(Lucu) Humor Nabi Muhammad bag.2 “Satu Batu Dua Batu”

Satu Batu Dua Batu
Pada saat perang Khandaq terjadi, Rasulullah dan para sahabatnya bekerja membangun parit (khandaq) untuk pertahanan kaum mukminin di Madinah. Pada saat mereka bekerja ada seorang sahabat yang merasa lapar dan haus sekali sampai-sampai dia mengganjal perutnya dengan sebuah batu. Kemudian sahabat itu berkata kepada Rasulullah,”wahai Rasulullah saya sangat lapar sekali sehingga untuk mengurangi laparku aku mengganjalnya dengan sebuah batu”. Sambil berkata begitu sahabat tersebut membuka bajunya dan menunjukkan satu batu yang mengganjal perutnya.
Sambil tersenyum kemudian Rasulullah membuka perut bajunya dan terlihatlah oleh sahabat tadi ada dua buah batu yang juga mengganjal perut Rasulullah. Sambil tersipu malu sahabat tadi melanjutkan pekerjaannya.

Lomba Lari dan Si Kemerah-Merahan
Apakah anda pernah berlomba lari bersama istri anda? Rasulullah sering melakukannya. Pada saat Beliau berada dirumahnya bersama istri Beliau yang bernama Aisyah.
Aisyah juga sering dipanggil dengan panggilan sayang yaitu “Humairoh” artinya yang kemerah-merahan karena pipi Aisyah berwarna kemerah-merahan jika tersipu malu.
Apakah anda punya panggilan sayang untuk istri anda?

(Lucu) Humor Nabi Muhammad…bagian 1

Hehe ini lucu dan mengandung banyak pelajaran. Jangan dipikir Nabi Muhammad seorang yang serius kejam dan suka berperang. Ternyata Rasulullah ini sosok yang suka humor dan bercanda dengan teman-temannya (para sahabatnya).
Jadi salah jika kita selalu menganggap bahwa sosok Rasulullah itu serius,seram, dan arogan bahkan pemarah seperti orang-orang yang katanya mengaku pengkutnya dan menjalankan sunnahnya itu (maaf yang merasa).
Postingan ini sebagai renungan juga bahwa untuk menjalani kehidupan ini kita perlu enjoy dan selalu ceria dan bahagia agar tidak stres menghadapi kehidupan ini yang sebenarnya tidak berat tapi dibuat berat oleh diri kita sendiri.


Tapi perlu diingat bahwa humoran dan candaan rasulullah mengandung kebenaran dan bukan dusta dan tidak ada menghina atau mencela orang lain dan tidak menyinggung orang yang diajak bercanda. Beda dengan lawakan sekarang ini yang penuh dengan ejekan,kadang hinaan dan menyinggung perasaan. Sehingga tak jarang kita lihat perkelahian atau pembunuhan diakibatkan candaan yang sepertinya sepele dan berakhir malapetaka.
Maka ingatlah kalau anda membuat humor atau bercanda jangan mengandung kebohongan dan jangan menghina orang lain.


Berikut ini humor-humor Rasulullah yang saya kutip dari beberapa sumber.

Humor Ali Makan Kurma

Suatu hari Rasulullah bersama Ali dan sahabat yang lain sedang makan kurma bersama-sama. Pada saat makan kurma itu biji kurma bekas Ali diletakkan di depan Rasul. Ketika hampir selesai Ali berkata “Ya, Rasulullah kelihatan engkau sangat lapar karena makan kurma begitu banyak, lihat biji kurma itu banyak di depan engkau.”
Kemudian rasulullah mejawab,”Bukannya engkau yang sangat lapar karena makan kurma bersama biji-bijinya”.
“Lihat tidak ada biji kurma di depan mu”?

Nenek-Nenek Gak Masuk Surga

Ini kisah terjadi ketika seorang nenek-nenek yang datang menjumpai rasulullah dan bertanya,”ya Rasulullah apakah saya masuk surga?”.
Lalu rasulullah menjawab,” Maaf Nek, orang yang sudah tua (nenek-nenek) tidak ada di dalam surga”… Belum selesai rasulullah berbicara nenek-nenek itu kemudian bersedih….
Kemudian rasul meneruskan perkataannya, “Di Surga nanti umur manusia berkisar antara 30-35 tahun (dimudakan lagi) muda,cantik dan tampan kembali”.
Baru nenek-nenek itu tersenyum senang .

