• AYO KITA BERDAKWAH MENJADI UMAT TERBAIK

    Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Ali Imran:110)
  • Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS: Muhammad:7)

  • BISNIS YANG TAK PERNAH RUGI

    Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (QS: ASHAAF 10-12)
  • Berlomba-Lomba dalam Kebaikan dan Taqwa

    1animated183
  • Jangan Sakiti Saudaramu

    movingfunnypenguins
  • free counters
  • Anda Pengunjung ke:

    • 6,717,446
  • MARI KITA MAKMURKAN MASJID….

    Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS: AT TAUBAH:18)
  • Laman

  • April 2009
    S S R K J S M
    « Mar   Mei »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    27282930  

[KUTBAH JUM’AT] Membaca Sesatnya Salafi, Wahabi dan Khawarij


Bismillahir Rohmanir Rohiim
Innal hamdulillah nahmaduhu wa nastainuhu wa nastagfiruhu wa na’uzu billahi min shururi anfusina wa min sayyiati a’malina may yahdihillahu fala mudillallah wa may yudlill fala hadiyala wa ba’ad,

Dalam melihat faktor kemunculan pemikiran untuk kembali kepada pendapat Salaf menurut Imam Ahmad bin Hanbal dapat diperhatikan dari kekacauan pada zaman itu. Sejarah membuktikan, saat itu, dari satu sisi, kemunculan pemikiran liberalisme yang diboyong oleh pengikut Muktazilah, yang meyakini keikutsertaan dan kebebasan akal secara ekstrem serta radikal dalam proses memahami agama. Sedang di sisi lain, munculnya pemikiran filsafat yang banyak diadopsi dari budaya luar agama, menyebabkan munculnya rasa putus asa dari beberapa kelompok ulama Islam, termasuk Ahmad bin Hanbal. Untuk lari dari pemikiran-pemikiran semacam itu, lantas Ahmad bin Hanbal memutuskan untuk kembali kepada metode para Salaf dalam memahami agama, yaitu dengan cara tekstual.

Akhir-akhir ini, di Tanah Air kita muncul banyak sekali kelompok-kelompok pengajian dan studi keislaman yang mengidentitaskan diri mereka sebagai pengikut dan penyebar ajaran para Salaf Saleh.Mereka sering mengatasnamakan diri mereka sebagai kelompok Salafi. Dengan didukung dana yang teramat besar dari negara donor, yang tidak lain adalah negara asal kelompok ini muncul, mereka menyebarkan akidah-akidah yang bertentangan dengan ajaran murni keislaman baik yang berlandaskan al-Quran, hadis, sirah dan konsensus para salaf maupun khalaf.Dengan menggunakan ayat-ayat dan hadis yang diperuntukkan bagi orang-orang kafir, zindiq dan munafiq, mereka ubah tujuan teks-teks tersebut untuk menghantam para kaum muslimin yang tidak sepaham dengan akidah mereka.

Mereka beranggapan, bahwa hanya akidah mereka saja yang mengajarkan ajaran murni monoteisme dalam tubuh Islam, sementara ajaran selainnya, masih bercampur syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul yang harus dijauhi, karena sesat dan menyesatkan. Untuk itu, dalam makalah ringkas ini akan disinggung selintas tentang apa dan siapa mereka. Sehingga dengan begitu akan tersingkap kedok mereka selama ini, yang mengaku sebagai bagian dari Ahlusunnah dan penghidup ajaran Salaf Saleh.

Definisi Salafi jika dilihat dari sisi bahasa, Salaf berarti yang telah lalu.2 Sedang dari sisi istilah, salaf diterapkan untuk para sahabat Nabi, tabi’in dan tabi’ tabi’in yang hidup di abad-abad permulaan kemunculan Islam.3 Jadi, salafi adalah kelompok yang ‘mengaku’ sebagai pengikut pemuka agama yang hidup di masa lalu dari kalangan para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in. Baik yang berkaitan dengan akidah, syariat dan prilaku keagamaan.4 Bahkan sebagian menambahkan bahwa Salaf mencakup para Imam Mazhab, sehingga salafi adalah tergolong pengikut mereka dari sisi semua keyakinan keagamaannya.5 Muhammad Abu Zuhrah menyatakan bahwa Salafi adalah kelompok yang muncul pada abad keempat hijriyah, yang mengikuti Imam Ahmad bin Hanbal.

Kemudian pada abad ketujuh hijriyah dihidupkan kembali oleh Ibnu Taimiyah.6Pada hakikatnya, kelompok yang mengaku sebagai salafi, yang dapat kita temui di Tanah Air sekarang ini, mereka adalah golongan Wahabi yang telah diekspor oleh pemuka-pemukanya dari dataran Saudi Arabia.Dikarenakan istilah Wahabi begitu berkesan negatif, maka mereka mengatasnamakan diri mereka dengan istilah Salafi, terkhusus sewaktu ajaran tersebut diekspor keluar Saudi. Kesan negatif dari sebutan Wahabi buat kelompok itu bisa ditinjau dari beberapa hal, salah satunya adalah dikarenakan sejarah kemunculannya banyak dipenuhi dengan pertumpahan darah kaum muslimin, terkhusus pasca kemenangan keluarga Saud—yang membonceng seorang rohaniawan menyimpang bernama Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi—atas semua kabilah di jazirah Arab atas dukungan kolonialisme Inggris. Akhirnya keluarga Saud mampu berkuasa dan menamakan negaranya dengan nama keluarga tersebut.

