amerika setiap tahunnya. Di AS, pria yang tidak disunat terkena penyakit itu tiga kali lebih besar ketimbang mereka yang disunat.
Sementara itu studi bergulir kembali ke korelasi antara infeksi saluran kencing dan khitan. Mereka, para pakar, tampaknya belum sepakat mengenai foreskin (kulup/kulit khitan) yang diduga menjadi tempat penyakit menular seksual. Penelitian terbaru, yang dipublikasikan di Journal of the American Medical Association, menemukan “tak ada perbedaan signifikan antara dikhitan dan yang tidak pada kemungkinan mereka tertular penyakit menular seksual. Nah, jadi kulup itu higienis apa tidak sih?

“Persepsi bahwa kulup tidak higienis itu mitos,” tegas George C. Denniston, M.D., presiden dari Doctors Opposing Circumcision yang berbasis di Seattle. “Kulup melindungi terhadap penyakit, bukan menyebabkan penyakit. Jika kulup tidak higienis, kelopak mata seharusnya juga dipertimbangkan tidak

Jadi sebenarnya apa yang hilang saat dikhitan? Selain kulit yang menyelubungi penis di bagian atas, juga dihilangkannya mukosa (bagian lemas dari kulup yang membentengi kepala penis yang memproduksi antibakteri yang tak berbau, sekresinya disebut smegma (baunya alami kok)

Yang juga disebut-sebut hilang saat khitan, menurut para penganut paham anti-khitan, adalah kepekaan seksual dalam jumlah signifikan. Pada 1987, seorang peneliti Kanada menemukan 12 pita yang berlokasi di puncak bagian dalam kulup, yang padat dengan syaraf yang sama dengan yang ditemukan di ujung jari.

Kepala penis memiliki reseptor serupa dengan corona, atau permukaan, meskipun kepala itu sendiri sedikit peka. Selama bersetubuh atau masturbasi, pita itu menyentuh corona, memercikkan resptor pada dua permukaan. Keseluruhan penis diciptakan sebagai sebuah media yang berhubungan dengan panca-indera untuk kesenangan seksual, seperti halnya vulva pada perempuan.

Namun sejumlah urolog, melaporkan hal berbeda. “Kami sudah lakukan ratusan khitan pada pria dewasa dalam 20 tahun dan tak pernah mendapat komplain mengenai kurangnya kepekaan (seksual), kata Larry Lipshultz, M.D dari Baylor College of Medicine.
Meski masih ada pro-kontra mengenai manfaat khitan, namun sebagian pria memilih merelakan adik kecilnya dikhitan. Tampaknya kok normalnya begitu ya. Aneh saja kalau nggak. Lagian itu kan nggak menghilangkan faktor kejantanan, kata Andri (23, bukan nama sebenarnya) saat saya kontak untuk dimintai pendapat.

Hmmm, memang yang tidak disunat bentuknya seperti apa? Ih

sumber: hanyawanita.com

TELANJANG TIDAK HARAM KALO…..

Ini bukan fatwa , saya tidak berani mengeluarkan fatwa. Karena saya bukan MUI. Untuk apa berfatwa kalo dilanggar dan diinjak-injak. Sama saja dengan melecehkan agama namanya.

Judul blog saya sengaja saya buat telanjang tidak haram kalo…
1. Masih bayi baru lahir…
2. Belum baligh (masih anak-anak).
3. Di dalam ruang kamar dalam keadaan sendirian dan tidak dilihat orang lain.
4. Telanjang di depan suami atau istri sendiri bukan suami/istri orang lain.
5. Gila atau hilang akal sehingga tidak dikenakan hukum kepadanya.

Sumber Hukum Al Qur’an Surat An Nur ayat 31:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Hadist Rasulullah SAW:
Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri r.a., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah seorang lelaki melihat aurat lelaki lainnya dan janganlah pula seorang wanita melihat aurat wanita lainnya. Janganlah seorang lelaki berkemul dengan lelaki lain dalam satu selimut dan janganlah pula seorang wanita lain dalam satu selimut,” (HR Muslim [338]).