Kurma dan Sakit Mata
Suatu saat Ali sakit mata dan duduk bersama Rasulullah.
Kemudian datang sahabat lain membawa kurma untuk mereka santap.
Kemudian Mereka asyik makan kurma. Ketika makan rasulullah berkata kepada Ali.
“Mengapa kamu makan kurma sedang matamu sakit?”
Kemudian Ali spontan menjawab “ya rasulullah saya makan dengan sebelah mata saya yang masih sehat?” mendengar jawaban Ali Rasulullah pun tersenyum lebar.

Bersambung bagian 2…

PERMINTAAN UNTUK BISA MELIHAT ALLAH

al-baqarah-108Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rafi’ bin Huraimalah dan Wahab bin zaid berkata kepada Rasulullah SAW: “Hai Muhammad! Cobalah turunkan kepada kami suatu kilat yang akan kami baca, atau buatlah sungai yang mengalir airnya, pasti kami akan mengikuti dan mempercayai tuan.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (S. 2: 108) sebagai peringatan agar umat Islam tidak mengikuti bani Israil di dalam mengikuti ajaran Rasul.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa’id atau ‘Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa orang kafir Quraisy meminta kepada Nabi Muhammad SAW supaya gunung Shafa dijadikan emas. Maka Nabi SAW bersabda: “Baiklah, akan tetapi apabila kamu kufur, gunung ini akan berakibat seperti hidangan yang diminta bani Israil.” (Sebagaimana tercantum dalam surat al-Maidah 112/115, kaum Hawariyyun meminta kepada Nabi ISa, agar Allah menurunkan hidangan dari langit. Allah mengabulkannya dengan ancaman siksaan bagi orang yang kufur kepada-Nya.) Kaum Quraisy menolak syarat tersebut, kemudian pulang. Maka Allah menurunkan ayat ini (S. 2: 108) berkenaan dengan peristiwa tersebut.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid.)

Menurut riwayat lain turunnya ayat ini (S. 2: 108) sehubungan dengan peristiwa ketika orang-orang Arab meminta kepada Nabi Muhammad SAW agar mendatangkan Allah kepada mereka, sehingga dapat terlihat dengan nyata oleh mata mereka.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi.)

Menurut riwayat lain dikemukakan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulullah, bagaimana kalau kifarat (denda tebusan dosa) kami disamakan saja dengan kifarat bani Israil? Nabi SAW menjawab: “Maha Suci Allah, sungguh aku tidak menghendakinya. Karena Allah memberikan kepadamu yang lebih baik daripada yang diberikan kepada bani Israil dahulu. Apabila mereka melakukan kejahatan, tertulislah itu di atas pintu rumah mereka dan kifaratnya. Apabila telah ditunaikan kifaratnya, tinggallah kehinaan baginya di dunia. Dan apabila tidak ditunaikan mereka akan mendapat pula kehinaan di akhirat. Bukankah Allah telah memberikan yang lebih baik kepadamu daripada itu dengan firman-Nya: “Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian ia minta ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS 4: 110). Dan selanjutnya Nabi SAW bersabda: “Shalat yang lima, dan shalat Jum’at sampai Shalat Jum’at berikutnya menjadi kifarat kesalahan yang dikerjaan di antara waktu kesemuanya itu.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (S. 2:108), sebagai teguran terhadap orang yang ingin mengubah ketentuan Allah.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Abal-‘Aliah.)

