Cerita Leher Digorok Menghantui Anak-Anak Pakistan

Nabila Bibi duduk di dalam satu tenda di bawah sengatan terik mentari sambil memikirkan boneka-bonekanya yang ditinggalkan di rumahnya di pegunungan di Pakistan, tempat militer dan gerilyawan Taliban saling bantai.

Nabila, yang kedua pipinya berwarna kemerahan, tak mengerti apa pun mengenai aksi perlawanan kaum garis keras dan serangan paling akhir militer Pakistan terhadap mereka, yang dikatakan PBB telah membuat tak kurang dari 1,5 juta orang kehilangan tempat tinggal pada Mei tahun ini saja.

Kini, ia sangat mengkhawatirkan nasib semua bonekanya “yang kesepian”. “Saya sangat sedih berada di sini. Saya merasa benar-benar kesepian karena semua boneka saya tak bisa ikut bersama saya. Apakah ada orang yang dapat mengambil semua boneka itu dari rumah saya?” demikian pertanyaan Nabila kepada kakak perempuannya, sebagaimana dilaporkan wartawan AFP, Nasir Jaffry.

Nabila (12) dan keluarganya hidup di luar kota kecil Mingora di lembah Swat di bagian barat-laut Pakistan sampai mereka mengungsi ke kamp Yar Hussein karena khawatir terhadap keselamatan mereka.

Kamp yang berdebu tersebut didirikan oleh pemerintah di Provinsi Perbatasan Barat-Laut Pakistan (NWFP) dengan bantuan badan pengungsi PBB di pinggir kota kecil Swabi. Tempat itu menampung sebanyak 1.200 keluarga di dalam tenda yang berjumlah sama.

“Di sini panas sekali. Saya tak mempunyai teman dan juga tak ada lapangan bermain yang memadai seperti yang ada di depan rumah saya,” kata Nabila, yang belajar di sekolah sementara di kamp itu.

Badan PBB, UNICEF, yang sangat prihatin mengenai korban kejiwaan pada anak-anak yang kehilangan tempat tinggal akibat operasi guna membersihkan pengikut garis keras, mengatakan bahwa lembaga tersebut menyediakan pendidikan dan tempat rekreasi di 13 kamp tempat banyak keluarga berlindung.

“Penting buat anak-anak untuk menanggulangi trauma akibat kehilangan tempat tinggal,” kata wanita juru bicara UNICEF, Antonia Paradela.

Ia mengatakan, layanan penyuluhan buat kaum perempuan dan anak-anak tersedia di semua kamp itu, yang memiliki staf terlatih dalam mengidentifikasi anak-anak yang mengalami persoalan pada mental dan membantu mereka mengatasi kesulitan yang sama sekali tak mereka timbulkan.

“Anak-anak juga telah diberikan mainan, pensil, dan kertas gambar guna membantu mereka mendapatkan kembali kepercayaan diri,” kata Paradela. Namun, untuk semua gagasan tersebut, banyak anak di Yar Hussain itu kelihatan tak memiliki kemantapan pendirian dan sebagian tidak gembira.

“Saya kangen sama teman-teman saya. Saya dulu sering main bola dengan mereka. Saya penggemar berat pahlawan kriket Shahid Afridi,” kata Nauman Ali (16), tukang kayu dari Mingora, kota kecil utama di Swat.

“Saya berharap dia akan mengunjungi saya di kamp ini. Saya suka dia karena dia juga adalah seorang batter yang bagus. Ia memiliki gaya indah dalam melakukan pukulan.”

Nauman kelihatan ragu ketika ditanya, apakah dia menduga bahwa dia akan pulang dalam waktu dekat. “Saya benar-benar tidak tahu kapan saya akan dapat pulang dan bermain kriket bersama teman-teman saya,” katanya.

Sementara itu, seorang anak lain yang bernama Jawad Khan, murid kelas III, mengatakan ingin menjadi dokter. “Bagaimana saya dapat melanjutkan sekolah saya di daerah tempat bom dan granat meledak setiap hari? Cerita mengenai sekelompok orang yang menggorok leher saudara mereka membuat saya takut,” kata Jawad, yang tampaknya merujuk kepada anggota Taliban.

“Saya mempunyai beberapa teman dari daerah saya di kamp ini dan kami semua sependapat bahwa mereka semua adalah orang yang jahat,” katanya sambil menggendong adik perempuannya yang masih bayi dalam kondisi setengah telanjang.

Nadia Khan, yang berusia 6 tahun dan sedang bersama ibunya di kamp tersebut, tempat antrean panjang kaum pria dan anak-anak terbentuk saat makan siang, berulang kali memohon agar diizinkan keluar kamp. “Saya ingin pulang dan bermain bersama teman saya, tolong bawa saya pulang,” gadis cilik itu memohon kepada ibunya dalam bahasa Urdu yang patah-patah.

Kendati kedua matanya perih akibat debu yang beterbangan, Nadia lapar, bahkan nasi beraroma sedap dengan buncis nyaris tak membuat dia berselera. Guna membantu meringankan penderitaan mereka, kelompok amal Pakistan, Perhimpunan bagi Perlindungan Hak Anak (SPARC) berencana membuat daerah khusus bermain.

“Ini adalah bencana besar. Anak-anak di berbagai kamp memerlukan bantuan kita agar mereka dapat keluar dari tekanan psikologis,” kata juru bicara SPARC, Kashif Mirza. “Kami berencana menciptakan daerah bermain dan menyelenggarakan lomba melukis di kamp buat anak yang kehilangan tempat tinggal,” ungkapnya sebelum acara pengumpulan dana SPARC.

Shahid Khan, siswa kelas VIII, mengatakan pertempuran telah “mengguncang” impiannya. Namun, ia memiliki tekad kuat. “Saya ingin menjadi seorang perwira militer. Saya suka seragam mereka, saya suka disiplin mereka,” katanya.

“Saya bertekad akan melanjutkan sekolah. Jika ini tak mungkin dilakukan di Mingora, saya akan meminta ayah saya mengirim saya ke kota lain tempat saya dapat menyelesaikan pendidikan saya dan masuk tentara.” (kompas.com)