Kandungan Bab:

Haram hukumnya mandi telanjang di tempat umum, seperti pemandian umum atau tepi pantai.
Boleh mandi telanjang jika sendirian dan di tempat sepi, dalilnya adalah hadits Abu Hurairah r.a, dari Rasulullah saw. beliau bersabda, “Dahulu, orang-orang Bani Israil biasa mandi telanjang, saling melihat satu sama lainnya. Sementara Nabi Musa mandi sendirian. Mereka berkata, ‘Demi Allah, tidak ada yang menghalangi Musa mandi bersama kita kecuali karena kemaluannya bengkak (hernia).’ Suatu ketika Nabi Musa pergi seorang diri hendak mandi. Beliau meletakkan pakaian di atas sebuah batu. Lalu batu itu membawa lari pakaiannya. Maka Nabi Musa pun mengejar batu itu sambil berteriak, ‘Hai batu, kembalikan bajuku!’ Kejadian itu terlihat oleh orang-orang Bani Israil. Mereka berkata, ‘Demi Allah, ternyata Musa tidak menderita kelainan sedikit pun.’ Lalu Musa mengambil pakaiannya dan memukul batu tersebut.” (HR Bukhari [278] dan Muslim [339]).
Abu Hurairah r.a. berkata, “Demi Allah, pukulan Nabi Musa itu meninggalkan enam atau tujuh bekas pada batu tersebut.”

Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ketika Nabi Ayyub sedang mandi telanjang sendirian, jatuhlah kepingan-kepingan emas laksana belalang menimpa tubuhnya. Maka ia pun menampungnya dengan kedua telapak tangannya, lalu meletakkannya ke dalam pakaiannya. Maka Allah memanggilnya: ‘Hai Ayyub, bukankah Aku telah mencukupimu daripada apa yang engkau lihat itu?’ Ayyub menjawab, ‘Benar, demi kemuliaan-Mu, namun aku tidak merasa cukup menerima barakah dari-Mu’,” (HR Bukhari [279]).

Bentuk pengambilan dalil dari kedua hadits tersebut adalah Musa dan Ayyub mandi telanjang sendirian, dan Allah tidak menegur keduanya. Itu menunjukkan, mandi telanjang sendirian dibolehkan. Imam Bukhari menulis sebuah bab dalam kitab Shahihnya, bab “Orang yang mandi telanjang sendirian di tempat sepi. Bagi yang menutup auratnya, maka itu lebih afdhal.”

Menutup aurat lebih afdhal, karena lebih patut malu terhadap Allah daripada malu terhadap manusia. Dalilnya adalah hadits Mu’awiyah bin Haidah r.a., ia berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kami jaga berkaitan dengan aurat kami?” Rasulullah berkata, “Jagalah auratmu kecuali terhadap isteri atau budakmu!” Ia berkata, “Aku berkata lagi, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana kalau di antara kami saja sesama pria?’” Rasulullah berkata,“Usahakanlah semampu kamu agar auratmu tidak terlihat oleh siapa pun.” Ia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana kalau kami seorang diri?’” Rasulullah berkata, “Kamu lebih patut malu terhadap Allah daripada malu terhadap manusia.” (HR Abu Dawud [4017], Tirmidzi [2769 dan 2794], Ibnu Majah [1920], Ahmad [V/403], al-Baihaqi [I/199]).
Antara suami isteri boleh saling melihat aurat, menyentuh dan menikmatinya berdasarkan hadits di atas.
Adapun hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a., bahwa ia berkata, “Saya tidak pernah sama sekali melihat aurat Rasulullah saw.” adalah hadits dha’if, dinyatakan dha’if oleh al-Bushairi dan ulama lainnya.

Demikian pula hadits yang berbunyi, “Jika salah seorang dari kamu mendatangi isterinya, maka hendaklah ia menutupi dirinya, janganlah keduanya telanjang seperti dua ekor keledai.”

Hadits ini dinyatakan dha’if oleh an-Nasa’i, al-Baihaqi, al-Bushairi, dan al-‘Iraqi. Demikian pula hadits yang berbunyi, “Jika salah seorang dari kamu menyetubuhi isteri atau budak wanitanya, janganlah ia melihat farjinya (kemaluannya), karena akan menyebabkan kebutaan.”

Hadits ini maudhu’ (palsu), sebagaimana yang telah dikatakan oleh Abu Hatim ar-Razi, Ibnu Hibban, Ibnul Jauzi, dan lainnya.

Kesimpulannya, tidak ada satu pun hadits shahih yang melarang suami melihat aurat isterinya atau yang melarang isteri melihat aurat suaminya, wallahu a’lam.

Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 1/312-315.

CARA KAMPANYE YANG MENGUNTUNGKAN RAKYAT….

