Menikahlah dengan Wanita Bisu Tuli Buta dan Lumpuh…


Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh ke luar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah terbitlah air liur Tsabit, terlebih-lebih di hari yang sangat panas dan di tengah rasa lapar dan haus yang mendera. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang terlihat sangat lezat itu. Akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah apel itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya.

Maka ia segera pergi ke dalam kebun buah-buahan itu dengan maksud hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah apel yang telah terlanjur dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja ia berkata, “Aku sudah memakan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya”. Orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku hanya khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya”.

Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, “Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini.” Pengurus kebun itu memberitahukan, “Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam”.

Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orangtua itu, “Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya : “Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka.”

Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba disana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata, “Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu sudikah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?” Lelaki tua yang ada di hadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, “Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.” Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, “Apa syarat itu tuan?” Orang itu menjawab, “Engkau harus mengawini putriku !”

Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, “Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang jatuh ke luar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?” Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, “Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang gadis yang lumpuh !”

Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan semacam itu patut dia persunting sebagai isteri gara-gara ia memakan setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, “Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !”

Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, “Aku akan menerima pinangannya dan perkawinannya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘Alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala”. Maka pernikahanpun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum�.”

Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi menjadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya.

Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. “Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada di hadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula”, kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya ?

Setelah Tsabit duduk disamping istrinya, dia bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa ?” Wanita itu kemudian berkata, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah”. Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?” Wanita itu menjawab, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?” tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata, “aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya mengunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala”.

Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita yang akan memelihara dirinya dan melindungi hak-haknya sebagai suami dengan baik. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, “Ketika kulihat wajahnya��Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap”.

Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik rupawan itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit.

Astagfirullah…Ada Kabar Pasangan Lesbian Menikah Secara Islam


15 Mei lalu, berlangsung pernikahan antara dua perempuan di Surabaya. Pernikahan secara Islam antara pasangan lesbian itu dihadiri seorang ulama. Kepada situs Gaya Nusantara, sang pemuka agama moderat itu menyatakan dirinya hanya memfasilitasi saja.

Menurut Dr. Dede Oetomo, pengamat masalah GLBT, Gay Lesbian Biseksual dan Transgender, perkembangan ini menunjukkan bahwa generasi lesbian dan gay sekarang menilai ingin menikah.

Dua orang beragama Islam, berkonsultasi dengan ulama progresif. “Menurut studi ulama itu, sebetulnya dua orang menikah tidak perlu ada otoritas yang meresmikannya. Cukup dua orang yang menyatakan janjinya untuk menikah. Pernikahan agama ini menurut ulama itu sah.” Walau demikian disadari bahwa menurut undang-undang itu tidak sah.

Tren Baru
Secara sosiologis perkimpoian ini menunjukkan bahwa generasi lesbian dan gay sekarang ini yang usianya 20-an tahun, berbeda dengan generasi tua, merasa ingin menikah. Gayanusantara pernah dua kali melakukan upacara pernikahan sekuler. Tanpa ada upacara agama, hanya ucapan janji dan kemudian mereka meminta sertifikat dari GAYaNusantara.

Dede menilai bahwa perkembangan ini menunjukkan tren menginginkan ikatan pernikahan itu diresmikan. Yang pertama adalah sekuler bukan agama, kalau yang ini tampaknya memang mencari jalur agama. Dan akhirnya mereka menemukan imam muda ini, walaupun ia tidak berani terbuka.

“Dia tidak berani menyatakan secara terbuka, karena kuatir posisinya akan diserang,” kata Dede. Dari kalangan pengantin sendiri sudah terbiasa dengan tanggapan negatif dari masyarakat luas. Menurut Dede Oetomo, pemikiran kalangan minoritasnya adalah ‘masa depan’ dan pihak pengkritisi adalah ‘masa lampau.’

Secara umum Dede Oetomo melihat peningkatan permintaan dari publik lesbian dan publik gay yang tidak bisa ditolak. Mereka sadar untuk mempublikasikan berita ini dengan hati-hati, tidak membuka nama kedua pengantin dan juga ulama yang menjadi saksinya.

