Ya Allah Jika Aku Masuk Neraka, Besarkanlah Badanku Sehingga Orang Lain Tak Bisa Masuk

Ya Allah Jika Aku Masuk Neraka, Besarkanlah Badanku Sehingga Orang Lain Tak Bisa Masuk.
Ini adalah permintaan seorang ahli ibadah yang saat taat beribadah selama 60 tahun lamanya. Selama 60 tahun itu kerjanya hanya beribadah saja kepada Allah, sampai-sampai batu tempat dia sujud lekuk membekas kepalanya.
Ahli ibadah ini hidup di jaman Nabi Musa alaihi salam. Pada saat dia berjumpa kepada nabi Musa ia berkata kepada Nabi Musa,”Hai nabi Musa tanyakan kepada Allah saya sudah beribadah selama 60 tahun lamanya, di surga manakah nanti aku akan ditempatkan?”
Nabi Musa pun pergi menemui Allah dan menanyakan perihal umatnya yang ahli ibadah itu. Tapi alangkah terkejutnya bahwa ahli ibadah itu tempatnya adalah di neraka
Dengan berat hati Nabi Musa pun menyampaikan kepada ahli ibadah itu. Alangkah sedihnya ahli ibadah itu. Sambil menangis ia berdoa kepada Allah “Ya Allah Jika Aku Masuk Neraka, Besarkanlah Badanku Sehingga Orang Lain Tak Bisa Masuk.”
Tak berapa lama kemudian Nabi Musa kembali kepada Ahli Ibadah itu dan menyampaikan bahwa sekarang tempatnya adalah di surga. Apakah hanya karena doa yang singkat itu menyebabkan dia masuk surga…?

Bagaimana pandangan para pembaca mengenai kisah ini…?

Wallahu ‘alam bi showab.

PERMINTAAN UNTUK BISA MELIHAT ALLAH

al-baqarah-108Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rafi’ bin Huraimalah dan Wahab bin zaid berkata kepada Rasulullah SAW: “Hai Muhammad! Cobalah turunkan kepada kami suatu kilat yang akan kami baca, atau buatlah sungai yang mengalir airnya, pasti kami akan mengikuti dan mempercayai tuan.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (S. 2: 108) sebagai peringatan agar umat Islam tidak mengikuti bani Israil di dalam mengikuti ajaran Rasul.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa’id atau ‘Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa orang kafir Quraisy meminta kepada Nabi Muhammad SAW supaya gunung Shafa dijadikan emas. Maka Nabi SAW bersabda: “Baiklah, akan tetapi apabila kamu kufur, gunung ini akan berakibat seperti hidangan yang diminta bani Israil.” (Sebagaimana tercantum dalam surat al-Maidah 112/115, kaum Hawariyyun meminta kepada Nabi ISa, agar Allah menurunkan hidangan dari langit. Allah mengabulkannya dengan ancaman siksaan bagi orang yang kufur kepada-Nya.) Kaum Quraisy menolak syarat tersebut, kemudian pulang. Maka Allah menurunkan ayat ini (S. 2: 108) berkenaan dengan peristiwa tersebut.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid.)

Menurut riwayat lain turunnya ayat ini (S. 2: 108) sehubungan dengan peristiwa ketika orang-orang Arab meminta kepada Nabi Muhammad SAW agar mendatangkan Allah kepada mereka, sehingga dapat terlihat dengan nyata oleh mata mereka.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi.)

Menurut riwayat lain dikemukakan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulullah, bagaimana kalau kifarat (denda tebusan dosa) kami disamakan saja dengan kifarat bani Israil? Nabi SAW menjawab: “Maha Suci Allah, sungguh aku tidak menghendakinya. Karena Allah memberikan kepadamu yang lebih baik daripada yang diberikan kepada bani Israil dahulu. Apabila mereka melakukan kejahatan, tertulislah itu di atas pintu rumah mereka dan kifaratnya. Apabila telah ditunaikan kifaratnya, tinggallah kehinaan baginya di dunia. Dan apabila tidak ditunaikan mereka akan mendapat pula kehinaan di akhirat. Bukankah Allah telah memberikan yang lebih baik kepadamu daripada itu dengan firman-Nya: “Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian ia minta ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS 4: 110). Dan selanjutnya Nabi SAW bersabda: “Shalat yang lima, dan shalat Jum’at sampai Shalat Jum’at berikutnya menjadi kifarat kesalahan yang dikerjaan di antara waktu kesemuanya itu.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (S. 2:108), sebagai teguran terhadap orang yang ingin mengubah ketentuan Allah.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Abal-‘Aliah.)