Inilah Cara Membasmi Maling & Koruptor

Banyak kita baca di media massa berita-berita mengenai penganiayaan dan penghakiman massal bagi pencuri atau maling yang tertangkap basah..ada yang dihajar sampai mati dan bahkan ada yang dibakar hidup-hidup,.mengapa ini terjadi…

Bagi maling atau pencuri hukuman kurungan penjara tidak cukup baginya untuk membuatnya jerah dan bertobat. Karena hukuman kurungan masih tergolong ringan dan tidak membuatnya jerah dan bertobat.

Mengapa rasulullah menetapkan hukuman pencuri atau maling harus dipotong tangannya.
Dari beberapa pengalaman akibat yang dilakukan oleh pencuri sangat merugikan bagi korban yang dicuri. Walaupun sebenarnya benda yang dicuri itu tidak begitu mahal, apalagi benda yang mahal. Kerugian inmateril yang dialami korban antara lain:
1. Merasa terganggu privasi dan harga dirinya.
2. Merasakan efek trauma yang tingkatannya berbeda-beda tergantung dari emosional dan sifat mental dari si korban.
3. Merasakan sakit hati dan perasaan marah yang merugikan kesehatan jasmani dan rohani.
4. Mengalami penyesalan atas peristiwa tersebut dan perasaan bersalah apabila dia sebagai pemegang amanat dari benda yang dicuri.
5. Merasakan kesedihan yang mendalam jika benda yang dicuri adalah benda kesayangan.
Kerugian inmaterial ini sebenarnya tidak bisa dinilai dengan uang, walaupun benda yang dicuri bisa diganti benda yang baru atau yang lain tapi perasaan perasaan tersebut akan sulit menghilangkannya dan membutuhkan waktu yang lama. Maka tak heran jika ada pencuri yang tertangkap walaupun pencuri itu bukan yang mencuri benda kita tapi kita ikut puas jika bisa menghakiminya. Maka tak heran ada pencuri yang dibakar hidup-hidup oleh masa gara2 hanya mencuri ayam saja.

Efek bagi pencuri jika mendapatkan hukuman yang ringan antara lain: 1. Merasa bangga dan senang jika berhasil mencuri dan tidak ketahuan.
2. Mengalami efek ketagihan seperti kecanduan narkoba.(memang hasil curiannya untuk beli narkoba). 3. Menghilangkan perasaan takut jika sering mencuri dan tidak ketahuan. 4. Membandingkan hukuman yang ringan dengan hasil curian yang lebih besar.
5. Tidak diketahui bahwa dia bekas pencuri karena tidak ada tanda di badannya. Jika dia berada di daerah lain setelah menjalani hukuman.

Jika dipotong tangan mereka akan jerah dan mungkin tidak mau mencuri lagi dan di dunia sudah tidak dipercayai orang dan akhirnya dia bertobat dan hanya beribadah kepada Allah.

Pernahkah anda kecurian dan bagaimana perasaan anda…?

Pro Kontra Syeh Puji Heboh Lagi ” Syeh Puji Tuntut LSM Ke Pengadilan”

Firman Allah dalam Al Qur’an QS An Nuur 12:

Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.”

Syeh Puji sosok yang sedang ramai dibicarakan sekarang ini pro kontra terus bergulir. Kesempatan media massa dan blog untuk saling menaikan rating dan ranking. Ujung-ujungnya adalah uang dan uang.
Apa yang salah dengan syeh Puji?

Allah berfirman dalam Al Qur’an Surat Al Maa’idah ayat 5:

Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan[402] diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.

Dari ayat ini kita tahu bahwa shey puji “tidak salah” jika memang dia telah nikah secara syah dan tidak bemaksud menjadikan Ulfa sebagai gundiknya. Karena dia nikah secarah sah.