PROFIL TELADAN

muhammadBismillahir Rohmanir Rohiim
Innal hamdulillah nahmaduhu wa nastainuhu wa nastagfiruhu wa na’uzu billahi min shururi anfusina wa min sayyiati a’malina may yahdihillahu fala mudillallah wa may yudlill fala hadiyala wa ba’ad,
Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasallam adalah pembawa ajaran Islam, dan diyakini oleh umat Muslim sebagai nabi Allah (Rasul) yang terakhir. Beliau lahir sekitar tahun 570 M di Mekkah (atau “Makkah”) dan wafat sekitar pertengahan tahun 632 M di Madinah. Kedua kota tersebut terletak di daerah Hejaz (Arab Saudi saat ini). Beliau diriwayatkan memiliki 11 istri.

“Muhammad” dalam bahasa Arab berarti “dia yang terpuji”. Muslim mempercayai bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasallam adalah penyempurnaan dari agama-agama yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya. Mereka memanggilnya dengan gelar Rasulullah (رسول الله), dan menambahkan kalimat sallallaahu alayhi wasallam (صلى الله عليه و سلم, yang berarti “semoga Allah memberi kebahagiaan dan keselamatan kepadanya”) setelah namanya. Selain itu Al-Qur’an dalam Surah As-Saff (QS 61:6) menyebut Muhammad dengan nama “Ahmad” (أحمد), yang dalam bahasa Arab juga berarti “terpuji”.

Silsilah keluarga Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasallam
Silsilah Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasallam dari kedua orang tuanya kembali ke Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr (Quraish) bin Malik bin an-Nadr (Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (Amir) bin Ilyas bin Mudar bin Nizar bin Ma`ad bin Adnan. Dimana Adnan merupakan keturunan laki-laki ke tujuh dari Ismail bin Ibrahim, yaitu keturunan Sam bin Nuh

 

Beliau dilahirkan pada hari Senin bulan Rabi’ul Awal di Makkah Al Mukarramah tahun Al Fiil (571 M), berasal dari kedua orang tua yang sudah ma’ruf. Bapaknya bernama Abdullah bin Abdul Muthallib dan ibunya bernama Aminah binti Wahb. Kakek beliau memberinya nama Muhammad. Bapak beliau meninggal dunia sebelum kelahirannya.

Nama dan Garis keturunan (Nasab) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

Allah Ta’ala berfirman: “Muhammad adalah Rasulullah.” (QS. Al Fath:29)

Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Saya memiliki lima nama: Saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi yang Allah menghapus kekufuran denganku, saya Al-Hasyir yang manusia dikumpulkan di atas kedua kakiku, dan saya Al-‘Aqib yang tidak ada Nabipun setelahnya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Dan Allah menamakannya dengan “Raufur Rahim”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenalkan dirinya kepada kita dengan beberapa nama: “Saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al Muqaffy (Nabi terakhir) dan Al Hasyir, saya Nabi At Taubah, Nabi Ar Rahman.” (HR. Muslim )

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Tidaklah kamu heran bagaimana Allah memalingkan dari saya cacian orang-orang Quraisy dan laknat mereka? Mereka mencaci dan melaknat saya (dengan sesutu) yang sangat tercela, dan saya adalah Muhammad.” (HR. Bukhari )

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Sesungguhnya Allah telah memilih dari keturunan Ismail Kinayah, dan dari Kinayah Allah memilih Quraisy, dari Quraisy Allah memilih bani Hasyim, dan dari bani Hasyim Allah memilih saya.” (HR. Muslim )

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya:
“Namailah diri kalian dengan nama-nama saya, tapi janganlah kalian berkuniah (mengambil gelar) dengan kuniah saya. Karena sesungguhnya saya adalah Qasim sebagai pembagi diantara kalian.” (HR. Muslim )

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Seolah-olah Kamu Melihatnya

Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling tampan wajahnya, paling bagus bentuk penciptaannya, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. (Muttafaq ‘Alaih)

Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkulit putih dan berwajah elok. (HR. Muslim)

Bahwasanya badan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, dadanya bidang, jenggotnya lebat, rambutnya sampai ke daun telinga, saya (Shahabat-pent) pernah melihatnya berpakaian merah, dan saya tidak pernah melihat yang lebih indah dari padanya. (HR. Bukhari)

Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepalanya besar, demikian juga kedua tangan dan kedua kakinya, serta tampan wajahnya. Saya (Shahabat-pent) belum pernah melihat orang yang seperti dia, baik sebelum maupun sesudahnya. (HR. Bukhari)