Tanpa Wali
Mengenai kewalian yang dibutuhkan dalam pernikahan Islam, Dede Oetomo menyandarkan penjelasan dari ulama terkait yang mengatakan bahwa tidak semua mazhab mewajibkan adanya wali. Selanjutnya ia menolak memberikan penjelasan lebih jauh. “Karena sejarah pernikahan islam tidak sesederhana seperti yang kita ketahui sekarang. Di kalangan Sunni di mazhab Syafei.”

Menurut Dede, pernikahan ini adalah kelanjutan dari tren-tren feminisme Islam di Indonesia. Dibarengi dengan perkembangan Islam liberal. “Sekarang teman-teman gay, lesbian dan waria juga ikut dan menafsirkan ulang agama mereka. Apalagi di Islam tidak memiliki pengontrol doktrin seperti Vatikan.”

Menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan ada pihak yang mempermasalahkan dua wanita yang ingin menikah, maka pemerhati masalah gay dan lesbian itu menyandarkan pada undang-undang dasar yang menjamin semua orang untuk membentuk keluarga. “Jadi ini hak-hak asasi manusia. Kalau itu tidak bisa berarti haknya warga negara belum dijamin.” K edepannya pihaknya akan memperjuangkan perubahan undang-undang perkawinan.

Astaghfirullahal adzim, begitulah kelakuan manusia kalau tidak berpedoman pada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah….

Proses Tata Cara Pernikahan Yang Islami

nikahSesungguhnya Islam telah memberikan tuntunan kepada pemeluknya yang
akan memasuki jenjang pernikahan, lengkap dengan tatacara atau
aturan-aturan Allah Subhanallah. Sehingga mereka yang tergolong ahli ibadah, tidak akan memilih tata cara yang lain. Namun di masyarakat kita, hal ini tidak banyak diketahui orang.

Pada risalah yang singkat ini, kami akan mengungkap tata cara penikahan sesuai dengan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam yang hanya dengan cara inilah kita terhindar
dari jalan yang
sesat (bidah). Sehingga orang-orang yang
mengamalkannya akan berjalan
di atas landasan yang jelas tentang ajaran agamanya
karena meyakini
kebenaran yang dilakukannya. Dalam masalah pernikahan
sesunggguhnya
Islam telah mengatur sedemikian rupa. Dari mulai
bagaimana mencari
calon pendamping hidup sampai mewujudkan sebuah pesta
pernikahan.
Walaupun sederhana tetapi penuh barakah dan tetap
terlihat mempesona.
Islam juga menuntun bagaimana memperlakukan calon
pendamping hidup
setelah resmi menjadi sang penyejuk hati.
Berikut ini kami akan membahas tata cara pernikahan
menurut Islam
secara singkat.

Hal-Hal Yang Perlu Dilakukan Sebelum Menikah

I. Minta Pertimbangan

Bagi seorang lelaki sebelum ia memutuskan untuk
mempersunting seorang
wanita untuk menjadi isterinya, hendaklah ia juga
minta pertimbangan
dari kerabat dekat wanita tersebut yang baik agamanya.
Mereka
hendaknya orang yang tahu benar tentang hal ihwal
wanita yang akan
dilamar oleh lelaki tersebut, agar ia dapat memberikan
pertimbangan
dengan jujur dan adil. Begitu pula bagi wanita yang
akan dilamar oleh
seorang lelaki, sebaiknya ia minta pertimbangan dari
kerabat dekatnya
yang baik agamanya.

II. Shalat Istikharah

Setelah mendapatkan pertimbangan tentang bagaimana
calon isterinya,
hendaknya ia melakukan shalat istikharah sampai
hatinya diberi
kemantapan oleh Allah Taala dalam mengambil keputusan.

Shalat istikharah adalah shalat untuk meminta kepada
Allah Taala agar
diberi petunjuk dalam memilih mana yang terbaik
untuknya. Shalat
istikharah ini tidak hanya dilakukan untuk keperluan
mencari jodoh
saja, akan tetapi dalam segala urusan jika seseorang
mengalami rasa
bimbang untuk mengambil suatu keputusan tentang urusan
yang penting.
Hal ini untuk menjauhkan diri dari kemungkinan
terjatuh kepada
penderitaan hidup. Insya Allah ia akan mendapatkan
kemudahan dalam
menetapkan suatu pilihan.