Kesalahan shey Puji yang fatal adalah kearogansiannya, dan sebagaian orang menganggap dia sombong. Dia melakukan nikah sirih artinya nikah degan cara rahasia…eh tapi seluruh Indonesia tahu tentang pernikahannya.
Jika Syeh Puji orang biasa dan orang miskin mungkinkah Seh Puji bisa menikahi gadis ABG..? menurut anda bisa atau tidak? 99% tidak bisa. Karena apa “miskin…”
Bagi orang berduit yang tidak mau menikah dan supaya istrinya tidak tahu dan tidak heboh gimana caranya supaya bisa seperti Seh Puji.. Jalannya adalah maksiat berzina boking ABG di jalan atau lewat SMS dll,JK (janji kencan),dll.
Hal seperti ini kenapa tidak dihebohkan…

Hukum Al Qur’an tidak ada batasan umur dalam pernikahan yang penting sudah Baligh dan tanda Baligh itu ditandai untuk wanita adalah sudah menstruasi, dan untuk pria sudah mimpi basah (mimpi yang menyebabkan keluar mani).

Hukum – hukum tentang perkawinan dapat anda baca di Al Qur’an yaitu pada:
Ayat-ayat berikut ini: (S:A keterangan S= nomor surat, A=nomor ayat)

Perintah nikah: 4:3, 24:32, 30:21
Perkawinan merupakan sunnahnya para rasul: 13:38
Wanita-wanita yang diharamkan menikahinya
Haram menikahi isteri-isteri Nabi: 33:6, 33:53
Wanita-wanita yang diharamkan mengawininya karena nasab
Yang diharamkan atas wanita karena nasab: 4:23
Menghimpun dua saudara (kakak-beradik): 4:23
Wanita yang diharamkan kawin karena satu susuan: 4:23
Wanita yang diharamkan kawin karena akad nikah
Yang diharamkan atas wanita sebab pernikahan: 4:23
Haram menikahi anak tiri: 4:23
Haram menikahi ibu tiri: 4:22
Kawin lebih dari empat
Nabi kawin lebih dari empat: 33:50
Menikahi selain wanita muslimah
Kawin dengan perempuan ahli kitab: 5:5
Kawin dengan perempuan musyrik: 2:221, 60:10
Kawin dengan perempuan kafir yang memeluk Islam: 2:221
Muhrim
Muhrim perempuan: 24:31, 33:55
Muhrim melihat perhiasan wanita: 33:55
Kawin dengan wanita yang sedang dalam masa ‘iddah: 2:235
Kawin dengan wanita yang bersuami: 4:24, 4:25
Pertunangan
Disyariatkannya pertunangan: 2:235
Apa yang dibolehkan bagi pihak laki-laki
Memilih wanita
Kebebasan memilih wanita: 2:240
Cara terbaik memilih wanita: 4:25, 24:3, 25:74
Hukum menikahi perawan: 66:5
Hukum menikahi janda: 66:5
Hukum menikahi penzina: 24:3
Memilih wanita yang shaleh: 4:34, 24:26, 25:74, 66:5
Hukum menikahi hamba wanita: 4:25, 24:32
Melihat wanita: 24:30
Hukum wanita melihat laki-laki: 24:31
Memperlihatkan wanita kepada peminang: 28:27
Hukum nikah: 24:32
Hukum nikah muhallil: 2:230
Akad nikah
Syarat-syarat akad nikah
Perwalian dalam akad nikah
Syarat adanya wali dalam akad nikah: 2:232
Wali kafir atas wanita muslimah: 60:10
Menolaknya wali: 2:232, 4:127
Syarat adanya mahar (mas kawin) dalam nikah
Mahar merupakan hak isteri
Perkawinan tanpa mahar: 4:4, 4:20, 4:21, 4:24, 4:25, 5:5, 60:10
Batas mahar: 2:236, 4:4
Sederhana dalam menetapkan mahar: 4:20
Pembebasan suami dari mahar: 4:25
Menahan mahar dari isteri: 2:237, 4:4
Yang boleh dijadikan mahar: 2:229, 4:4, 4:20, 4:21
Menjadikan manfaat sebagai mahar: 28:27
Sebab wajibnya mahar: 4:21, 4:24

Akibat yang terjadi jika nikah dibatas-batasi dengan umur,kemapanan,ekonomi,sudah tamat sekolah/kuliah yang timbul adalah perzinahan…dan negara kita sudah merasakan akibat itu. Kita saksikan betapa pergaulan bebas di sekolah mulai SMP,SMA sampai kuliah… bukti sudah banyak yaitu beredarnya video porno mereka di internet dan HP mereka sendiri. Ada lagi survey bahwa pelajar di suatu kota sudah hampir 90% tidak perawan lagi. Dosa ini siapa yang menanggung.. tentunya para orang tua dan juga para pembuat kebijakan yang tidak bijak dan hukum yang tidak berlandaskan syariat Islam.
Ada temen saya yang tidak berani menikah sampai sekarang karena menganggap dirinya tidak mampu secara ekonomi alasannya belum punya kerjaan tetap, yang sudah punya kerjaan bilang belum punya rumah,yang sudah punya rumah bilang belum punya mobil,dll. Akhirnya untuk melampiaskan nafsuh sahwatnya dengan zina (nauzubillah minjalik). Alasannya tidak repot dan katanya suka-sama suka khan dosa bagi dua? (Astaghfirullah).

