Kiai Mesum Divonis Bebas,Warga Ancam Duduki Ponpes


Pemimpin Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Mu’tadin di Desa Kaumrejo, Kecamatan Ngantang, KH Nur Hasani, yang beberapa bulan lalu dilaporkan mencabuli dua santriwatinya hingga hamil, Senin (25/5), divonis bebas. Majelis hakim Pengadilan Negeri Kepanjen yang dipimpin Niniel Eva Yustina, SH menyatakan terdakwa tak bersalah.

Putusan bebas itu mengundang kekecewaan warga Desa Kaumrejo, Kecamatan Ngantang. Warga yang pernah demo dengan merusak papan nama ponpes Nur Hasani pada September 2008 itu kembali berdemo.

Senin siang kemarin puluhan warga memenuhi kantor PN. Mereka mengancam akan menggelar demo lebih besar dan menduduki ponpes jika Nur Hasani tetap diputus bebas. “Kami tidak terima dengan putusan itu. Kami kecewa dan akan beraksi kembali. Sebab, kami punya bukti rekaman pengakuan korban kalau dicabuli dia (Nur Hasani) hingga hamil,” kata Machmud, perwakilan warga Desa Kaumrejo, Kecamatan Ngantang, Senin.

Tak hanya warga yang kecewa, penyidik Polres Malang dan Kejaksaan Negeri Kepanjen juga demikian. Sebab, pada kasus ini, Nur Hasani dituntut jaksa penuntut umum (JPU), Rio Vernika, SH, dengan hukuman penjara sembilan tahun karena terbukti melakukan pencabulan terhadap dua santri perempuannya, yakni It (22) dan Af (19). Karena itu, dia dikenai Pasal 81 Ayat 2 UU Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002 serta Pasal 285 dan 289 KUHP tentang Pencabulan.

“Karena kami mendengar dia diputus bebas, kami langsung ke sini (kantor PN). Kami kecewa dengan putusan itu. Kami mau tanya apa dasar hakim memutus dia bebas,” kata Kasat Reskrim AKP Radiant, SIK saat ditemui di kantor PN.

Hal senada dikatakan Kajari Kabupaten Malang Adam MH Sabtu, SH. Dia akan melakukan kasasi ke Pengadilan Tinggi terkait putusan bebas terhadap terdakwa. “Itu memang hak hakim. Namun, kami tetap akan mengupayakan hukum lain, yakni kasasi,” kata Adam, Senin.

Ketua PN Kepanjen Fadlol Tamam, SH mengatakan, hakim berani memutus bebas seorang terdakwa karena memang tak bersalah. Sementara itu, M Mochtar, SH MSi, kuasa hukum terdakwa, mengatakan, kliennya memang sudah tepat divonis bebas karena barang bukti, seperti VCD dan visum korban, yang diajukan JPU itu lemah. VCD itu berisi rekaman pengakuan korban, sementara visum korban dinilai cacat hukum karena divisum lebih dari setahun setelah kejadian.

Seperti pernah diberitakan, kasus ini terungkap karena pengakuan dua santri perempuan, Is dan Af. Mereka mengaku lebih dari setahun mengalami tindakan tak senonoh selama belajar di ponpes milik Nur Hasani. Setelah kedua satrinya hamil, Nur Hasani tak bertanggung jawab.

Informasinya, terdakwa melakukan pencabulan dengan berpura-pura memberi ilmu kepada kedua korban. Kedua santriwati itu secara bergantian masuk ke kamar pribadi terdakwa kalau malam hari. Alasannya, mereka akan diberi ilmu agar lebih bermanfaat. st12 (kompas.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s