Berikut ini adalah cara-cara kampanye yang bisa menguntungkan rakyat banyak..
1. Jangan buat spanduk baliho dan poster2 yang bikin samapah…bagi-bagikan saja uangnya sama rakyat agar bisa bersimpati dengan caleg itu. (Lebih bermanfaat money pol dari pada poster pol 8)

2. Jangan suka nebar janji muluk2 lebih baik nebar sedekah dan bagi2 makanan dan sembako saja biar nampak hasilnya… 🙂 🙂

3. Sering2 bikin acara syukuran dan selametan di rumah caleg untuk makan-makan dan ngundang rakyat miskin yang lapar biar bisa makan…dari pada ngundang para tim sukses yang belum tentu sukses…. 🙂 &) p)

Kalo para caleg dan partai mau ikut cara saya ini maka…banyak uang rakyat yang akan kembali ke rakyat bukan ke pengusaha sepanduk sablon yang memang udah kaya..eh…tambah kaya…lagi… 🙂 🙂 ngiri… 🙂 nganan 🙂

Jika anda punya tips cara kampanye yang bermanfaat buat rakyat boleh tuliskan di comment.

20 PERTANYAAN KEPADA IBLIS

Allah s.w.t. telah memerintahkan seorang Malaikat berjumpa Iblis supaya dia berjumpa dengan Rasulullah s.a.w. untuk memberitahu segala rahsianya; samada yang disukai mahupun yang dibencinya. Hikmatnya ialah untuk meninggikan darjat Nabi Muhammad s.a.w. dan juga sebagai peringatan dan perisai kepada umat manusia.

Maka Malaikat itu pun berjumpa Iblis dan berkata, “Hai Iblis! Bahawa Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar menyuruh engkau menghadap ke hadrat Rasullullah s.a.w. Hendaklah engkau buka segala rahsia engkau dan apa-apa yang disoal oleh Rasulullah hendaklah engkau jawab dengan sebenar-benarnya. Jikalau engkau berdusta walau satu perkataan pun, nescaya akan diputuskan segala suku-suku anggota badanmu, uratmu serta disiksa dengan azab yang amat keras”.

Demi mendengar sahaja kata Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan. Maka segeralah dia menghadap Rasulullah s.a.w. dengan menyamar sebagai seorang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai; panjangnya seperti ekor lembu. Iblis pun memberi salam, sehingga 3 kali tidak juga dijawab oleh Rasulullah s.a.w. Maka sembah Iblis (alaihi laknat),”Ya Rasulullah! Mengapa tuan hamba tidak mejawab salam hamba? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?”

Maka jawab Nabi dengah marah “Hai Aduwullah seteru Allah! Kepada aku engkau menunjuk baikmu? Jangan engkau cuba hendak tipu aku sebagimana engkau tipu Nabi Adam a.s sehingga keluar dari syurga Habil mati teraniaya dibunuh Qabil dengan sebab hasutan engkau, Nabi Ayub engkau tiup dengan asap racun ketika dia sedang sujud sembahyang hingga dia sengsara beberapa lama, Nabi Daud dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya kerana engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendita yang telah menanggung sengsara akibat hasutan engkau. Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wajalla, cuma salam engkau saja aku tidak hendak menjawabnya kerana diharamkan Allah. Maka aku kenal baik-baik engkaulah Iblis, raja segala iblis, syaitan dan jin yang menyamar diri. Apa kehendak engkau datang berjumpa aku?”

Sembah Iblis,”Ya Nabi Allah! Janganlah tuan hamba marah. Kerana tuan adalah Khatamul Anbiya maka tuan dapat kenal akan hamba. Kedatangan hamba adalah disuruh Allah untuk memberitahu segala tipu daya hamba terhadap umat tuan dari zaman Nabi Adam hingga akhir zaman. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang tuan tanya hamba sedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, tiadalah hamba berani sembunyikan. ” Maka Iblis pun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata “Ya Rasulullah! Sekiranya hamba berdusta barang sepatah pun nescaya hancur leburlah badan hamba menjadi abu” Apabila mendengar sumpah Iblis itu, Nabi pun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah satu peluang aku untuk menyiasat segala perbuatannya agar didengar oleh sekelian sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai kepada sekelian umatku.