III. Khithbah (peminangan)

Setelah seseorang mendapat kemantapan dalam menentukan
wanita
pilihannya, maka hendaklah segera meminangnya.
Laki-laki tersebut
harus menghadap orang tua/wali dari wanita pilihannya
itu untuk
menyampaikan kehendak hatinya, yaitu meminta agar ia
direstui untuk
menikahi anaknya. Adapun wanita yang boleh dipinang
adalah bilamana
memenuhi dua syarat sebagai berikut, yaitu:

1. Pada waktu dipinang tidak ada halangan-halangan
syari yang
menyebabkan laki-laki dilarang memperisterinya saat
itu. Seperti
karena suatu hal sehingga wanita tersebut haram dini
kahi selamanya
(masih mahram) atau sementara (masa iddah/ditinggal
suami atau ipar
dan lain-lain).
2. Belum dipinang orang lain secara sah, sebab Islam
mengharamkan
seseorang meminang pinangan saudaranya.

Dari Uqbah bin Amir radiyallahu anhu bahwa Rasulullah
shallallahu
alaihi wa sallam bersabda: “Orang mukmin adalah
saudara orang mukmin
yang lain. Maka tidak halal bagi seorang mukmin
menjual barang yang
sudah dibeli saudaranya, dan tidak halal pula meminang
wanita yang
sudah dipinang saudaranya, sehingga saudaranya itu
meninggalkannya.”
(HR. Jamaah)

Apabila seorang wanita memiliki dua syarat di atas
maka haram bagi
seorang laki-laki untuk meminangnya.

IV. Melihat Wanita yang Dipinang

Islam adalah agama yang hanif yang mensyariatkan
pelamar untuk melihat
wanita yang dilamar dan mensyariatkan wanita yang
dilamar untuk
melihat laki-laki yang meminangnya, agar masing-
masing pihak
benar-benar mendapatkan kejelasan tatkala menjatuhkan
pilihan pasangan
hidupnyaDari Jabir radliyallahu anhu, bersabda
Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam:

“Apabila salah seorang di antara kalian meminang
seorang wanita, maka
apabila ia mampu hendaknya ia melihat kepada apa yang
mendorongnya
untuk menikahinya.” Jabir berkata: “Maka aku meminang
seorang budak
wanita dan aku bersembunyi untuk bisa melihat apa yang
mendorong aku
untuk menikahinya. Lalu aku menikahinya.” (HR. Abu
Daud dan dihasankan
oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Sunan Abu Dawud,
1832). Adapun
ketentuan hukum yang diletakkan Islam dalam masalah
melihat pinangan
ini di antaranya adalah:

1. Dilarang berkhalwat dengan laki-laki peminang tanpa
disertai mahram.
2. Wanita yang dipinang tidak boleh berjabat tangan
dengan laki- laki
yang meminangnya.

V. Aqad Nikah

Dalam aqad nikah ada beberapa syarat dan kewajiban
yang harus dipenuhi:

a. Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai.
b. Adanya ijab qabul.

Ijab artinya mengemukakan atau menyatakan suatu
perkataan. Qabul
artinya menerima. Jadi Ijab qabul itu artinya
seseorang menyatakan
sesuatu kepada lawan bicaranya, kemudian lawan
bicaranya menyatakan
menerima. Dalam perkawinan yang dimaksud dengan “ijab
qabul” adalah
seorang wali atau wakil dari mempelai perempuan
mengemukakan kepada
calon suami anak perempuannya/ perempuan yang di bawah
perwaliannya,
untuk menikahkannya dengan lelaki yang mengambil
perempuan tersebut
sebagai isterinya. Lalu lelaki bersangkutan menyatakan
menerima
pernikahannya itu. Diriwayatkan dalam sebuah hadits
bahwa:
Sahl bin Said berkata: “Seorang perempuan datang
kepada Nabi
shallallahu alaihi wa sallam untuk menyerahkan
dirinya, dia berkata:
“Saya serahkan diriku kepadamu.” Lalu ia berdiri lama
sekali (untuk
menanti). Kemudian seorang laki-laki berdiri dan
berkata: “Wahai
Rasulullah kawinkanlah saya dengannya jika engkau
tidak berhajat
padanya.” Lalu Rasulullah shallallahu alaih wa sallam
bersabda: “Aku
kawinkan engkau kepadanya dengan mahar yang ada
padamu.” (HR. Bukhari
dan Muslim).