Bahwasanya wajah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bundar bagaikan Matahari dan Bulan. (HR. Muslim)

Bahwasanya apabila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam gembira, wajahnya menjadi bercahaya seolah-olah seperti belaian Bulan, dan kami semua mengetahui yang demikian itu. (Muttafaq ‘Alaih)

Bahwasanya tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tertawa kecuali dengan senyum, dan apabila kamu memandangnya maka kamu akan menyangka bahwa beliau memakai celak pada kedua matanya, padahal beliau tidak memakai celak. (Hadits Hasan, Riwayat At Tirmidzi)

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata: “Tidak pernah saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tertawa terbahak-bahak sehingga kelihatan batas kerongkongannya. Akan tetapi tertawa beliau adalah dengan tersenyum.” (HR. Bukhari)

Dari Jabir bin Samrah Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Saya pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada bulan purnama. Saya memandang beliau sambil memandang bulan. Beliau mengenakan pakaian merah. Maka menurut saya beliau lebih indah daripada bulan.” (Dikeluarkan At Tirmidzi, dia berkata Hadits Hasan Gharib. Dan dishahihkan oleh Al Hakim serta disetujui oleh Adz-Dzahabi)

Dan betapa indahnya ucapan seorang penyair yang mensifati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan sya’irnya:

“Si Putih diminta memohon hujan dari awan dengan wajahnya. Si Pemberi makan anak-anak yatim dan pelindung para janda.”

Sya’ir ini berasal dari kalamnya Abu Thalib yang disenandungkan oleh Ibnu Umar dan yang lain. Ketika itu kemarau melanda kaum muslimin, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memohon hujan untuk mereka dengan berdo’a: Allahummasqinaa (Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami), maka turunlah hujan. (HR. Bukhari)

Adapun makna dan sya’ir tersebut adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang disifati dengan Si Putih diminta untuk menghadapkan wajahnya yang mulia kepada Allah dan berdo’a supaya diturunkan hujan kepada mereka. Hal itu terjadi ketika beliau masih hidup, adapun setelah kematian beliau maka Khalifah Umar bin Al Khathab bertawasul dengan Al Abbas agar dia berdo’a meminta hujan dan mereka tidak bertawasul dengan beliau.

DAKWAH JIWA

Apa yang terjadi ketika air di letakan di dalam freezer yang bersuhu 0 derajat celcius, tentu saja air akan membeku, begitu juga mana kala air yang sudah membeku tadi di keluarkan dari dalam freezer dan di taruh di ruangan yang bersuhu mencapai 38 derajat celcius pastinya dalam hitungan menit air yang beku itu akan mencair dan kembali menjadi air seperti semula ketika sebelum di masukan ke dalam freezer. Mengapa hal tersebut bisa terjadi ? karena air sangat tergantung dengan suasana dan keadaan. Begitu pun iman kita hari ini yang masih sangat di pengaruhi oleh suasana dan keadaan layaknya sebuah air.

Penampakan seperti ini akan semakin jelas mana kalau menjelang Ramadhan , dimana kita berbondong-bondong menjadi orang yang mendadak alim. Namun sayangnya ketika cahaya syawal mulai menjelang kita kembali seperti semula sebagaimana air yang membeku di keluarkan dari dalam freezer, lambat laun, perlahan tapi pasti iman kita makin lama semakin menipis baik disadari atau tidak ( tapi sebagian besar dari kita menyadari akan keterkikisan iman kita ).

Iman merupakan perkara yang sangat penting , lebih penting hanya dari sekedar makan dan minum, karena iman lah yang membuat para sahabat ra mulia dan membuat Fir’aun, Qorun, Nambrut menjadi hina, Iman juga dapat membuat hamba menjadi tuan dan tuan menjadi seoarang hamba ( kisah nabi Yusuf dan Zulaikah ) .