Kesalahan kita dalam menjalankan syariat Islam adalah arogansi dan membanggakan diri hal ini adalah hal yang dibenci Allah SWT. Sesuatu amalan yang baik tidak akan menjadi baik jika pelaksanaannya menyimpang dari ketentuan Allah dan Rasulullah SAW. Hal inilah yang membuat umat Islam selalu di fitnah dan disudutkan.
Kita ini manusia biasa belum mampu mengartikan dan mentafsirkan Al Qur’an dari pemikiran kita sendiri.
Mengapa Allah membolehkan poligami ? Secara akal pikiran manusa tidak ada keadilan disini. Poligami dibolehkan sedangkan poliandri tidak boleh. Dan orang-orang di luar Islam atau Islam tapi masih “mikir-mikir” mereka akan menolak hukum ini…
Padahal Allah itu yang menciptakan manusia dan tahu tentang kebutuhan manusia yang diciptakannya.
Pernah sekelompok dokter melakukan penelitian bahwa resiko kematian laki-laki mati mudah lebih tinggi dibanding wanita. Hal-hal yang menyebabkan laki-laki mati mudah adalah:
Peperangan karena banyak laki-laki yang menjadi tentara dan polisi
Kecelakaan lalulintas karena banya pria yang menjadi sopir angkutan
Penyakit dan kerentanan tubuh karena laki-laki yang kerja berat sebagai kuli dan sebagainya
Kanker Otak karena laki-laki yang sering berfikir menghidupi keluarganya.
Jadi dengan resiko itu maka banyaknya janda dan anak yatim pasti akan meningkat. Dan kalo tidak ada yang menikahi janda-janda itu kemana larinya mereka…? secara pintas dunia hitamlah yang akan menampung mereka. (“Tapi kebanyakan yang mau poligami tidak mau menikahi janda yang susah dan banyak anaknya..dicari janda yang bahenol dan kaya 🙂 “)

Seh Puji menuntut LSM yang melaporkannya melakukan tindak pidana itu hak Dia, tetapi dia juga telah melanggar hukum yang dibuat oleh UU negara, menikah dibawah tangan itu melanggar UU. walaupun kita Islam memakai hukum Islam harus juga mentaati hukum negara karena kita hidup di negara Indonesia. Dan kenapa bisa menuntut lagi-lagi yah masalah materi, kalo kita miskin jangankan bisa menuntut.. ya kita terus yang kena tuntut.

Tapi bagi yang miskin jangan berkecil hati. Kata Rasulullah orang miskin itu akan duluan masuk Surga, karena hartanya tidak banyak jadi pertanyaannya juga tidak banyak. Karena untuk masalah harta pertanyaannya ada dua darimana didapat dan dimana dikeluarkan.

Semoga bisa menjadi pencerahan bagi kita semua…Amin.

Hukum waris Islam mengatur atau memaksa?

Hukum waris Islam mengatur atau memaksa?
Friday, 31 October 2008 06:05 WIB
WASPADA ONLINE

“Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.” (Q. S. An-Nisa’: 7).

Oleh Achmad Yani, ST., M. Kom

Agama Islam pada dasarnya dapat dibagi atas lima komponen. Yakni adalah Imaniyah (Tauhid, Aqidah), Ibadah, Muamalah, Muasyarah, dan Akhlaq. Bagi umat Islam, idealnya tentu mengamalkan semua bagian agama ini secara menyeluruh (kaffah) sesuai dengan tuntunan yang berasal dari sumber hukum Islam sendiri, yaitu Al Qur’an dan Hadis.