Soalan Nabi (1) – “Hai Iblis! Siapakah sebesar-besar musuh engkau dan bagaimana aku terhadap engkau?” Jawab Iblis – “Ya Nabi Allah! Tuanlah musuh hamba yang paling besar di antara segala musuh hamba di muka bumi ini” Maka Nabi pun memandang muka Iblis, dan Iblis pun mengeletar kerana ketakutan. Sambung Iblis,”Ya Khatamul Anbiya! Adapun hamba dapat merupakan diri hamba seperti sekelian manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suara pun tidak salah sepertinya, kecuali diri tuan sahaja yang tidak dapat hamba tiru kerana ditegah oleh Allah. Kiranya hamba menyerupai diri tuan, maka terbakarlah diri hamba menjadi abu. Hamba cabutkan iktikad anak Adam supaya menjadi kafir kerana tuan berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam; begitu jugalah hamba berusaha menarik mereka kepada kafir, murtad atau munafik. Hamba akan tarik sekelian umat Islam dari jalan benar kepada jalan yang salah supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersama hamba”

Soalan Nabi ke 2 – “Hai Iblis! Betapa perbuatanmu kepada makhluk Allah” Jawab Iblis – “Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pehanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Hamba goda segala manusia supaya meninggalkan sembahyang, leka dengan makan minum, berbuat durhaka, hamba lalaikan dengan harta benda daripada emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan kejalan haram. Demikian juga ketika temasya yang bercampur lelaki perempuan. Di situ hamba lepaskan sebesar-besar godaan supaya hilang maruah dan minum arak. Apabila terminum arak itu maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu hamba hulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga kepada pekerjaan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari wang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri. Apabila mereka teringat akan salah mereka lalu hendak bertaubat atau amal ibadat, hamba akan galang mereka supaya mereka menangguhkannya. Bertambah keras hamba goda supaya menambahkan maksiat dan mengambil isteri orang. Bila kena goda hatinya, datanglaah rasa riak, takbur, megah, sombong dan melengahkan amalnya. Bila pada lidahnya, mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah hamba goda mereka setiap saat.”

Soalan Nabi ke 3 – “Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah dan berpenat melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambahkan laknat yang besar serta siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai kutuk Allah! Siapa yang menjadikan engkau? Siapa yang melanjutkan usia engkau? Siapa yang menerangkan mata engkau? Siapa yang memberi pendengaran engkau? Siapa yang memberi kekuatan anggota badan engkau?” Jawab Iblis – “Sekelian itu adalah anugerah daripada Tuhan Yang Maha Besar juga. Tetapi hawa nafsu dan takbur menceburkan hamba menjadi sebesar-besar jahat. Tuan lebih tahu bahawa hamba telah beribu-ribu tahun menjadi ketua kepada sekelian Malaikat dan pangkat hamba telah dinaikkan dari satu langit ke satu langit yang tinggi. Kemudian hamba tinggal di dunia ini beribadat bersama sekelian Malaikat beberapa lama. Tiba-tiba datang firman Allah s.w.t. hendak menjadikan seorang Khalifah di dunia ini, maka hamba pun membantah. Lalu Allah mencipta lelaki (Nabi Adam) lalu dititahkan sekelian Malaikat memberi hormat kepada lelaki itu, kecuali hamba yang ingkar. Oleh itu Allah murka kpd hamba dan muka hamba yang cantik molek dan bercahaya itu bertukar menjadi keji dan hodoh. Hamba berasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan dikurniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah sekelian bidadari. Hamba bertambah dengki dan berdendam kepada mereka. Akhirnya dapat juga hamba tipu melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah Khuldi, lalu keduanya dihalau dari syurga ke dunia. Kedua mereka berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itu pun hamba masih tidak puas hati dan berbagai tipu daya hamba lakukan hingga Hari Kiamat.

Sebelum tuan lahir ke dunia, hamba serta bala tentera hamba dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahsia serta tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadat serta balasan pahala dan syurga mereka. Kemudian hamba turun ke dunia, dan memberitahu manusia yang lain daripada apa yang sebenarnya hamba dapat, dengan berbagai tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bidaah dan karut-marut. Tetapi apabila tuan lahir sahaja ke dunia ini, maka hamba tidak dibenarkan oleh Allah untuk naik ke langit serta mencuri rahsia, kerana banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika hamba berkeras juga hendak naik, maka Malaikat akan melontar dengan anak panah daripada api yang menyala. Sudah banyak bala tentera hamba yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu. Maka besarlah kesusahan hamba dan tentera hamba untuk menjalankan tugas hasutan.”