Hadist Sahl di atas menerangkan bahwa Rasulullah
shallallahu alaihi wa
sallam telah mengijabkan seorang perempuan kepada Sahl
dengan mahar
atau maskawinnya ayat Al-Quran dan Sahl menerimanya.

c. Adanya Mahar (mas kawin)

Islam memuliakan wanita dengan mewajibkan laki-laki
yang hendak
menikahinya menyerahkan mahar (mas kawin). Islam tidak
menetapkan
batasan nilai tertentu dalam mas kawin ini, tetapi
atas kesepakatan
kedua belah pihak dan menurut kadar kemampuan. Islam
juga lebih
menyukai mas kawin yang mudah dan sederhana serta
tidak
berlebih-lebihan dalam memintanya.

Dari Uqbah bin Amir, bersabda Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam:
“Sebaik-baik mahar adalah yang paling ringan.” (HR.
Al-Hakim dan Ibnu
Majah, shahih, lihat Shahih Al-Jamius Shaghir 3279
oleh Al-Albani)

d. Adanya Wali

Dari Abu Musa radliyallahu anhu, Nabi shallallahu
alaihi wa sallam
bersabda: “Tidaklah sah suatu pernikahan tanpa wali.”
(HR. Abu Daud
dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih
Sunan Abi Dawud no.
1836).Wali yang mendapat prioritas pertama di antara
sekalian
wali-wali yang ada adalah ayah dari pengantin wanita.
Kalau tidak ada
barulah kakeknya (ayahnya ayah), kemudian saudara
lelaki seayah seibu
atau seayah, kemudian anak saudara lelaki. Sesudah itu
barulah
kerabat-kerabat terdekat yang lainnya atau hakim.

e. Adanya Saksi-Saksi

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak sah suatu pernikahan tanpa seorang wali dan dua
orang saksi
yang adil.” (HR. Al-Baihaqi dari Imran dan dari
Aisyah, shahih, lihat
Shahih Al-Jamius Shaghir oleh Syaikh Al-Albani no.
7557).

Menurut sunnah Rasul shallallahu alaihi wa sallam,
sebelum aqad nikah
diadakan khuthbah lebih dahulu yang dinamakan
khuthbatun nikah atau
khuthbatul-hajat.

VI. Walimah

Walimatul Urus hukumnya wajib. Dasarnya adalah sabda
Rasulullah
shallallahu alaih wa sallam kepada Abdurrahman bin
Auf:

“….Adakanlah walimah sekalipun hanya dengan seekor
kambing.” (HR.
Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Alabni dalam Shahih
Sunan Abu Dawud
no. 1854)

Memenuhi undangan walimah hukumnya juga wajib.”Jika
kalian diundang
walimah, sambutlah undangan itu (baik undangan
perkawinan atau yang
lainnya). Barangsiapa yang tidak menyambut undangan
itu berarti ia
telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR.
Bukhari 9/198,
Muslim 4/152, dan Ahmad no. 6337 dan Al-Baihaqi 7/262
dari Ibnu Umar).

Akan tetapi tidak wajib menghadiri undangan yang
didalamnya terdapat
maksiat kepada Allah Taala dan Rasul-Nya, kecuali
dengan maksud akan
merubah atau menggagalkannya. Jika telah terlanjur
hadir, tetapi tidak
mampu untuk merubah atau menggagalkannya maka wajib
meninggalkan
tempat itu.

Dari Ali berkata: “Saya membuat makanan maka aku
mengundang Nabi
shallallahu `alaihi wa sallam dan beliaupun datang.
Beliau masuk dan
melihat tirai yang bergambar maka beliau keluar dan
bersabda:

“Sesungguhnya malaikat tidak masuk suatu rumah yang di
dalamnya ada
gambar.” (HR. An-Nasai dan Ibnu Majah, shahih, lihat
Al-Jamius Shahih
mimma Laisa fis Shahihain 4/318 oleh Syaikh Muqbil bin
Hadi Al-Wadii).