Iman bukan perkara yang begitu saja turun dari langit seperti hujan, melainkan iman hanya datang mana kala kita ada usaha atas perkara itu, sebagaimana hari ini kita paham , uang hanya bisa datang kalau kita ada kerja untuk mendapatkannya, maka begitu juga hal nya dengan iman. Dahulu para sahabat nabi berjuang mati-matian untuk perkara ini, Bilal ra rela disiksa dan di tindih batu yang besar di atas terik padang pasir yang panas demi mendapatkan iman, Sumayah Ummu Amar r.ha telah menjadi syahid setelah sebelumnya ditombak kemaluannya olah Abu Jahal demi mempertahankan imannya.

Para sahabat nabi sangat paham atas hal itu , bahwa tiada yang lebih berharga di dunia dan akhirat selain iman. Dunia adalah darul asbab, semua perlu sebab, ingin menghilangkan lapar perlu makan, ingin menghilangkan haus perlu minum, ingin mempunyai anak harus kawin. Begitu juga untuk mendapatkan iman, maka kita perlu usaha atas iman.

Allah swt menghendaki kita untuk bahagia, dan untuk bahagia kita harus mengamalkan agama. Allah swt, menjadikan agama untuk kebahagiaan, bukan untuk menjadikan manusia menderita.

Kalau ada orang yang mengamalkan agama hidupnya menderita berarti mereka mengamalkan agama yang salah yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Semua orang ( baik awam maupun ulama ) sepakat bahwa untuk menjayakan kembali umat Islam hanya dengan satu cara back to Islam ( kembali ke Islam ).

Hanya yang menjadi masalah adalah bagaimana mengembalikan ummat kepada Islam?

Ada yang berpendapat untuk mendatangkan agama kepada ummat Islam harus memiliki kekuasaan, ada juga yang mengatakan harus memiliki harta benda yang banyak.

Kekuasaan tidak mendatangkan manusia kepada agama, mengapa?

Kita lihat Shirah Nabawi :

Kepada Rasulullah saw, ditawarkan kekuasaan oleh orang Quraisy, akan diangkat menjadi raja di Makkah bahkan tidak hanya orang Quraisy, tetapi Allah swt, juga menawarkan dengan menurunkan malaikat-Nya dan bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Muhammad apakah engkau ingin menjadi Mulkan Nabiyan ( Nabi yang raja seperti Sulaiman as, Daud as ) atau menjadi Abdan Rasullan ( Nabi yang hamba ).”

Untuk menjawab pertanyaan ini Rasulullah saw memandang ke arah Jibril.

Jibril mengatakan , “Tawadu’ya Muhammad di hadapan Allah.”

Maka Nabi memilih menjadi Abdan Rasullan. Bahkan gelar tertinggi nabi adalah Abdullah.

Nabi mengatakan ,”Aku duduk seperti duduknya hamba dan makan seperti makannya hamba.” Bahkan menurut beberapa riwayat di rumah nabi berbulan-bulan tidak ada makanan selain air dan kurma.

Bayangkan kalau kita ada di posisi nabi sekarang , maka pasti kita akan memilih kekuasaan, lantas kita akan berkata kepada semua orang dengan gaya seperti Abu Jahal dan Abu Lahab, “ Kemarilah kalian, masuk Islamlah, jika tidak , aku penggal kepalamu.” Astaghfirullah.

Harta benda tidak memajukan orang dalam agama. Ada seorang ulama menyampaikan bayan ( ceramah kalau bahasa kitanya ), “Wahai saudara! Uang kamu tidak bisa memajukan kamu dalam agama.”.

Orang kaya protes, mereka berkata , “Wahai syaikh, kami akan buktikan bahwa uang bisa memajukan kami dalam agama!”

Maka orang kaya itu pergi ke masjid dan mereka melihat orang miskin duduk di shaf pertama sedangkan orang kaya di shaf ke dua. Orang kaya itu berkata kepada orang miskin itu, “Wahai saudara! Saya beri kamu uang asalkan tempat kamu saya gantikan.” Orang miskin itu setuju dan uang berpindah tangan, orang kaya di shaf pertama, dan kini orang miskin di shaf kedua.

