Polisi Ditabrak Mati Saat Razia…

PADANG – Ketika menggelar razia kendaraan bermotor, nahas bagi Ipda Ali Akbar (54). Dia menjadi korban ketika seorang warga nekat menerobos barikade polisi.

Peristiwa ini terjadi di depan Mapolsek Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat. Kala itu, pelaku diketahui mengendarai sepeda motor Yamaha Vega R tanpa nomor polisi.

“Memang benar salah satu anggota kita meninggal dan patah tulang akibat seorang pengendara sepeda menerobos razia,” kata Wadirlantas Polda Sumbar AKBP Arum Priyono, Sabtu (3/4/2010).

Sementara korban lainnya adalah Kabag Ops Polres Padang Pariaman Kompol Iswandi (51) yang luka di bagian kakinya. Sedangkan penunggang motor yang menerobos barikade polisi diketahui bernama Ade Azhar (22) dan Anggi Yogi (20). Keduanya mengalami luka di sekujur tubuhnya.

“Saat menerobos pengendara motor tersebut melaju dengan kecepatan tinggi, Ipda Ali Akbar meninggal saat diantar di rumah sakit Padang Pariaman, nyawanya tak tertolong karena mengalami pendarahan serius,” tandasnya.

Saat ini, korban sudah dikuburkan di Rimbo Panjang, Lubuk Alung yang tak lain merupakan kampung halamannya. Sementara kedua tersangka saat ini tengah menjalani perawatan di Puskemas Lubuk Alung dan dijaga ketat aparat.

Sumber: http://news.okezone.com/read/2010/04/03/340/318888/gelar-razia-lantas-polisi-tewas-ditabrak

Oknum Polisi Telanjangi dan Aniaya Penjaga Sekolah Sambil Menodongkan Pistol

PADANG ONLINE (PADANG) – Dituduh mencuri komputer dan laptop, Penjaga SMA I Kota Sawahlunto, Ra syid (40) ditodongkan pistol, dianiaya, bahkan ditelanjangi oleh tiga oknum anggota Polres Sawahlunto, di ru mahnya di komplek sekolah tersebut, Rabu (16/12) dinihari.

Akibat tindakan tersebut pria paruh baya itu sempat dilarikan ke Rumah Sakit Yarsi Bukittinggi untuk men dapat perawatan. Peristiwa ini sudah dilaporkan ke Pol res Sawahlunto.

Korban Rasyid yang dihu bungi kemarin mengungkapkan, Selasa (15/12) ia dida tangi beberapa petugas ke polisian menanyakan soal raibnya enam komputer dan infokus SMA I.
“Saya ditanya apakah sa ya memang penjaga sekolah dan memang ada laptop dan infokus yang hilang, saya jawab ya,” katanya.

Setelah ditanyai, petugas itupun meninggalkannya. Ke mudian sekitar pukul 22.00 WIB malamnya, datang lagi tiga anggota polisi ke ru mahnya di kawasan SMA 1 “ Ketika itu saya sedang me nonton TV, karena ada yang mengetuk pintu, maka dibu kakan dan menyuruh masuk mereka ke dalam rumah,” tutur Rasyid.

Karena hanya memakai singlet saja, korban pun me ngenakan bajunya. Setelah itu tiga petugas mulai me nanyainya soal hilangnya se jumlah peralatan labor sekolah itu.
Ironisnya pertanyaan itu disodorkan disertai dengan tamparan ke pipi korban. Tidak hanya itu, perut korban juga jadi sasaran tinju ok num aparat berseragam coklat itu.
Tidak berhenti di sana. Penyiksaan itu berlanjut hingga Rabu dinihari sekitar pukul 01.30 WIB. Bahkan ketika itu korban juga sempat ditelanjangi dan dito dongkan pistol ke arah kaki korban.

“Kenapa harus di kaki pak, langsung saja arahkan ke kepala, karena saya benar tidak melakukan pencurian itu pak”, kata Rasyid sat itu kepada petugas.

Usai aksi itu, ketika ok num polisi itu pun pergi. Esoknya korban melaporkan peristiwa ini ke Mapolresta setempat.

Setelah memberikan kete rangan, sekitar pukul 15.00 WIB korban pergi ke Rumah Sakit Yarsi Bukittinggi un tuk melakukan perawatan. Dan malamnya korban kembali ke Sawahlunto sekitar pukul 20.00 WIB.

Menanggapi peristiwa ini Kapolresta Sawahlunto AK BP Ano Munarto yang dihu bungi kemarin mengungkapkan, hari ini ketiga ang gotanya itu akan dipanggil dan diperiksa. “Kemarin hari libur, maka besok (hari ini-red), mereka akan kita periksa,”katanya melalui telepon genggam.