Soalan Nabi ke 4 – “Hai Iblis! Apakah yang pertama engkau tipu akan manusia?” Jawab Iblis – “Pertama sekali hamba palingkan iktikadnya imannya kepada kafir sama ada dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak berjaya juga, hamba akan tarik dengan cara mengurangkan pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikut kemahuan jalan hamba”

Soalan Nabi ke 5 – “Hai Iblis! Jika umatku sembahyang kerana Allah, bagaimana hal engkau?” Jawab Iblis – “Sebesar-besar kesusahan kepada hamba. Gementarlah badan hamba dan lemah tulang sendi hamba. Maka hamba kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda seorang manusia, pada setiap anggota badannya. Setengah-setengahny a datang pada setiap anggota badannya supaya malas sembahyang, was-was, terlupa bilangan rakaatnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, sentiasa hendak cepat habis solat, hilangkan khusyuknya – matanya sentiasa menjeling ke kiri kanan, telinganya sentiasa mendengar orang brcakap serta bunyi-bunyi yang lain. Setengah Iblis duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya dia tidak kuasa sujud lama-lama, penat atau duduk tahiyat dan dalam hatinya sentiasa hendak cepat habis sembahyang, itu semua membawa kpd kurang pahala. Jika para Iblis itu tidak dapat menggoda manusia itu, maka hamba sendiri akan menghukum mereka dengan seberat-berat hukuman”

Soalan Nabi ke 6 – “Jika umatku membaca Al-Quran kerana Allah, apalah rasa engkau?” Jawab Iblis – “Jika mereka membaca Al-Quran kerana Allah, maka rasa terbakarlah tubuh hamba, putus-putus segala urat hamba lalu hamba lari daripadanya. ”

Soalan Nabi ke 7 – “Jika umatku mengerjakan haji kerana Allah, bagaimana rasa engkau?” Jawab Iblis – “Binasalah diri hamba, gugurlah daging dan tulang hamba kerana mereka telah mencukupkan rukun Islamnya”

Soalan Nabi ke 8 – “Jika umatku berpuasa kerana Allah, bagaimana hal engkau?” Jawab Iblis – “Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya kepada hamba.. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan sekelian Malaikat menyambut dengan kesukaan. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatatkan dosanya selama dia berpuasa. Yang menhancurkan hati hamba ialah segala isi langit dan bumi; yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam mendoakan keampunan orang yang berpuasa. Satu lagi kemuliaan orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya, serta dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga. Pada hari umat tuan mula berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekelian Malaikat dengan garangnya menangkap hamba dan tentera hamba; jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umat tuan berpuasa barulah hamba dilepaskan dengan amaran agar tidak mengganggu umat tuan. Umat tuan sendiri telah merasa ketenangan berpuasa seperti mana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut berbanding bulan biasa.”

Soalan Nabi ke 9 – “Hai Iblis! Bagaimana sekelian sahabatku kepada engkau?” Jawab Iblis – “Sekelian sahabat tuan hamba juga adalah sebesar-besar seteru hamba. Tiada upaya hamba melawannya dan tiada satu tipu daya yang dapat masuk kepada mereka. Kerana tuan sendiri telah berkata yang “Sekelian sahabatku adalah seperti bintang di langit, jika kamu mengikut mereka, maka kamu akan mendapat petunjuk.” Saidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersama tuan lagi, hamba tidak dapat hampir kepadanya inikan pula setelah berdamping dengan tuan. Beliau begitu percaya atas kebenaran tuan hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan tuan sendiri telah mengatakan jika ditimbang sekelian isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar. Tambahan pula dia telah menjadi mertua tuan kerana tuan berkahwin dengan anaknya, Saiyidatina Aisyah yang juga banyak menghafaz Hadis tuan. Saiyidina Umar Al-Khattab pula tidaklah berani hamba pandang akan wajahnya kerana dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan saksama. Jika hamba pandang wajahnya, maka gementarlah segala tulang sendi hamba kerana sangat takut. Ini kerana imannya sangat kuat apalagi tuan telah mengatakan, “JIKALAU adanya Nabi sesudah aku maka Umar boleh menggantikan aku” kerana dia adalah orang harapan tuan serta pandai membezakan antara kafir dan Islam hingga digelar ‘Al-Faruq’. Saiyidina Usman Al-Affan lagi hamba tidak boleh hampir, kerana lidahnya sentiasa bergerak membaca Al-Quran. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati syahid dan menjadi menantu tuan sebanyak dua kali. Kerana taatnya, banyak Malaikat datang melawat dan memberi hormat kepadanya kerana Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga tuan mengatakan,” Barang siapa menulis Bismillahir rahmanir rahim pada kitab atau kertas-kertas dengan dakwat merah, nescaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid” Saiyidina Ali Abi Talib pun itu hamba sangat takut kerana hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat bersopan, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka kerana dia sangat kuat beribadat serta beliau adalah budak pertama memeluk agama Islam dan tidak pernah menunduk kan kepalanya kepada sebarang berhala. Digelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu’ – dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan tuan sendiri berkata “Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya”. Tambahan pula dia menjadi menantu kepada tuan, lagilah hamba ngeri kepadanya..

