Kasihan… Perempuan Gendut Ditolak Melahirkan di Rumah Sakit

SOMERSET, KOMPAS.com — Sebuah rumah sakit di Somerset, Inggris, menolak seorang ibu gendut melahirkan di tempat itu. Kebijakan itu diterbitkan kemarin dan memicu protes dari sejumlah orang.

Weston General Hospital menetapkan bahwa para ibu dengan indeks massa tubuh atau body mass index lebih dari 34 (angka indeks diperoleh dari berat dibagi tinggi badan dalam hitungan meter dikali dua) akan ditolak karena para staf khawatir pasien obesitas akan meninggal di rumah sakit selama proses melahirkan. Pihak Weston merujuk pasien di atas angka indeks 34 itu ke rumah sakit di Bristol yang jaraknya 20 mil dari Somerset, tetapi punya unit bersalin yang dilengkapi fasilitas berteknologi tinggi.

Perhitungan indeks massa tubuh digunakan untuk mengukur apakah seseorang memiliki berat yang sehat untuk ukuran tinggi badannya. Indeks massa tubuh di atas 30 dinilai obesitas, dan lebih dari 40 dinilai sudah sangat gendut. Ibu dengan tingkat indeks massa tubuh yang tinggi diyakini berisiko tinggi mengalami pendarahan dan komplikasi selama proses persalinan.

Seorang juru bicara Rumah Sakit Weston General mengatakan, mereka tidak punya fasilitas untuk menangani kelahiran yang rumit. "Unit itu dipimpin seorang bidan, dan tidak ada konsultan spesialis seorang pun. Tidak pernah ada. Unit ini didesain lebih sebagai rumah dan lebih sederhana untuk melahirkan, suasana yang disukai beberapa ibu." katanya.

Namun ia menambahkan, "Jika ada risiko komplikasi, punya sejarah melahirkan yang sulit, diabetes, atau apa pun yang membutuhkan peralatan khusus, maka para ibu dari awal dianjurkan untuk pergi ke Bristol."

Bagaimanapun, kebijakan itu memicu protes. Para pemrotes menilai perempuan gendut telah diperlakukan tidak adil dengan adanya aturan tersebut. Carole Welch, yang mengelola kelas Slimming World lokal, mengatakan, tidak benar bahwa perempuan gendut tidak dapat melahirkan dengan selemat di dekat rumah mereka sendiri dan harus dipaksa mencari unit bersalin yang jauh.

"Perempuan yang tinggal di kota itu, tidak peduli berapa pun ukuran mereka, harus dapat melahirkan tanpa harus pergi bermil-mil jauhnya," katanya. "Seharusnya, rumah sakit itu meningkatkan fasilitasnya agar bisa menangani setiap perempuan hamil. Jika indeks masa tubuh saya lebih dari 34, maka saya tidak suka dengan kebijakan itu. Itu tidak adil," tambahnya.

Sebuah laporan tahunan dari Somerset mengungkapkan bahwa angka kelebihan berat badan dan obesitas meningkat pesat di kawasan itu dalam beberapa tahun terakhir. Para ahli memperkirakan, sebanyak 29.600 orang dewasa, sekitar 18 persen populasi, menderita obesitas di wilayah itu.

Wah Gawat Terjadi Mal Praktek Alat Kuret Tertinggal di Rahim Seorang Pasien Wanita di Medan

Buramnya penyebab kematian Rosaliana br Kaban, akhirnya terkuak juga kemarin (11/11) sore. Ternyata, blooding atau pendarahan cewek pekerja salon itu, karena alat korek atau kuret rahim yang terbuat dari stainless steel, tertinggal di organ kewanitaannya. Inilah penelusuran tim POSMETRO MEDAN.

Berada di pinggir jalan kawasan Simalingkar B, sebuah rumah permanen tak berpagar terlihat sepi. Seorang pria bertato berumur 30-an tahun, tampak sibuk memotong rebung (bambu muda). Usai mengucap salam, pria itu mempersilahkan menemui wanita paruh baya yang asyik mengunyah sirih.

Rambut wanita itu terlihat acak-acakan. Kesannya terlihat seram. Ya..dia adalah dukun yang jadi perantara Chandra dan Rosaliana bertemu dokter aborsi di Delitua. Awalnya, si dukun hanya jadi tempat konsultasi Chandra dan Rosalina.

“Orang itu (Chandra dan Rosaliana-red) mau buang bayi. Mereka datang sekira jam 6 sore. Sampek di sini, saya kusuk dulu Rosaliana. Makanya aku tahu dia hamil 4 bulan. Baru kukasih minum ramuan. Baru jam 7 kami ke delitua naik mobil kawan si Chandra ke rumah dokter itu. Di sanalah digugurkan,”ujarnya.

Bahkan dukun ini juga tahu soal kematian Rosaliana. “Pacar Chandra itu mati karena tinggal alat korek di dalam (rahimnya-red). Sekarang gak tahu lagi kemana orang si Chandra,”terang dukun berkulit hitam itu. Soal aborsi, si dukun dengan PD-nya membeberkan kehaliannya. “Aku bisa bantu untuk aborsi, tapi biayanya mahal, bisa sampai Rp1,5 juta lebih. Udah sering kubantu orang kek gitu (aborsi),”ujarnya.

Tak lama, si dukun terdiam begitu tahu Koko adalah reporter POSMETRO MEDAN. Dia enggan memberkan lanjut soal keahliannya dan nama dokter di Delitua. Terpisah, Ony, warga Simalingkar yang kenal Chandra, mengakui kedekatan Chandra dan Rosaliana. Hanya saja, dia tak tahu dimana salon tempat kerja Rosaliana. “Sekarang Chandra itu tidak lagi ada di Simalingkar. Biasanya terus dia di kedai ini,” ujar Ony.

“Kita telah melakukan pencarian Chandra, sampai ke Lubuk Pakam. Kita juga akan memanggil dukun yang mengobati korban dan memintai keterangannya. Sementara isi lambung korban telah kita kirim ke Lab Polda untuk diteliti,”terang Waka Polsek Delitua, Iptu WD.Sidabutar.

medika