Inggris pun akhirnya dapat menghilangkan dahaga negaranya dengan menyedot sebagian kekayaan negara itu, terkhusus minyakbumi. Sedang pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab, resmi menjadi akidah negara tadi yang tidak bisa diganggu gugat. Selain menindak tegas penentang akidah tersebut, Muhammad bin Abdul Wahab juga terus melancarkan aksi ekspansinya ke segenap wilayah-wilayah lain di luar wilayah Saudi.Sayyid Hasan bin Ali as-Saqqaf, salah satu ulama Ahlusunnah yang sangat getol mempertahankan serangan dan ekspansi kelompok wahabisme ke negara-negara muslim, dalam salah satu karyanya yang berjudul “as-Salafiyah al-Wahabiyah” menyatakan: “Tidak ada perbedaan antara salafiyah dan wahabiyah.

Kedua istilah itu ibarat dua sisi pada sekeping mata uang. Mereka (kaum salafi dan wahabi) satu dari sisi keyakinan dan pemikiran. Sewaktu di Jazirah Arab mereka lebih dikenal dengan al-Wahhabiyah al-Hanbaliyah. Namun, sewaktu diekspor keluar (Saudi), mereka mengatasnamakan dirinya sebagai Salafy.” Sayyid as-Saqqaf menambahkan: “Maka kelompok salafi adalah kelompok yang mengikuti Ibnu Taimiyah dan mengikuti ulama mazhab Hanbali. Mereka semua telah menjadikan Ibnu Taimiyah sebagai imam, tempat rujukan (marja’), dan ketua. Ia (Ibnu Taimiyah) tergolong ulama mazhab Hanbali. Sewaktu mazhab ini berada di luar Jazirah Arab, maka tidak disebut dengan Wahabi, karena sebutan itu terkesancelaan.”

Dalam menyinggung masalah para pemuka kelompok itu, kembali Sayyid as-Saqqaf mengatakan: “Pada hakikatnya, Wahabiyah terlahir dari Salafiyah. Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang yang menyeru untuk mengikuti ajaran Ibnu Taimiyah dan para pendahulunya dari mazhab Hanbali, yang mereka kemudian mengaku sebagai kelompok Salafiyah.” Dalam menjelaskan secara global tentang ajaran dan keyakinan mereka, as-Saqqaf mengatakan: “Al-Wahabiyah atau as-Salafiyah adalah pengikut mazhab Hanbali, walaupun dari beberapa hal pendapat mereka tidak sesuai lagi (dan bahkan bertentangan) dengan pendapat mazhab Hanbali sendiri. Mereka sesuai (dengan mazhab Hanbali) dari sisi keyakinan tentang at-Tasybih (Menyamakan Allah dengan makhluk-Nya), at-Tajsim (Allah berbentuk mirip manusia), dan an-Nashb yaitu membenci keluarga Rasul saw. (Ahlul-Bait) dan tiada menghormati mereka.”

8Jadi, menurut as-Saqqaf, kelompok yang mengaku Salafi adalah kelompok Wahabi yang memiliki sifat Nashibi(pembenci keluarga Nabi saw.), mengikuti pelopornya, Ibnu Taimiyah.Pelopor Pemikiran “Kembali ke Metode Ajaran Salaf”Ahmad bin Hanbal adalah sosok pemuka hadis yang memiliki karya terkenal, yaitu kitab “Musnad”. Selain sebagai pendiri mazhab Hanbali, ia juga sebagai pribadi yang menggalakkan ajaran kembali kepada pemikiran Salaf Saleh. Secara umum, metode yang dipakai oleh Ahmad bin Hanbal dalam pemikiran akidah dan hukum fikih, adalah menggunakan metode tekstual. Oleh karenanya, ia sangat keras sekali dalam menentang keikutsertaan dan penggunaan akal dalam memahami ajaran agama.Ia beranggapan, kemunculan pemikiran logika, filsafat, ilmu kalam (teologi) dan ajaran-ajaran lain—yang dianggap ajaran di luar Islam yang kemudian diadopsi oleh sebagian muslim—akan membahayakan nasib teks-teks agama.

