Aneh, Jika Tak Disentuh Suami Katiyem Kesakitan

SOLO, KOMPAS.com – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Moewardi Solo, Jawa Tengah, merawat pasien bernama Katiyem (46), rujukan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri, yang memiliki gejala penyakit aneh.

“Penyakit aneh ini sudah saya rasakan sejak enam tahun lalu,” kata Katiyem yang terbaring di salah satu ruang perawatan di RSUD Dr. Moewardi Solo, di Solo, Jumat.

Ia adalah warga RT03/RW04 Dusun Pojok, Gondang, Kabupaetn Wonogiri, Jateng, di rawat di RSUD Dr. Moewardi sejak Rabu (6/1). Ia mengaku, badannya merasa sangat sakit jika tidak berpegangan tangan dengan suaminya, Laman (59).

“Bahkan sebelum dirawat di rumah sakit ini, setiap hari kaki suami saya harus menumpang di badan saya. Kepala rasanya seperti ditarik-tarik kalau tidak berpegangan dan rasanya sakit semua, kepala pusing,” katanya.

Sejak enam tahun terakhir, katanya, dirinya hanya berbaring di tempat tidur dan tidak bisa beraktivitas secara normal. Laman mengaku, istrinya hanya bisa menangis karena merasakan badannya sakit jika ditinggalkan dirinya untuk bekerja.

“Tidak mau ditinggalkan, kalaupun saya ada keperluan lain, harus ada anak saya yang menggantikan memegang tangannya,” katanya.

Dokter rumah sakit setempat yang menangani pasien itu, dr. Djoko Suwito Sp.Kj., menyatakan, hingga saat ini dirinya belum bisa menyimpulkan penyakit yang diderita Katiyem.

Secara fisik, katanya, belum ditemukan gejala penyakit tertentu atas pasien itu. Hasil wawancara dengan pasien, katanya, Katiyem mengalami ilusi atau memiliki pikiran yang menyimpang dari kenyataan.

“Kondisi fisiknya tidak ada masalah, kecuali tubuh pasien yang buruk karena tidak bisa beraktivitas dan sangat kurus. Tetapi kami masih menunggu apakah ada gangguan di otaknya melalui foto rontgen yang akan dilakukan,” katanya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, katanya, penyakit tersebut lebih disebabkan kondisi psikologisosial pasien. “Sebab yang dirasakan pasien lebih kepada bentuk perasaan ketakutan yang berlebihan. Yang disayangkan kenapa baru sekarang ini dikirim ke Moewardi, padahal sudah berlangsung sejak enam tahun yang lalu,” katanya.

Ia mengaku, baru pertama kali menangani pasien dengan gejala seperti itu. Pihaknya masih membutuhkan waktu beberapa hari untuk memantau perkembangan kondisi fisik dan psikis pasien guna memastikan penyakit yang diderita Katiyem.

Akibat Buruk Kecanduan Teknologi & Internet

Gangguan Jiwa Gara-gara Facebook dan Blackberry Wuih… Ada Ancaman Pembunuhan Lewat Facebook Salahkah Narsis di Facebook? FB dan SMS, Bibit Selingkuh? Kecanduan Internet? Segala sesuatu yang berlebihan pastilah menimbulkan dampak negatif. Termasuk juga dalam hal teknologi. Baru-baru ini di Amerika Serikat telah dibuka pusat rehabilitasi bagi para pecandu teknologi dan internet. Pusat rehabilitasi yang bernama ReSTART tersebut diklaim sebagai satu-satunya rumah terapi untuk mengatasi kecanduan internet di Amerika Serikat. Uniknya, pusat terapi ini berlokasi dekat Redmond, kantor pusat Microsoft dan pusat industri teknologi informasi lainnya. Selama 45 hari para peserta rehabilitasi akan mengikuti berbagai program untuk menghilangkan kecanduan mereka dari penggunaan komputer, termasuk kecanduan main video game, SMS, Facebook, eBay, Twitter, dan aplikasi-aplikasi internet lain yang sangat menghabiskan waktu. Salah satu peserta terapi adalah Ben Alexander (19) yang menghabiskan seluruh waktunya, kecuali saat tidur, untuk bermain video game World of Warcraft. Akibatnya, ia kini drop out dari kampusnya di Universitas Iowa, AS. American Psychiatric Association memang belum memasukkan adiksi terhadap internet sebagai bentuk kelainan jiwa. Tetapi, selain di AS, di berbagai negara, seperti Cina, Korea Utara, dan Taiwan, telah berdiri pusat rehabilitasi sejenis. Para ahli kejiwaan juga mengatakan bahwa kecanduan internet adalah hal yang sangat serius dan berbahaya, sama buruknya dengan kecanduan alkohol atau obat-obatan. Dampak dari kecanduan internet juga tidak main-main. Mulai dari dipecat dari pekerjaan, perceraian, atau kecelakaan mobil akibat menyetir sambil menulis SMS atau chatting. Beberapa orang juga dilaporkan meninggal gara-gara main video games selama beberapa hari nonstop. Akibat posisi duduk yang tak berubah-ubah, mereka mengalami penyumbatan pembuluh darah. Menurut Hilarie Cash, terapis dan direktur eksekutif ReSTART, pasien di tempatnya akan mengikuti berbagai sesi konseling dan psikoterapi. Mereka juga diajak mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, berkebun, olahraga, serta kegiatan outdoor lainnya. “Kami telah melakukan ini bertahun-tahun. Sampai saat ini tidak ada tempat lain untuk mereka berobat,” katanya. Menurut Dr.Kimberly Young dari Center for Internet Addiction Recovery, orang yang mulai kecanduan internet merasa internet sangat mengasyikkan, lalu lama kelamaan durasi berkutat di internet pun bertambah dan tak bisa mengontrol kebiasaannya. Kehidupan mereka pun mulai terganggu karena setiap ada waktu pasti dihabiskan untuk internet. Ciri lain dari orang yang kecanduan internet adalah mencuri-curi waktu untuk memakai internet, memilih untuk melarikan diri dari masalah dan depresi ke internet, serta terjadi perubahan fisik, seperti berat badan berubah serta sering sakit kepala. Kendati demikian, cara untuk mengatasi problem kecanduan teknologi ini masih menjadi perdebatan di kalangan para ahli. Sebagian ahli berpendapat, kecanduan internet bisa jadi gejala dari kelainan mental lainnya, seperti depresi atau gangguan komunikasi sosial seperti autisme. “Kebanyakan dari orang-orang yang kecanduan internet adalah mereka yang mengalami depresi berat, kecemasan, atau orang yang tak bisa bersosialisasi sehingga mereka sulit untuk bertemu muka dengan orang lain secara langsung,” kata Dr. Ronald Pies, profesor psikiatri dari SUNY Upstate Medical University, New York, AS. Karena belum resmi disebut sebagai kelainan jiwa, maka terapi untuk mengatasi kecanduan internet pun belum bisa ditanggung pihak asuransi. “Para ahli jiwa memang bisa mengenali gejala dari pasien yang tidak bisa mengontrol impulsi mereka untuk selalu chatting, main game atau nonton film porno. Yang diperdebatkan adalah bagaimana mengklasifikasikan kelainan itu,” kata Dr.Jerald Block, dari Oregon Health Sciences University, Portland, AS. AN Sumber : AP