Penyakit Aneh: Perut Rival Membusung bak Ibu Hamil

BATAM, KOMPAS.com — Memilukan! Itulah kesan pertama yang muncul saat Tribun melihat kondisi Rinanda Rival Rinata (2) di rumahnya, Kampung Tengah, RT 2 RW 2 Nomor 69, Kelurahan Lubuk Semut, Kecamatan Karimun, Kamis (28/1/2010).

Rival yang baru saja dimandikan neneknya tampak seperti anak-anak lain. Dari bibirnya, ia bisa bicara satu atau dua kata. Ia tak ubahnya anak-anak seusianya yang baru pandai berjalan.

Namun, ada yang berbeda saat melihat perutnya. Membusung. Ukurannya sangat besar, jauh melebihi tubuhnya. Bahkan, balita berkulit putih bersih itu terlihat seperti seorang ibu yang tengah hamil tua.

Namun, bungsu dari tiga bersaudara suami-istri Mazlan (41) dan Efriyana (39) itu tidak mengalami busung lapar seperti layaknya bayi yang mengalami kekurangan energi protein.

Pihak medis mengatakan, Rival mengidap penyakit megacolon atau penyempitan usus yang mengakibatkan proses pencernaan terganggu.

Dalam ilmu kedokteran, megacolon disebut juga dilatasi abnormal pada usus besar. Dilatasi ini mengakibatkan terjadinya kelumpuhan pada gerakan usus.

Kotoran pun menjadi keras dan menumpuk pada usus besar ini sehingga bisa mengakibatkan fecalomas atau disebut juga tumor tinja. (rachta yahya)

Aneh, Jika Tak Disentuh Suami Katiyem Kesakitan

SOLO, KOMPAS.com – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Moewardi Solo, Jawa Tengah, merawat pasien bernama Katiyem (46), rujukan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri, yang memiliki gejala penyakit aneh.

“Penyakit aneh ini sudah saya rasakan sejak enam tahun lalu,” kata Katiyem yang terbaring di salah satu ruang perawatan di RSUD Dr. Moewardi Solo, di Solo, Jumat.

Ia adalah warga RT03/RW04 Dusun Pojok, Gondang, Kabupaetn Wonogiri, Jateng, di rawat di RSUD Dr. Moewardi sejak Rabu (6/1). Ia mengaku, badannya merasa sangat sakit jika tidak berpegangan tangan dengan suaminya, Laman (59).

“Bahkan sebelum dirawat di rumah sakit ini, setiap hari kaki suami saya harus menumpang di badan saya. Kepala rasanya seperti ditarik-tarik kalau tidak berpegangan dan rasanya sakit semua, kepala pusing,” katanya.

Sejak enam tahun terakhir, katanya, dirinya hanya berbaring di tempat tidur dan tidak bisa beraktivitas secara normal. Laman mengaku, istrinya hanya bisa menangis karena merasakan badannya sakit jika ditinggalkan dirinya untuk bekerja.

“Tidak mau ditinggalkan, kalaupun saya ada keperluan lain, harus ada anak saya yang menggantikan memegang tangannya,” katanya.

Dokter rumah sakit setempat yang menangani pasien itu, dr. Djoko Suwito Sp.Kj., menyatakan, hingga saat ini dirinya belum bisa menyimpulkan penyakit yang diderita Katiyem.

Secara fisik, katanya, belum ditemukan gejala penyakit tertentu atas pasien itu. Hasil wawancara dengan pasien, katanya, Katiyem mengalami ilusi atau memiliki pikiran yang menyimpang dari kenyataan.

“Kondisi fisiknya tidak ada masalah, kecuali tubuh pasien yang buruk karena tidak bisa beraktivitas dan sangat kurus. Tetapi kami masih menunggu apakah ada gangguan di otaknya melalui foto rontgen yang akan dilakukan,” katanya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, katanya, penyakit tersebut lebih disebabkan kondisi psikologisosial pasien. “Sebab yang dirasakan pasien lebih kepada bentuk perasaan ketakutan yang berlebihan. Yang disayangkan kenapa baru sekarang ini dikirim ke Moewardi, padahal sudah berlangsung sejak enam tahun yang lalu,” katanya.

Ia mengaku, baru pertama kali menangani pasien dengan gejala seperti itu. Pihaknya masih membutuhkan waktu beberapa hari untuk memantau perkembangan kondisi fisik dan psikis pasien guna memastikan penyakit yang diderita Katiyem.