Dari situ akhirnya ia menyerukan untuk berpegang teguh terhadap teks, dan mengingkari secara total penggunaan akal dalam memahami agama, termasuk proses takwil rasional terhadap teks. Ia beranggapan, bahwa metode itulah yang dipakai Salaf Saleh dalam memahami agama, dan metode tersebut tidak bisa diganggu gugat kebenaran dan legalitasnya. Syahrastani yang bermazhab ‘Asyariyah dalam kitab “al-Milal wa an-Nihal” sewaktu menukil ungkapan Ahmad bin Hanbal yang menyatakan: “Kita telah meriwayatkan (hadis) sebagaimana adanya, dan hal (sebagaimana adanya) itu pula yang kita yakini.”9 Konsekuensi dari ungkapan Ahmad bin Hanbal di atas itulah, akhirnya ia beserta banyak pengikutnya—termasuk Ibnu Taimiyah—terjerumus ke dalam jurang kejumudan dan kaku dalam memahami teks agama.

Salah satu dampak konkret dari metode di atas tadi adalah, keyakinan akan tajsim (anthropomorphisme) dan tasybih dalam konsep ketuhanan, lebih lagi kelompok Salafi kontemporer, pendukung ajaran Ibnu Taimiyahal-Harrani yang kemudian tampuk kepemimpinannya dilanjutkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi.Suatu saat, datang seseorang kepada Ahmad bin Hanbal. Lantas, ia bertanya tentang beberapa hadis. Hingga akhirnya, pertanyaan sampai pada hadis-hadis semisal: “Tuhan pada setiap malam turun ke langit Dunia.”, “Tuhan bisa dilihat.”, “Tuhan meletakkan kaki-Nya ke dalam Neraka.” dan hadis-hadis semisalnya. Lantas ia (Ahmad bin Hanbal) menjawab: “Kita meyakini semua hadis-hadis tersebut. Kita membenarkan semua hadis tadi, tanpa perlu terhadap proses pentakwilan.”

0Jelas metode semacam ini tidak sesuai dengan ajaran al-Quran dan as-Sunnah itu sendiri. Jika diperhatikan lebih dalam lagi, betapa al-Quran dalam ayat-ayatnya sangat menekankan penggunaan akal dan pikiran dalam bertindak.11Begitu juga hadis-hadis Nabi saw. Selain itu, pengingkaran secara mutlak campur tangan akal dan pikiran manusia dalam memahami ajaran agama akan mengakibatkan kesesatan dan bertentangan dengan ajaran al-Quran dan as-Sunnah itu sendiri. Dapat kita contohkan secara singkat penyimpangan yang terjadi akibat penerapan konsep tadi. Jika terdapat ayat semisal “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arasy.”12 atau seperti hadis yang menyatakan “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada setiap malam.”

13 Lantas, di sisi lain kita tidak boleh menggunakan akal dalam memahaminya, bahkan cukup menerima teks sebagaimana adanya, maka kita akan terbentur dengan ayat lain dalam al-Quran seperti ayat “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.”14 Apakahayat dari surat Thoha tadi berartikan bahwa Allah bertengger di atas singgasana Arasy sebagaimana Ibnu Taimiyah duduk di atas mimbar, atau turun ke langit dunia sebagaimana Ibnu Taimiyah turun dari atas mimbarnya, yang itu semua berarti bertentangan dengan ayat dari surat as-Syuura di atas.Jadi akan terjadi kontradiksi dalam memahami hakikat ajaran agama Islam. Mungkinkah Islam sebagai agama paripurna akan terdapat kontradiksi? Semua kaum muslim pasti akan menjawabnya dengan negatif, apalagi berkaitan dengan al-Quran sebagai sumber utama ajaran Islam.Melihat kelemahan metode dasar yang ditawarkan oleh Ahmad bin Hanbal semacam ini, meniscayakan adanya pengeroposan ajaran-ajaran yang bertumpu pada metode tadi.

Dalam masalah ini, kembali as-Sahrastani mengatakan: “Berbagai individu dari Salaf telah menetapkan sifat azali Tuhan, semisal; sifat Ilmu, Kemampuan (Qudrat) … dan mereka tidak membedakan antara sifat Dzati dan Fi’li. Sebagaimana mereka juga telah menetapkan sifat khabariyah buat Tuhan, seperti; dua tangan dan wajah Tuhan. Mereka tidak bersedia mentakwilnya, dan mengatakan: itu semua adalah sifat-sifat yang terdapat dalam teks-teks agama.

Semua itu kita sebut sebagai sifat khabariyah.” Dalam kelanjutan dari penjelasan mengenai kelompok Salafi tadi, kembali as-Sahrastani mengatakan: “Para kelompok Salafi kontemporer meyakini lebih dari para kelompok Salaf itu sendiri. Mereka menyatakan, sifat-sifat khabari bukan hanya tidak boleh ditakwil, namun harus dimaknai secara zahir. Oleh karenanya, dari sisi ini, merekatelah terjerumus ke dalam murni keyakinan tasybih. Tentu, permasalahan semacam ini bertentangan dengan apa yang diyakini oleh para salaf itu sendiri.”15 Jadi sesuai dengan ungkapan Syahrastani, bahwa mayoritas para pengikut kelompok Salafi kontemporer telah menyimpang dari keyakinan para Salaf itu sendiri. Itu jika kita telaah secara global tentang konsep memahami teks.