Soalan Nabi ke 10 – “Bagaimana tipudaya engkau kepada umatku?” Jawab Iblis – “Umat tuan itu ada tiga macam. Yang pertama seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan iaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah serta meninggalkan laranganNya seperti kata Jibrail a.s “Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat” Yang kedua umat tuan seperti tanah iaitu orang yang sabar, syukur dan redha dengan kurniaan Allah. Berbuat amal soleh, tawakal dan kebajikan. Yang ketiga umat tuan seperti Firaun; terlampau tamak dengan harta dunia serta dihilangkan amal akhirat. Maka hamba pun sukacita lalu masuk kedalam badannya, hamba putarkan hatinya ke lautan derhaka dan hamba hela ke mana sahaja mengikut kehendak hamba. Jadi dia sentiasa bimbang kepada dunia dan tidak hendak menuntut ilmu, tiada masa beramal ibadat, tidak hendak mengeluarkan zakat, miskin hendak beribadat. Lalu hamba godanya minta kaya dulu, dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka dilupakan beramal, tidak berzakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umat tuan terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia sentiasa bimbang akan hartanya dan setengahnya asyik hendak merebut dunia harta, cakap besar sesama Islam, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk jalan maksiat, tempat judi dan perempuan lacur”

Soalan Nabi ke 11 – “Siapa yang serupa dengan engkau?” Jawab Iblis – “Orang yang meringankan syariat tuan hamba dan membenci orang belajar agama Islam”

Soalan Nabi ke 12 – ” Siapa yang mencahayakan muka engkau?” Jawab Iblis – “Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu, pemungkir janji”

Soalan Nabi ke 13 – “Apakah rahsia engkau kepada umatku?” Jawab Iblis – Jika seorang Islam pergi buang air besar serta tidak membaca doa pelindung syaitan, maka hamba gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sedari”

Soalan Nabi ke 14 – “Jika umatku bersatu dengan isterinya, bagaimana hal engkau?” Jawab Iblis – “Jika umat tuan hendak bersetubuh dengan isterinya serta membaca doa pelindung syaitan, maka larilah hamba dari mereka. Jika tidak hamba akan bersetubuh dahulu dengan isterinya, dan bercampurlah benih hamba dengan benih isterinya. Jika menjadi anak maka anak itu akan gemar kepada pekerjaan maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua kerana kealpaan ibu bapanya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa Bismillah, hamba yang dahulu makan daripadanya. Walaupun mereka makan, tiadalah rasa kenyang.”

Soalan Nabi ke 15 – “Dengan jalan apa boleh menolak tipu daya engkau?” Jawab Iblis – “Jika dia berbuat dosa, maka dia kembali bertaubat kepada Allah, menangis kesal akan perbuatannya. Apabila marah segeralah mengambil air sembahyang, maka padamlah marahnya.”

Soalan Nabi ke 16 – “Siapakah orang yang paling engkau lebih suka?” Jawab Iblis – “Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari(bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situ lah hamba mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu”

Soalan Nabi ke 17 – “Hai Iblis! Siapakah saudara engkau?” Jawab Iblis – “Orang yang tidur meniarap, orang yang matanya celik di waktu subuh tetapi menyambung tidur semula. Lalu hamba ulit dia lena hingga terbit fajar. Demikian jua pada waktu zohor, asar, maghrib dan isyak, hamba beratkan hatinya untuk solat”

Soalan Nabi ke 18 – “Apakah jalan yang membinasakan diri engkau?” Jawab Iblis – “Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Quran dan solat tengah malam”

Soalan Nabi ke 19 – “Hai Iblis! Apakah yang memecahkan mata engkau?” Jawab Iblis – “Orang yang duduk di dalam masjid serta beriktikaf di dalamnya”

Soalan Nabi ke 20 – “Apa lagi yang memecahkan mata engkau?” Jawab Iblis – “Orang yang taat kepada kedua ibubapanya, mendengar kata mereka, membantu makan-pakai mereka selama mereka hidup, kerana tuan telah bersabda,’Syurga itu di bawah tapak kaki ibu’ ”