Orang kaya beranggapan bahwa uangnya mampu memajukan dia dalam agama, “Syaikh! Tuan salah, Tuan mengatakan bahwa harta tak memajukan kami dalam agama, tetapi nyatanya kami maju karena uang yang ada pada kami.”

Syaikh bertanya, “Bagaimana bisa terjadi?”

Orang kaya itu berkata,”Di masjid ada seorang miskin yang duduk pada shaf pertama dan kami ada di shaf kedua, lalu kami beri dia uang agar ia mau mundur dan kami maju. Karena uang kami maka kami maju, itu tanda uang kami bisa memajukan kami dalam agama!”.

Syaikh bertanya, “Wahai Saudaraku, ketika uang ada di kantongmu, kamu berada di shaf ke berapa?”.

Jawabnya, “Di shaf ke dua.”

Syaikh bertanya, “Ketika uang lepas dari kantong kamu maka kamu berada di shaf keberapa?”.

Jawabnya, “Di shaf pertama”.

Syaikh berkata, “Ketahuilah wahai saudara! Ketika uang ada padamu justru kamu berada di shaf kedua ( kamu mundur ), dan ketika kamu ubah menjadi sedekah maka kamu ada di shaf pertama. Jadi bukan uang yang memajukan kamu, tetapi sedekah kamu. Dan orang miskin yang menerima uang kamu jadi mundur, uang menjadikan dia di shaf kedua.”

Kepada Rasulullah ditawarkan kekayaan oleh orang Quraisy, bahkan Allah swt. menawarkan melalui malaikat Jibril, “Ya Muhammad, Jika engkau mau maka akan kujadikan semua gunung di Hama menjadi emas”.

Rasulullah saw menjawab,”Aku lebih suka sehari lapar sehari kenyang, pada saat aku lapar aku bisa bersabar dan pada saat aku kenyang aku bisa bersyukur”.

Coba kalau kita yang ada di posisi nabi sekarang , maka pasti kita akan memilih kekayaan, lantas kita akan berkata kepada semua orang dengan gaya seperti Abu Jahal dan Abu Lahab, “ Nih, satu gunung emas buat kamu, asal kamu masuk Islam.” Astaghfirullah.

Dakwah Nabi tidak mengenal kekuasaan atau benda-benda/kekayaan. Mengapa? Agar manusia murni mengenal Allah, mengenal kehebatan-Nya, kekuasaan-Nya tanpa tercampur dengan apa pun. Karena iman yakin yang demikian akan menjamin keamanan dan hidayah bagi manusia.

Lantas apa yang mesti kita lakukan agar iman kita tetap stabil?.

Sebagaimana layaknya air yang tetap mengeras bila di dalam freezer , maka begitu juga kita, tapi bukan berarti iman kita di masukan ke dalam freezer, melainkan kita mencari komunitas yang bisa membuat iman kita tetap stabil malahan kalau bisa semakin meningkat, seumpama freezer yang membentuh air menjadi es.

Dimulai dengan memilih teman-teman yang mendukung ke arah perbaikan tersebut.dengan tak lupa mendakwahkan dan mempraktekan kebaikan kepada orang lain, Dan dengan sekuat tenaga mengajak diri dan keluarga kita kearah perbaikan.

Abu Hurairah r.a mengatakan bahwa rumah yang di dalamnya dibacakan alqur’an yang mulia, maka berkah dan kebaikan akan memenuhi ahli rumah tersebut. Malaikat akan turun memenuhi rumah tersebut, dan syaitan akan keluar darinya. Sebaliknya bagi rumah yang di dalamnya tidak dibacakan alqur’an, maka kehidupannya akan penuh dengan kesempitan dan ketidak berkahan, malaikat akan keluar dari rumah tersebut, dan syaitan akan masuk memenuhi rumah tersebut. Sekarang pertanyaannya, Sudah kah hari ini kita membaca aqlur’an di rumah kita, atau malah kita sibuk membaca surat kabar.

Ayo lakukan gerakan perubahan dimulai dari diri kita dan keluarga kita, jadi kan rumah-rumah kita seperti freezer yang dapat membentuk generasi yang mencintai Allah swt dan Rasul-Nya diatas segalanya.