Akibatnya, mereka akan terjerumus kepada kesalahan fatal dalam mengenal Tuhan, juga dalam permasalahan-permasalahan lainnya. Padahal, masih banyak lagi permasalahan-permasalahan lain yang jelas-jelas para Salaf meyakininya, sedang pengaku pengikut salaf kontemporer (salafi) justru mengharamkan dengan alasan syirik, bidah, ataupun khurafat. Perlu ada tulisan tersendiri tentang hal-hal tadi, dengan disertai kritisi pendapat dan argumentasi para pendukung kelompok Wahabisme.16Itulah yang menjadi alasan bahwa para pengikut Salafi (kontemporer) itu sudah banyak menyimpang dari ajaran para Salaf itu sendiri,termasuk sebagian ajaran imam Ahmad bin Hanbal sendiri.

17Faktor Munculnya Kelompok SalafiDalam melihat faktor kemunculan pemikiran untuk kembali kepada pendapat Salaf menurut Imam Ahmad bin Hanbal dapat diperhatikan dari kekacauan pada zaman itu. Sejarah membuktikan, saat itu, dari satu sisi, kemunculan pemikiran liberalisme yang diboyong oleh pengikut Muktazilah, yang meyakini keikutsertaan dan kebebasan akal secara ekstrem dan radikal dalam proses memahami agama. Sedang di sisi lain, munculnya pemikiran filsafat yang banyak diadopsi dari budaya luar agama, menyebabkan munculnya rasa putus asa dari beberapa kelompok ulama Islam, termasuk Ahmad bin Hanbal. Untuk lari dari pemikiran-pemikiran semacam itu, lantas Ahmad bin Hanbal memutuskan untuk kembali kepada metode para Salaf dalam memahami agama, yaitu dengan cara tekstual.

Syeikh Abdul Aziz ‘Izzuddin as-Sirwani dalam menjelaskan faktor kemunculan pemikiran kembali kepada metode Salaf, mengatakan: “Dikatakan bahwa penyebab utama untuk memegang erat metode itu—yang sangat nampak pada pribadi Ahmad bin Hanbal—adalah dikarenakan pada zamannya banyak sekali dijumpai fitnah-fitnah, pertikaian dan perdebatan teologis. Dari sisi lain, berbagai pemikiran aneh, keyakinan-keyakinan yang bermacam-macam dan beraneka ragam budaya mulai bermunculan. Bagaimana mungkin semua itu bisa muncul di khasanah keilmuan Islam. Oleh karenanya, untuk menyelamatkan keyakinan-keyakinan Islam, maka ia menggunakan metode kembali ke pemikiran Salaf.”

18 Hal semacam itu pula yang dinyatakan oleh as-Syahrastani dalam kitab al-Milal wa an-Nihal.Fenomena semacam ini juga bisa kita perhatikan dalam sejarah hidup Abu Hasan al-Asy’ari pendiri mazhab al-Asyariyah. Setelah ia mengumumkan diri keluar dari ajaran Muktazilah yang selama ini ia dapati dari ayah angkatnya, Abu Ali al-Juba’i seorang tokoh Muktazilah di zamannya.

Al-Asy’ari dalam karyanya yang berjudul “al-Ibanah” dengan sangat jelas menggunakan metode mirip yang digunakan oleh Ahmad bin Hanbal. Namun karena ia melihat bahwa metode semacam itu terlampau lemah, maka ia agak sedikit berganti haluan dengan mengakui otoritas akal dalam memahami ajaran agama, walau dengan batasan yang sangat sempit. Oleh karenanya, dalam karya lain yang diberi judul “al-Luma’” nampak sekali betapa ia masih mengakui campur tangan dan keturutsertaan akal dalam memahami ajaran agama, berbeda dengan metode Ahmad bin Hanbal yang menolak total keikutsertaan akal dalam masalah itu.

Dikarenakan al-Asy’ari hidup di pusat kebudayaan Islam kala itu, yaitu kota Baghdad, maka sebutanAhlusunnah pun akhirnya diidentikkan dengan mazhabnya. Sedang mazhab Thohawiyah dan Maturidiyah yang kemunculannya hampir bersamaan dengan mazhab Asyariyah dan memiliki kemiripan dengannya, menjadi kalah pamor di mata mayoritas kaum muslimin, apalagi ajaran Ahmad bin Hanbal sudah tidak lagi dilirik oleh kebanyakan kaum muslimin. Lebih-lebih pada masa kejayaan Ahlusunnah, kemunculan kelompok Salafi kontemporer yang dipelopori oleh Ibnu Taimiyah yang sebagai sempalan dari mazhab ImamAhmad bin Hanbal, pun tidak luput dari ketidaksimpatian kelompok mayoritas Ahlusunnah. Ditambah lagi dengan penyimpangan terhadap akidah Salaf yang dilakukan Salafi kontemporer (pengikut Ibnu Taimiyah)—yang dikomandoi oleh Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi—serta tindakan arogan yang dilancarkan para pengikut Salafi tersebut terhadap kelompok lain yang dianggap tidak sependapat dengan pemikiran mereka.

