Inilah Pendeta Gay yang Mendirikan Gereja Khusus Kaum Gay di Malaysia


Reverend Ouyang Wen Feng bukan hanya pelayan Tuhan namun juga ia satu-satunya pastor di Malaysia yang mengaku gay.

Selain itu, ia juga mendirikan gereja gay nasional pertama yang mulai beroperasi di Kuala Lumpur dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini. Meski menjadi gay adalah sebuah kejahatan di Malaysia dan bisa mendapat hukuma 20 tahun penjara di negara mayoritas Muslim itu, gereja Ouyang berhasil menarik umat Kristen yang gay untuk menghadiri misa minggu dan belajar Injil. Mereka berbondong-bondong datang.

“Kami bekerja untuk menarik orang-orang ke gereja dan bagi umat Kristen untuk muncul dan mengatakan jati diri sesungguhnya,” ujar sang pastor yang sempat menikah selama sembilan tahun sebelum akhirnya ia mengaku sebagai gay pada tahun 2006.

“Apakah mereka gay atau normal atau pun biseksual, mereka memiliki orientasi seksual dan ini bukan sesuatu yang kami lakukan dan membuat kami menjadi gay,” katanya.

Ouyang menambahkan gereja ini juga menerima kaum biseksual dan juga transeksual serta kaum heteroseksual untuk pelayanan keagamaan. Gereja ini memberikan bantuan kepada komunitas bahwa mereka tidak sendirian.

Ini merupakan salah satu upaya kampanye Ouyang untuk penerimaan kalangan gay di Malaysia di mana saat ini sudah mulai tumbuh di kalangan komunitas untuk terus melakukan perlawanan. “Saat saya masih muda, saya berharap seseorang yang baik, bisa dihargai dan dikagumi mengaku bahwa ia gay,” ujar pria berusia 40 tahun ini. Di Malaysia, kalangan gay masih dianggap tabu di sela-sela masalah rasial dan juga agama di mana Malaysia juga memiliki kalangan minoritas seperti etnis China dan komunitas India.(tn)

Sumber: http://www.yousaytoo.com/pendeta-gay-pertama-mendirikan-gereja-gay-pertama-di-malaysia/383615

Astagfirullah…Ada Kabar Pasangan Lesbian Menikah Secara Islam


15 Mei lalu, berlangsung pernikahan antara dua perempuan di Surabaya. Pernikahan secara Islam antara pasangan lesbian itu dihadiri seorang ulama. Kepada situs Gaya Nusantara, sang pemuka agama moderat itu menyatakan dirinya hanya memfasilitasi saja.

Menurut Dr. Dede Oetomo, pengamat masalah GLBT, Gay Lesbian Biseksual dan Transgender, perkembangan ini menunjukkan bahwa generasi lesbian dan gay sekarang menilai ingin menikah.

Dua orang beragama Islam, berkonsultasi dengan ulama progresif. “Menurut studi ulama itu, sebetulnya dua orang menikah tidak perlu ada otoritas yang meresmikannya. Cukup dua orang yang menyatakan janjinya untuk menikah. Pernikahan agama ini menurut ulama itu sah.” Walau demikian disadari bahwa menurut undang-undang itu tidak sah.

Tren Baru
Secara sosiologis perkimpoian ini menunjukkan bahwa generasi lesbian dan gay sekarang ini yang usianya 20-an tahun, berbeda dengan generasi tua, merasa ingin menikah. Gayanusantara pernah dua kali melakukan upacara pernikahan sekuler. Tanpa ada upacara agama, hanya ucapan janji dan kemudian mereka meminta sertifikat dari GAYaNusantara.

Dede menilai bahwa perkembangan ini menunjukkan tren menginginkan ikatan pernikahan itu diresmikan. Yang pertama adalah sekuler bukan agama, kalau yang ini tampaknya memang mencari jalur agama. Dan akhirnya mereka menemukan imam muda ini, walaupun ia tidak berani terbuka.

“Dia tidak berani menyatakan secara terbuka, karena kuatir posisinya akan diserang,” kata Dede. Dari kalangan pengantin sendiri sudah terbiasa dengan tanggapan negatif dari masyarakat luas. Menurut Dede Oetomo, pemikiran kalangan minoritasnya adalah ‘masa depan’ dan pihak pengkritisi adalah ‘masa lampau.’

Secara umum Dede Oetomo melihat peningkatan permintaan dari publik lesbian dan publik gay yang tidak bisa ditolak. Mereka sadar untuk mempublikasikan berita ini dengan hati-hati, tidak membuka nama kedua pengantin dan juga ulama yang menjadi saksinya.

Tanpa Wali
Mengenai kewalian yang dibutuhkan dalam pernikahan Islam, Dede Oetomo menyandarkan penjelasan dari ulama terkait yang mengatakan bahwa tidak semua mazhab mewajibkan adanya wali. Selanjutnya ia menolak memberikan penjelasan lebih jauh. “Karena sejarah pernikahan islam tidak sesederhana seperti yang kita ketahui sekarang. Di kalangan Sunni di mazhab Syafei.”

Menurut Dede, pernikahan ini adalah kelanjutan dari tren-tren feminisme Islam di Indonesia. Dibarengi dengan perkembangan Islam liberal. “Sekarang teman-teman gay, lesbian dan waria juga ikut dan menafsirkan ulang agama mereka. Apalagi di Islam tidak memiliki pengontrol doktrin seperti Vatikan.”

Menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan ada pihak yang mempermasalahkan dua wanita yang ingin menikah, maka pemerhati masalah gay dan lesbian itu menyandarkan pada undang-undang dasar yang menjamin semua orang untuk membentuk keluarga. “Jadi ini hak-hak asasi manusia. Kalau itu tidak bisa berarti haknya warga negara belum dijamin.” K edepannya pihaknya akan memperjuangkan perubahan undang-undang perkawinan.

Astaghfirullahal adzim, begitulah kelakuan manusia kalau tidak berpedoman pada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah….

HOMOSEXSUAL PERADABAN KUNO YANG DIMODERNISASI

Homosexual adalah peradaban kuno yang sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu, tepatnya pada zaman nabi Luth Alahi Salam.
Perbuatan Homosexsual sampai sekarang masih tetap ada bahkan sudah dimodernisasi dan mengalami perubahan yang cukup drastis.
Al'araaf80
Al'araaf81

Mereka mempunyai kelompok-kelompok elit yang disebut “gay” dan bahkan menuntut bahwa pernikahan sesama jenis merupakan hak azasi manusia yang yang harus dilegalkan.
memang manusia ini sudah kebablasan. Akibat tidak punya rem atau remnya blong. Agama adalah rem yang menjaga agar manusia tidak kebablasan. Tapi mmanusia mencabik-cabik rem bahkan melepaskan rem itu sehingga mereka tidak punya rem lagi untuk mengendalikan dirinya…ya akhirnya kebabalsan.
Jangan sampai kita mendapat azab dari Allah yaitu hujan batu yang membinasakan kaum nabi Luth Alahi Salam.
Al'araaf84
Semoga kita masih menjaga dan merawat rem yang ada pada diri kita yaitu agama yang diberkan Allah melalui Baginda Rasulullah sallahu ‘alaihi wa salam, sehingga kita tidak kebablasan atau melampaui batas.

Wallahu’alam bi showab.