Sebelumnya Labor SMA Negeri 1 Sawahlunto dibo bol maling. Enam unit laptop dan infokus raib, Senin malam. Sekolah favorit di ‘Kota Arang’ itu diperkirakan menderita kerugian sekitar Rp80juta. (nas)

Arrahmah.com M Jibril Copy Paste

Muhammad Jibriel Abdul Rahman Akhi (Saudaraku) Jibril, Kami Ingin Menemuimu…! Meskipun sudah empat hari, pen’culik’an pimpinan sekaligus pendiri Ar Rahmah Media, M. Jibril Abdul Rahman terjadi, namun hingga hari ini keberadaan beliau belum diketahui. Majelis Mujahidin yang dipimpin langsung oleh Amir ( pimpinan)nya, Ustadz Muhammad Tholib, Ketua Lajnah Tanfiziyah, sekaligus paman beliau, Irfan S Awwas, dan Ustadz Abu Jibril, ayah beliau, Kamis, 27 Agustus 2009 mendatangi Mabes Polri untuk menyampaikan tuntutan dan memastikan keberadaan M Jibril. Bersama perwakilan Majelis Mujahidin dari beberapa daerah, seperti Sumatra, Yogyakarta, Solo, dan Jakarta, rombongan berangkat dari rumah kediaman Ustadz Abu Jibril di Pamulang. Tuntutan Majelis Mujahidin Setelah menunggu cukup lama, rombongan akhirnya ditemui oleh Kadensus 88 Anti Teror, Bareskrim Polri, Drs.S.Usman Nasution pada jam 11 siang. Setelah berbasa basi sejenak, Majelis Mujahidin yang diwakili Irfan S Awwas menyampaikan beberapa tuntutan. Pertama, dikarenakan M Jibril juga termasuk anggota Majelis Mujahidin, maka Majelis Mujahidin perlu mengetahui keberadaan anggotanya, yakni M Jibril, dan atas tuduhan teroris yang dialamatkan kepadanya. Selanjutnya, Irfan S Awwas juga menyampaikan bahwa karena beliau juga adalah paman dari M Jibril, sangat menyayangkan penangkapan ke M Jibril yang tidak prosedural, apalagi M Jibril sendiri adalah seorang juru dakwah, hal ini membuktikan dugaan bahwa Densus 88 anti Islam dan kaum Muslimin. Untuk itu, Majelis Mujahidin meminta kejelasan atas semua yang terjadi ini. Kadensus memberikan jawaban awal dan mengakui bahwa memang anggotanya telah menangkap M Jibril, setelah sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka. Sampai saat ini menurutnya masih terus dilakukan penyelidikan apakah ada hubungan antara M Jibril dengan peristiwa di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton. Kadensus berjanji berdasarkan ketentuan bahwa 7 x 24 jam jika M Jibril memang tidak terbukti bersalah maka akan dilepaskan. Kadensus juga menyampaikan permohonan maaf tidak bisa memperlihatkan M Jibril kepada rombongan dikarenakan masih berada di ‘lapangan’ dan tidak di satu tempat, untuk kepentingan penyelidikan. Kadensus juga menegaskan bahwa penangkapan M Jibril adalah murni masalah penegakan hukum dan tidak terkait dengan masalah lain. Ustadz Abu Jibril ; Kami Ingin Bertemu…! Ustadz Abu Jibril pada kesempatan itu menceritakan kronologis pen’culikan’ M Jibril, anak beliau. Padahal menurut beliau, setelah ada rilis DPO di TV, M Jibril telah disuruh pulang, dan bermaksud akan diantar ke Mabes Polri. Namun, beliau menyayangkan dan kecewa berat, karena justru tindakan-tindakan mirip preman yang dialami anaknya, yang bermaksud pulang ke Pamulang, dari kantornya di Bintaro. Beliau menuturkan bahwa M Jibril sempat ditelungkupkan, lalu ditekan dan diborgol. Pada saat itu, M Jibril sempat berteriak Allahu Akbar, dan sempat menarik perhatian orang, hingga meletus tembakan ke udara sebanyak satu kali. M Jibril lalu dipaksa masuk mobil dan dilarikan. Sempat terjadi kejar-kejaran, dan cerita selanjutnya sebagaimana sudah banyak diberitakan di media massa. Hal ini menurut Ustadz Abu Jibril menunjukkan ketidakprofesionalan aparat dalam penanganan terorisme. M Hariyadi Nasutioan, Coorporate Lawyer Ar Rahmah Media, mempertanyakan kejanggalan penetapan DPO kepada M Jibril. Karena menurut beliau pada hari Kamis malam (20 /8) M Jibril masih meliput untuk Arrahmah.com di Masjid Munawwarah di antara para aparat polisi yang berjaga-jaga, karena serangan oleh massa BMB. Jadi sangat aneh kalau M Jibril dijadikan DPO, karena dianya masih sering pulang pergi Bintaro Pamulang, meliput berita, dan pelbagai aktivitas lainnya. Jadi mengapa tidak dikeluarkan saja surat penangkapan secara resmi? Inikan polisi bukan preman, ujarnya. Mengapa dalam penangkapan itu juga tidak ada surat tugas. Jadi, sangat tidak profesional. Digugat seperti ini, Kadensus mengatakan bahwa DPO tidak keluar begitu saja, melainkan sudah dipertimbangkan masak-masak dan prosesnya lama. Artinya M Jibril sudah diawasi berhari-hari, sudah dikaji secara matang dan sudah ditanyakan kepada para saksi-saksi yang ditangkap terlebih dahulu. Kadensus kembali berjanji bahwa 7 x 24 jam tidak terbukti bersalah, maka M Jibril akan dilepaskan. Kami saat ini sedang kejar target tersebut. Umat Islam Tertuduh? Dialog masih berlanjut. Ustadz M Thalib, Amir Majelis Mujahidin menjelaskan hal-hal prinsip tentang pengertian jihad yang selalunya secara salah dikait-kaitkan dengan terorisme. Beliau juga menyoroti pola-pola yang berulang yang dilakukan aparat dalam memerangi Islam dan kaum Muslimin, Pada masa Soekarno ada UU Anti Revolusi, yang ujung-ujungnya memerangi Islam dan Kaum Muslimin, Lalu di masa Soeharto ada UU Subversif, yang juga anti Islam dan kaum Muslimin. Kini ada UU Anti Terorisme yg memusuhi aktivis dakwah Islam. Wallahu ‘alam.