Kecurangan Kelompok SalafiSetiap golongan bukan hanya berusaha untuk selalu mempertahankan kelangsungan golongannya, namun mereka juga berusaha untuk menyebarkan ajarannya. Itu merupakan suatu hal yang wajar. Akan tetapi, tingkat kewajarannya bukan hanya bisa dinilai dari sisi itu saja, namun juga harus dilihat dari cara dan sarana yang dipakai untuk mempertahankan kelangsungan dan penyebaran ajaran golongan itu. Dari sisi ini, kelompok Salafi banyak melakukan beberapa kecurangan yang belum banyak diketahui oleh kelompok muslim lainnya.Selain kelompok Ahlusunnah biasa, kelompok Ahli Tasawwuf dari kalangan Ahlusunnah dan kelompok Syiah (di luar Ahlusunnah) merupakan kelompok-kelompok di luar Wahabi (Salafi) yang sangat gencar diserang oleh kelompok Salafi.

Kelompok Salafi tidak segan-segan melakukan hal-hal yang tidak ‘gentle’ dalam menghadapi kelompok-kelompok selain Salafi, terkhusus Syiah. Menuduh kelompok lain dari saudara-saudaranya sesama muslim sebagai ahli bid’ah, ahli khurafat, musyrikadalah kebiasaan buruk kaum Salafi, walaupun kelompok tadi tergolong Ahlusunnah. Di sisi lain, mereka sendiri terus berusaha untuk disebut dan masuk kategori kelompok Ahlusunnah. Berangkat dari sini, kaum Salafi selalu mempropagandakan bahwa Syiah adalah satu kelompok yang keluar dari Islam, dan sangat berbeda dengan pengikut Ahlusunnah. Mereka benci dengan usaha-usaha pendekatan dan persatuan Sunnah-Syiah, apalagi melalui forum dialog ilmiah. Mereka berpikir bahwa dengan mengafirkan kelompok Syiah, maka mereka akan dengan mudah duduk bersama dengan kelompok Ahlusunnah.

Padahal realitanya tidaklah semacam itu. Karena mereka selalu menuduh kelompok Ahlusunnah sebagai pelaku Bid’ah, Khurafat, Takhayul dan Syirik. Mereka berpikir, sewaktu seorang pengikut Ahlusunnah melakukan ziarah kubur, tahlil, membaca salawat dan pujian terhadap Nabi, istighotsah, bertawassul dan mengambil berkah (tabarruk) berarti ia telah masuk kategori pelaku syirik atau ahli bid’ah yang telah jelaskonsekuensi hukumnya dalam ajaran Islam.Cara itu juga yang mereka lakukan terhadap para pengikut tasawuf dan tarekat yang banyak ditemui dalam tubuh Ahlusunnah sendiri, khususnya di Indonesia.

Segala bentuk makar dan kebohongan untuk menghadapi rival akidahnya merupakan hal mubah di mata pengikut Salafi (Wahabi), karena kelompok Salafi masih terus beranggapan bahwa selain kelompoknya masih dapat dikategorikan pelaku syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul. Perlakuan mereka terhadap kaum muslimin pada musim haji merupakan bukti yang tidak dapat diingkari.Yang lebih parah dari itu, para pendukung kelompok Salafi—yang didukung dana begitu besar—berani melakukan perubahan pada kitab-kitab standar Ahlusunnah, demi untuk menguatkan ajaran mereka, yang dengan jelas tidak memiliki akar sejarah dan argumentasi (tekstual dan rasional) yang kuat.

Dengan melobi para pemilik percetakan buku-buku klasik agama yang menjadi standar ajaran—termasuk kitab-kitab hadis dan tafsir—mereka berani mengeluarkan dana yang sangat besar untuk mengubah beberapa teks (hadis ataupun ungkapan para ulama) yang dianggap merugikan kelompok mereka.Kita ambil contoh apa yang diungkapkan oleh Syeikh Muhammad Nuri ad-Dirtsawi, beliau mengatakan: “Mengubah dan menghapus hadis-hadis merupakan kebiasaan buruk kelompok Wahabi. Sebagai contoh, Nukman al-Alusi telah mengubah tafsir yang ditulis oleh ayahnya, Syeikh Mahmud al-Alusi yang berjudul Ruh al-Ma’ani. Semua pembahasan yang membahayakan kelompok Wahabi telah dihapus.