Adapun Sunnah yang harus diperhatikan ketika
mengadakan walimah adalah
sebagai berikut:

1. Dilakukan selama 3 (tiga) hari setelah hari dukhul
(masuk- nya)
seperti yang dibawakan oleh Anas radliallahu `anhu,
katanya:

Dari Anas radliallahu `anhu, beliau berkata:
“Rasulullah
shallallahu`alaihi wa sallam telah menikahi Shafiyah
dengan maskawin
pembebasannya (sebagai tawanan perang Khaibar) dan
mengadakan walimah
selama tiga hari.” (HR. Abu Yala, sanad hasan, seperti
yang terdapat
pada Al-Fath 9/199 dan terdapat di dalam Shahih
Bukhari 7/387 dengan
makna seperti itu. Lihat Adabuz Zifaf fis Sunnah
Al-Muthaharah oleh
Al-Albani hal. 65)

2. Hendaklah mengundang orang-orang shalih, baik
miskin atau kaya
sesuai dengan wasiat Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam:

“Jangan bersahabat kecuali dengan seorang mukmin dan
jangan makan
makananmu kecuali seorang yang bertaqwa.” (HR. Abu
Dawud, At-Tirmidzi,
Ibnu Hibban dan Al-Hakim dari Abi Said Al-Khudri,
hasan, lihat Shahih
Al-Jamius Shaghir 7341 dan Misykah Al-Mashabih 5018).

3. Sedapat mungkin memotong seekor kambing atau lebih,
sesuai dengan
taraf ekonominya. Keterangan ini terdapat dalam hadits
Al-Bukhari,
An-Nasai, Al-Baihaqi dan lain-lain dari Anas
radliallahu `anhu.
Bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
kepada Abdurrahman
bin Auf:

“Adakanlah walimah meski hanya dengan seekor kambing.”
(HR. Abu Dawud
dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu
Dawud no. 1854)

Akan tetapi dari beberapa hadits yang shahih
menunjukkan dibolehkan
pula mengadakan walimah tanpa daging. Dibolehkan pula
memeriahkan
perkawinan dengan nyanyi-nyanyian dan menabuh rebana
(bukan musik)
dengan syarat lagu yang dinyanyikan tidak bertentangan
dengan ahklaq
seperti yang diriwayatkan dalam hadits berikut ini:
Dari Aisyah bahwasanya ia mengarak seorang wanita
menemui seorang pria
Anshar. Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:
“Wahai Aisyah,
mengapa kalian tidak menyuguhkan hiburan? Karena kaum
Anshar senang
pada hiburan.” (HR. Bukhari 9/184-185 dan Al-Hakim
2/184, dan
Al-Baihaqi 7/288). Tuntunan Islam bagi para tamu
undangan yang datang
ke pesta perkawinan hendaknya mendoakan kedua mempelai
dan
keluarganya.Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwa
Rasulullah
shallallahu alaih wa sallam jika mengucapkan selamat
kepada seorang
mempelai, beliau mengucapkan doa: “Mudah-mudahan Allah
memberimu
berkah. Mudah-mudahahan Allah mencurahkan keberkahan
kepadamu dan
mudah – mudahan Dia mempersatukan kalian berdua dalam
kebajikan.” (HR.
Said bin Manshur di dalam Sunannya 522, begitu pula
Abu Dawud 1/332
dan At-Tirmidzi 2/171 dan yang lainnya, lihat Adabuz
Zifaf hal. 89)

Adapun ucapan seperti “Semoga mempelai dapat murah
rezeki dan banyak
anak” sebagai ucapan selamat kepada kedua mempelai
adalah ucapan yang
dilarang oleh Islam, karena hal itu adalah ucapan yang
sering
dikatakan oleh Kaum jahiliyyah.