Untuk dapat mengamalkan semua bagian agama ini, harus dimulai dari pengetahuan tentang aturan-aturan (syariat) yang berlaku. Dalam bab imaniyah misalnya, sejak dini kita telah diajarkan oleh orang tua kita tentang Rukun Iman yang berisi enam hal pokok yang harus diimani oleh setiap muslim, yaitu iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Akhir, dan Qadar. Demikian pula, bab ibadah mengenal adanya Rukun Islam yang mencakup lima kewajiban dasar seorang muslim, yaitu Syahadat, Shalat, Puasa, Zakat, dan Haji. Bagaimana halnya dengan bab muamalah, muasyarah dan akhlaq?

Pada tulisan ini hanya akan disorot masalah hukum waris Islam yang sering disebut hukum faraidh. Hukum waris dapat dimasukkan dalam bab muamalah. Secara umum, bab muamalah berkaitan dengan pengaturan transaksi atau perpindahan harta benda di antara sesama muslim. Menurut Prof. Dr. Amir Syarifuddin, hukum kewarisan Islam didefinisikan sebagai seperangkat peraturan tertulis berdasarkan wahyu Allah SWT dan Sunnah Nabi SAW tentang hal ihwal peralihan harta atau yang berwujud harta dari yang telah mati kepada yang masih hidup, yang diakui dan diyakini berlaku dan mengikat untuk semua yang beragama Islam.

Pada dasarnya, kalau dianalisis lebih lanjut, hukum waris memiliki dasar hukum (dalil) yang kuat, yaitu Al Qur’an pada Surat An-Nisa’: 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 33, 176, Surat Al-Anfal: 75, dan beberapa (tidak banyak) hadits Nabi SAW. Secara tegas, Allah memberikan janji surga bagi yang mengamalkan hukum ini melalui Surat An-Nisa: 13, dan ancaman neraka bagi pelanggarnya melalui Surat An-Nisa’: 14. Adapun Surat An-Nisa’: 11, 12, dan 176 yang merupakan ayat-ayat waris utama, memberikan rincian ahli waris dan bagian masing-masing dalam angka pecahan, yaitu 1/2, 1/4, 1/8, 2/3, 1/3, dan 1/6.

Dari ayat-ayat tentang waris, dapat dipahami bahwa peralihan harta dari yang meninggal (pewaris) kepada yang hidup (ahli waris) berikut jumlah bagiannya terjadi tidak atas kehendak pewaris maupun ahli waris, tetapi atas kehendak Allah melalui Al Qur’an. Ini mengandung arti bahwa terjadinya waris mewarisi dan aturan-aturan yang berkaitan dengannya adalah bersifat memaksa. Dalam terminologi ilmu hukum, dikenal dua sifat hukum, yaitu hukum yang ‘memaksa’ dan hukum yang ‘mengatur’. Hukum disebut bersifat ‘memaksa’ apabila ketentuan hukum yang ada tidak dapat dikesampingkan, yaitu, perintah atau larangan hukum tersebut -tidak bisa tidak- harus ditaati. Seandainya tidak ditaati, maka dapat dikategorikan sebagai perbuatan melanggar hukum yang dapat dikenakan sanksi atau hukuman tertentu.

Dalam pengertian hukum yang bersifat ‘mengatur’, maka hukum yang ada dapat dikesampingkan (tidak dipedomani) seandainya para pihak berkeinginan lain sesuai dengan kesepakatan atau musyawarah di antara mereka. Dalam hal ini, kalau pun tidak dilaksanakan ketentuan hukum yang ada, perbuatan tersebut tidak dianggap sebagai perbuatan melanggar hukum karena sifatnya yang (sekedar) mengatur itu.Secara hukum, ternyata tidak ada satu ketentuan pun (nash), baik dalam Al Qur’an maupun Hadits Nabi SAW, yang menyatakan bahwa membagi harta warisan menurut ketentuan hukum waris Islam itu tidak wajib. Bahkan sebaliknya, Allah telah menyatakan kewajibannya seperti dapat dilihat pada ayat-ayat waris yang telah disebutkan sebelumnya. Ayat-ayat waris ini jelas menunjukkan kekuatan atau kewajibannya. Hal ini diperkuat lagi dengan adanya sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Daud, “Bagilah harta warisan di antara para ahli waris menurut Kitabullah (Al Qur’an).”