Jika tidak ada perubahan, niscaya tafsirbeliau menjadi contoh buat kitab-kitab tafsir lainnya. Contoh lain, dalam kitab al-Mughni karya Ibnu Qodamah al-Hanbali, pembahasan tentang istighotsah telah dihapus, karena hal itu mereka anggap sebagai bagian dari perbuatan Syirik. Setelah melakukan perubahan tersebut, baru mereka mencetaknya kembali.Kitab Syarah Shahih Muslim pun (telah diubah) dengan membuang hadis-hadis yang berkaitan dengan sifat-sifat (Allah), kemudian baru mereka mencetaknya kembali.”

20Namun sayang, banyak saudara-saudara dari Ahlusunnah lalai dengan apa yang mereka lakukan selama ini. Perubahan-perubahan semacam itu, terkhusus mereka lakukan pada hadis-hadis yang berkaitan dengan keutamaan keluarga (Ahlul-Bait) Nabi saw. Padahal, salah satu sisi kesamaan antara Sunni-Syiah adalah pemberian penghormatan khusus terhadap keluarga Nabi. Dari sinilah akhirnya pribadi seperti Sayyid Hasan bin Ali as-Saqqaf menyatakan bahwa mereka tergolong kelompok Nashibi (pembenci keluarga Rasul).Dalam kitab tafsir Jami’ al-Bayan, sewaktu menafsirkan ayat 214 dari surat as-Syu’ara: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabat-mu yang terdekat,” di situ, Rasulullah mengeluarkan pernyataan berupa satu hadis yang berkaitan dengan permulaan dakwah.

Pada hadis yang tercantum dalam kitab tafsir tersebut disebutkan, Rasul bersabda: “Siapakah di antara kalian yang mau menjadi wazir dan membantuku dalam perkara ini—risalah—maka akan menjadi saudaraku…(kadza…wa…kadza)….” Padahal, jika kita membuka apa yang tercantum dalam Tarikh at-Thabari kata “kadza wa kadza” (yang dalam penulisan buku berbahasa Indonesia, biasa digunakan titik-titik) sebagai ganti dari sabda Rasul yang berbunyi: “Washi (pengganti) dan Khalifahku.” Begitu pula hadis-hadis semisal, “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya,” yang dulu tercantum dalam kitab Jaami’ al-Ushul karya Ibnu Atsir, kitab Tarikh al-Khulafa’ karya as-Suyuthi dan as-Showa’iq al-Muhriqoh karya Ibnu Hajar yang beliaunukil dari Shahih at-Turmudzi, kini telah mereka hapus.

Melakukan peringkasan kitab-kitab standar, juga sebagai salah satu trik mereka untuk tujuan yang sama.Dan masih banyak usaha-usaha licik lain yang mereka lancarkan, demi mempertahankan ajaran mereka, terkhusus ajaran kebencian terhadap keluarga Nabi. Sementara sudah menjadi kesepakatan kaum muslimin, bahwa mencintai keluarga Nabi adalah suatu kewajiban, sebagaimana Syair yang pernah dibawakan oleh imam Syafi’i:“Jika mencintai keluarga Muhammad adalah Rafidhi (Syiah), maka saksikanlah wahai ats-Tsaqolaan (jin dan manusia) bahwa aku adalah Rafidhi.”21Salafi (Wahabi) dan KhawarijTidak berlebihan kiranya jika sebagian orang beranggapan bahwa kaum Wahabi (Salafi) memiliki banyak kemiripan dengan kelompok Khawarij.

Melihat, dari sejarah yang pernah ada, kelompok Khawarij adalah kelompok yang sangat mirip sepak terjang dan pemikirannya dengan kelompok Wahabi.Oleh karenanya, bisa dikatakan bahwa kelompok Wahabi adalah pengejawantahan kelompok Khawarij di masa sekarang ini. Di sini, secara singkat bisa disebutkan beberapa sisi kesamaan antara kelompok Wahabi dengan golongan Khawarij yang dicela melalui lisan suci Rasulullah saw., di mana Rasul memberi julukan golongan sesat itu (Khawarij) dengan sebutan “mariqiin”, yang berarti ‘lepas’ dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya.

22Paling tidak ada enam kesamaan antara dua golongan ini yang bisa disebutkan. Pertama, sebagaimana kelompok Khawarij dengan mudah menuduh seorang muslim dengan sebutan kafir, kelompok Wahabi pun sangat mudah menuduh seorang muslim sebagai pelaku syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul. Yang semua itu adalah ‘kata halus’ dari pengkafiran, walaupun dalam beberapa hal memiliki kesamaan dari konsekuensi hukumnya. Abdullah bin Umar dalam menyifati kelompok Khawarij mengatakan: “Mereka menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir, lantas mereka terapkan untuk menyerang orang-orang beriman.”23 Ciri-ciri semacam itu juga akan dengan mudah kita dapati pada pengikut kelompok Salafi (Wahabi) berkaitan dengan saudara-saudaranya sesama muslim.