Dari Hasan bahwa Aqil bin Abi Thalib menikah dengan
seorang wanita
dari Jisyam. Para tamu mengucapkan selamat dengan
ucapan jahiliyyah:
“Bir rafa wal banin.” Aqil bin Abi Thalib mencegahnya,
katanya:
“Jangan kalian mengatakan demikian karena Rasulullah
melarangnya.”
Para tamu bertanya: ” Lalu apa yang harus kami ucapkan
ya Aba Zaid?”
Aqil menjelaskan, ucapkanlah: “Mudah- mudahan Allah
memberi kalian
berkah dan melimpahkan atas kalian keberkahan.”
Seperti itulah kami
diperintahkan. (HR. Ibnu Abi Syaibah 7/52/2, An-Nasai
2/91, Ibnu Majah
1/589 dan yang lainnya, lihat Adabuz Zifaf hal. 90)

Demikianlah tata cara pernikahan yang disyariatkan
oleh Islam. Semoga
Allah Taala memberikan kelapangan bagi orang- orang
yang ikhlas untuk
mengikuti petunjuk yang benar dalam memulai hidup
berumah tangga
dengan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaih
wa sallam.
Mudah-mudahan mereka digolongkan ke dalam hamba-hamba
yang dimaksudkan
dalam firman-Nya: “Yaitu orang-orang yang berdoa: Ya
Rabb kami,
anugerahkan kepada kami isteri-isteri kami dan
keturunan kami sebagai
penyenang hati (kami). Dan jadikanlah kami imam bagi
orang-orang yang
bertaqwa.” (Al-Furqan: 74).

Nikah Sirri Tidak Sesuai Sunnah

Assalamu’alaikum wr wb,
Nabi berkata:
“….Adakanlah walimah (kenduri) sekalipun hanya
dengan seekor kambing.” (HR. Abu Dawud)

Berdasarkan itu, maka nikah sirri (nikah diam-diam)
tidak sesuai sunnah.

Diadakan walimah agar orang2 bisa tahu bahwa si A dan
si B sudah menikah. Jadi tidak timbul fitnah.

Tak heran jika pasangan yang melakukan nikah Siri
sering mengalami masalah. Ketika nikah orang yang tak
tahu mengira mereka berzina. Ketika cerai, ada
pasangan yang tidak mengakui bahwa mereka pernah
menikah dan tidak ada saksi.

Wassalam

KISAH NYATA HABIS “ML” LANGSUNG JIHAD

Ini adalah kisah nyata seorang pemuda yang baru melakukan pernikahan dan di malam pertama terjadi peperangan…. demi membela agamanya maka dia rela meninggalkan istrinya dan langsung berjihad ke medan perang…

Siapakah pemuda itu…???

Salah seorang sahabat serta jurutulis Rasulullah SAW yang terkenal ialah Abu Hanzalah bin Ar Rabie. Ketika peperangan Uhud meletus beliau baru saja dinikahkan. Oleh karena itu Rasulullah mengecualikan beliau dari turut serta ke medan peperangan. Inilah cara Rasulullah untuk merayakan kebahagiaan sahabat baginda.

Namun ketika Hanzalah terjaga dari tidurnya, beliau mendengar gendang perang dibunyikan begitu kuat sekali. Melalui seorang sahabatnya beliau mendapat berita bahwa tentera Islam mendapat tantangan yang hebat. dan dalam keadaan terlalu genting.

Tanpa membuang waktulagi Hanzalah lalu memakai pakaian perang lalu mengambil pedang. Dia menuju ke medan tempur tanpa sempat mandi junub.

Maka terjadilah pertempuran hebat sehingga banyak dari pihak Islam yang gugur syahid. Pihak musuh telah menyerang dari belakang. Akhirnya Hanzalah turut menjadi korban dalam keadaan sedang junub.

maka Rasulullah SAW pun melihat mayat Hanzalah dimandikan oleh para malaikat seperti mana tercantum dalam sabdanya: “Aku melihat diantara langit dan bumi para malaikat memandikan mayat Hanzalah dengan air dari awan di dalam bejana perak.”

Para sahabat tercengang-cengang mendengar ini. Salah seorang dari mereka, Abu Said Saidi lalu pergi melihat mayat Hanzalah. Wajah Hanzalah kelihatan tenang. Dari rambutnya kelihatan titisan air berlinangan turun. Sungguh beruntung Hanzalah mendapat layanan yang begitu istimewa dari malaikat. Tidak pernah terjadi dalam sejarah seorang syahid dimandikan dengan cara yang luarbiasa ini. Malahan matinya sebagai syuhada menjadikan ia sebagai penghuni syurga tanpa dihisab.

subhanallah…