Polisi Ungkap Kasus Prostitusi via Internet

Jakarta, (Analisa)

Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya berhasil mengungkap praktek prostitusi melalui internet atau sering disebut cyber sex.

“Saat ini baru satu tersangka yang kami tahan. Masih ada kemungkinan tersangka lainnya,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi, Raja Erizman di Jakarta, Selasa.

Dalam pengungkapan kasus ini seorang tersangkanya berhasil diamankan yakni Albert Timotius (27) yang bertindak sebagai germo beserta tiga wanita penghiburnya yang saat ini masih dijadikan saksi. Polisi masih enggan menyebutkan identitas tiga wanita ini.

Pengungkapan berawal dari pengakuan tiga saksi wanita yang telah ditangkap di sebuah hotel di Mangga Besar, Jakarta Barat beberapa waktu lalu. Penangkapan ini dimulai setelah polisi melakukan browsing di situs internet www. wanita18.com. Setelah itu, polisi mencoba melakukan transaksi beberapa kali hingga berhasil menangkap tiga wanita penghibur itu.

“Sudah tiga kali kami gagal untuk ketemu sama pelaku dan baru keempat kalinya ini kami berhasil menangkap ketiganya di sebuah hotel di Mangga Besar,” ujarnya.

Dari keterangan ketiga saksi ini Polisi mendapatkan nama Albert Temotius yang beralamat di Pasar Minggu, Jakarta Selatan sebagai pengelola atau germo. Setelah mendapat data akurat, Polisi kemudian menyambangi rumah pelaku itu dan menangkapnya, pada Senin (17/11) malam untuk dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya tersebut.

Kepada Polisi, Albert mengaku melakukan binis haramnya ini sejak 2007 meski situs tersebut sudah dibukanya sejak 2005. Dalam perekrutan calon wanita penghibur, pelaku awalnya melakukan chating. Kemudian menawarkan profesi tersebut dengan tarif Rp800 ribu hingga Rp1,6 juta per sekali kencan dengan pembagian Rp300 ribu untuk germo dan Rp500 ribu untuk wanita penghiburnya.

Setelah terjalin kesepakatan, calon-calon wanita penghibur ini diminta untuk mengirimkan foto yang nantinya akan dipajang di situs itu. Nantinya jika ada lelaki yang mengajak berkencan bisa langsung membayar tunai maupun melalui rekening bank.

“Ini pertama kalinya kami mengungkap kasus ini. Ada puluhan wanita yang ditampilkan dalam situs itu tapi kami baru menangkap tiga orang. Masih banyak situs seperti itu tetapi perlu proses untuk mengungkap itu,” ujarnya.

Raja juga mengatakan, selain memerlukan proses panjang untuk mengungkap kasusnya, polisi juga harus kerja keras untuk mengidentifikasi register pengelola yang diketahui sebagian besar adalah data palsu.

Sementara itu terhadap pelaku saat ini Polisi menjerat dengan pasal 296 tentang pencabulan dengan ancaman 1 tahun 4 bulan penjara dan pasal 506 KUHP dengan ancaman satu tahun penjara. (Ant)