Bisa dilihat, betapa mudahnya para rohaniawan Wahabi (muthowi’) menuduh para jamaah haji sebagai pelaku syirik dan bid’ah dalam melakukan amalan yang dianggap tidak sesuai dengan akidah mereka.Kedua, sebagaimana kelompok Khawarij disifati sebagaimana yang tercantum dalam hadis Nabi: “Mereka membunuh pemeluk Islam, sedang para penyembah berhala mereka biarkan.”24 maka sejarah telah membuktikan bahwa kelompok Wahabi pun telah melaksanakan prilaku keji semacam itu. Sebagaimana yang pernah dilakukan pada awal penyebaran Wahabisme oleh pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab.

Pembantaian berbagai kabilah dari kaum muslimin mereka lakukan di beberapa tempat, terkhusus di wilayah Hijaz dan Irak kala itu.Ketiga, sebagaimana kelompok Khawarij memiliki banyak keyakinan yang aneh dan keluar dari kesepakatan kaum muslimin, seperti keyakinan bahwa pelaku dosa besar dihukumi kafir, kaum Wahabi pun memiliki kekhususan yang sama.Keempat, seperti kelompok Khawarij memiliki jiwa jumud (kaku), mempersulit diri dan mempersempit luang lingkup pemahaman ajaran agama, maka kaum Wahabi pun mempunyai kendala yang sama.Kelima, kelompok Khawarij telah keluar dari Islam dikarenakan ajaran-ajaran yang menyimpang, maka Wahabi pun memiliki penyimpangan yang sama.

Oleh karenanya, ada satu hadis tentang Khawarij yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahih-nya, yang dapat pula diterapkan pada kelompok Wahabi. Rasul bersabda: “Beberapa orang akan muncul dari belahan bumi sebelah timur. Mereka membaca al-Quran, tetapi (bacaan tadi) tidak melebihi batas tenggorokkan. Mereka telah keluar dari agama (Islam), sebagaimana terkeluar (lepas)-nya anak panah dari busurnya.Tanda-tanda mereka, suka mencukur habis rambut kepala.”

25 Al-Qistholani dalam mensyarahi hadis tadi mengatakan: “Dari belahan bumi sebelah timur,” yaitu dari arah timur kota Madinah semisal daerah Najd.26 Sedang dalam satu hadis disebutkan, dalam menjawab perihal kota an-Najd: “Di sana terdapat berbagai guncangan, dan dari sana pula muncul banyak fitnah.”27 Atau dalam ungkapan lain yang menyebutkan: “Di sana akan muncul qornsetan.” Dalam kamus bahasa Arab, kata qorn berartikan umat, pengikut ajaran seseorang, kaum atau kekuasaan.28Sedang kita tahu, kota Najd adalah tempat lahir dan tinggal Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi, pendiri Wahabi.

Kota itu sekaligus sebagai pusat Wahabisme, dan dari situlah pemikiran Wahabisme disebarluaskan ke segala penjuru dunia. Banyak tanda zahir dari kelompok tersebut. Selain mengenakan celana atau gamis hingga betis, mencukur rambut kepala sedangkan jenggot dibiarkan bergelayutan tidak karuan adalah salah satu syiar dan tanda pengikut kelompok ini.Keenam, sebagaimana kelompok Khawarij meyakini bahwa “negara muslim” (Daar al-Salam) jika penduduknya banyak melakukan dosa besar, maka dapat dikategorikan “negara zona perang” (Daar al-Harb), kelompok radikal Wahabi pun meyakini hal tersebut.

Sekarang ini dapat dilihat, bagaimana kelompok-kelompok radikal Wahabi—seperti al-Qaedah—melakukan aksi teror di berbagai tempat yang tidak jarang kaum muslimin juga sebagai korbannya.Tulisan ringkas ini mencoba untuk mengetahui tentang apa dan siapa kelompok Salafi (Wahabi). Semoga dengan pengenalan ringkas ini akan menjadi kejelasan akan kelompok yang disebut-sebut sebagai Salafi ini, yang mengaku penghidup kembali ajaran Salaf Saleh. Sehingga kita bisa lebih berhati-hati dan mawas diri terhadap aliran sesat dan menyesatkan yang telah menyimpang dari Islam Muhammadi tersebut.