Sebenarnya, aturan-aturan berkenaan dengan pembagian warisan menurut syariat Islam secara keseluruhan begitu sederhana dan mudah dipahami. Sayangnya, hukum waris ini terlanjur diasumsikan sebagai sesuatu yang sulit dan hanya dapat dipahami oleh orang-orang tertentu. Memang, sesuai dengan salah satu hadits Nabi SAW, ilmu faraidh telah dinyatakan sebagai ilmu yang pertama kali akan dicabut dari umat ini pada akhir zaman nanti. Hal ini telah terbukti karena begitu langkanya orang yang mau mendalami ilmu ini. Padahal, Rasulullah SAW telah memerintahkan untuk mempelajari dan mengajarkan ilmu faraidh. Jadi, dapat dipahami bahwa melaksanakan hukum waris (dalam arti melaksanakan pembagian warisan menurut syariat Islam) sama wajibnya dengan mempelajari dan mengajarkan hukum waris itu sendiri.

Dari uraian di depan, dikaitkan dengan sifat hukum yang telah dikemukakan, maka hukum waris Islam yang telah diatur oleh Allah SWT merupakan ketentuan hukum yang bersifat memaksa. Karena itu, wajib bagi setiap pribadi muslim untuk mengamalkannya. Bahkan, dengan mengacu kepada sumber hukum asalnya, pelanggaran terhadap pelaksanaan hukum waris Islam dikenakan sanksi langsung oleh Allah SWT -meskipun bukan di dunia ini- di akhirat kelak menurut Surat An-Nisa’: 14. Setelah memperbincangkan dan memahami kekuatan hukum waris Islam, selayaknya tidak ada alasan lagi bagi setiap muslim untuk mengambil hukum waris lain selain hukum waris Islam. Ketaatan seorang muslim dalam melaksanakan hukum waris Islam, seperti halnya hukum syariat lainnya, merupakan tolok ukur dari kadar keimanannya kepada Allah Yang Maha Bijaksana. Hendaknya setiap pribadi muslim menyadari bahwa mengambil hukum selain hukum yang berasal dari Allah SWT dapat dikategorikan ke dalam salah satu dari tiga macam sebutan ini: kafir, zhalim, atau fasik (lihat Surat Al-Maidah: 44, 45, 47). Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita tidak tergolong hamba Allah yang mendapat tiga macam sebutan ini.

Dengan adanya Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, maka hukum kewarisan Islam menjadi hukum positif di Indonesia, khususnya bagi umat Islam. Dalam perkembangannya, hukum kewarisan Islam sebagai hukum positif diwujudkan dalam bentuk tertulis berupa Kompilasi Hukum Islam (KHI). KHI disebarluaskan melalui Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991. Meskipun oleh sebagian pihak KHI ini tidak diakui sebagai hukum perundang-undangan (karena memang KHI belum berwujud undang-undang, sehingga statusnya masih di bawah undang-undang), para pelaksana di peradilan agama telah sepakat menjadikannya sebagai pedoman dalam penyelesaian perkara di pengadilan.

Di dalam KHI yang memuat tiga buku, hukum waris Islam dicantumkan dalam Buku Kedua tentang Hukum Kewarisan. Hukum Kewarisan yang diatur dalam Pasal 171 sampai dengan 193 pada umumnya telah sesuai atau sejalan dengan hukum faraidh Islam. Namun demikian, ada beberapa pasal krusial yang perlu diperhatikan, yaitu Pasal 173 tentang halangan mewarisi, Pasal 177 tentang kewarisan bapak, Pasal 183 tentang perdamaian dalam pembagian warisan dan Pasal 185 tentang ahli waris pengganti.

Di masa mendatang, diharapkan hukum kewarisan Islam diterapkan dengan menyiapkan perangkat hukum dalam bentuk undang-undang yang memiliki kekuatan hukum yang jelas. Selanjutnya di dalam rumusan undang-undang ini hendaknya dihindarkan adanya opsi (pilihan) untuk menggunakan hukum waris di luar hukum waris Islam bagi umat Islam. Yang penting, pelanggaran terhadap undang-undang ini hendaknya diberikan sanksi yang sesuai. Dengan cara ini, maka upaya mencari kepastian hukum dapat ditegakkan. Insyaallah.

Penulis adalah dosen pada Politeknik Negeri Medan, dan pembuat software Sistem Pakar Faraidh Islam Versi 1.0.