Penulis: Adalah mahasiswa pasca sarjana Perbandingan Agama dan Mazhab di Universitas Imam Khomeini Qom, Republik Islam Iran.Rujukan:2 Lisan al-Arab, jil. 6, hal. 330.3 As-Salafiyah Marhalah Zamaniyah, hal. 9, karya Dr. M Said Ramadhan Buthi.4 As-Shohwat al-Islamiyah, hal. 25, karya al-Qordhowi.5 Al-Aqoid as-Salafiyah, hal. 11, karya Ahmad bin Hajar Aali Abu Thomi.6 Al-Madzahib al-Islamiyah, hal. 331, karya Muhammad Abu Zuhrah.7 Untuk lebih jelasnya, dapat ditelaah lebih lanjut kitab tebal karya penulis Arab al-Ustadz Nasir as-Sa’id tentang sejarah kerajaan Arab Saudi yang diberi judul “Tarikh aali Sa’ud.” Karya ini berulang kali dicetak. Di situ dijelaskan secara detail sejarah kemunculan keluarga Saud di Jazirah Arab hingga zaman kekuasaan raja Fahd. Dalam karya tersebut, as-Said menetapkan bahwa keluarga Saud (pendiri) kerajaan Arab Saudi masih memiliki hubungan darah dan emosional dengan Yahudi Arab.8 Selengkapnya silakan lihat: As-Salafiyah al-Wahabiyah, karya Hasan bin Ali as-Saqqaf, cet. Daar al-Imam an-Nawawi, Amman-Yordania.9 Al-Milal wa an-Nihal, jil. 1, hal. 165, karya as-Syahrastani.10 Fi ‘Aqo’id al-Islam, hal. 155, karya Muhammad bin Abdul Wahab (dalam kumpulan risalah-nya).11 Ayat-ayat al-Quran yang berbunyi “afalaa ta’qiluun” (Apakah kalian tidak memakai akal) atau “Afalaa tatafakkarun” (Apakah kalian tidak berpikir) dan semisalnya akan sangat mudah kita dapati dalam al-Quran.Ini semua salah satu bukti konkret bahwa al-Quran sangat menekankan penggunaan akal dan mengakui keikutsertaan akal dalam memahami kebenaran ajaran agama.12 Q.S. Thoha: 5.13 Al-Washiyah al-Kubra, hal. 31 atau Naqdhu al-Mantiq, hal. 119 karya Ibnu Taimiyah.14 Q.S. as-Syura: 11.15 Al-Milal wa an-Nihal, jil. 1, hal. 84.16 Banyak hal yang terbukti dengan argumen teks yang mencakup ayat, riwayat, ungkapan dan sirah para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in diperbolehkan, namun pada kelompok Salafi (Wahabi) mengharamkannya, seperti masalah; membangun dan memberi cahaya lampu pada kuburan, berdoa di samping makam para kekasih Ilahi (waliyullah), mengambil berkah dari makam kekasih Allah, menyeru atau meminta pertolongan dan syafaat dari para kekasih Allah pasca kematian mereka, bernazar atau sumpah atas nama para kekasih Allah, memperingati dan mengenang kelahiran atau kematian para kekasih Allah, bertawassul, dan melaksanakan tahlil (majelis fatihah)…semua merupakan hal yang diharamkan oleh para kelompok Salafi, padahal banyak ayat dan riwayat, juga prilaku para Salaf yang menunjukkan akan diperbolehkannya hal-hal tadi.17Salah satu bentuk penyimpangan kelompok Wahabi terhadap ajaran Imam Ahmad bin Hanbal adalah pengingkaran Ibnu Taimiyah terhadap berbagai hadis berkaitan dengan keutamaan keluarga Rasul saw., yang Imam Ahmad sendiri meyakini keutamaan mereka dengan mencantumkannya dalam kitab Musnad-nya. Dari situ akhirnya Ibnu Taimiyah bukan hanya mengingkari hadis-hadis tersebut, bahkan melakukan pelecehan terhadap keluarga Rasul, terkhusus Ali bin Abi Thalib as. (lihat: Minhaj as-Sunnah, jil. 8, hal. 329.) Dan terbukti, kekhilafahan Ali sempat “diragukan” oleh Ibnu Taimiyah dalam kitabnya “Minhaj as-Sunnah” (lihat: jil. 4, hal. 682), dan ia termasuk orang yang menyebarluaskan keraguan itu. Padahal, semua kelompok Ahlusunnah “meyakini” akan kekhilafahan Ali. Lantas, masihkah layak Ibnu Taimiyah beserta pengikutnya mengaku sebagai pengikut Ahlussunnah?18Al-Aqidah li al-Imam Ahmad bin Hanbal, hal. 38.19 As-Salafiyah baina Ahlusunnah wa al-Imamiyah, hal. 680.20 Rudud ‘ala Syubahaat as-Salafiyah, hal. 249.21 Diwan as-Syafi’i, hal. 55.22 Musnad Ahmad, jil. 2, hal. 118.23 Shahih Bukhari, jil. 4, hal. 197.24 Majmu’ al-Fatawa, jil. 13, hal. 32, karya Ibnu Taimiyah.25 Shahih Bukhari, “kitab at-Tauhid”, bab 57, hadis ke-7123.26 Irsyad as-Saari, jil. 15, hal. 626.27 Musnad Ahmad, jil. 2, hal. 81 atau jil. 4, hal. 5.28 Al-Qomuus, jil. 3, hal. 382, kata: “Qo-ro-na.”Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (QS. An Nisaa’ : 48)Dari Abu Dzar ra., Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Jibril berkata kepadaku, ‘Barangsiapa diantara umatmu yang meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka pasti dia masuk surga’” (HR. Bukhari) [Hadits ini terdapat pada Kitab Shahih Bukhari]

Oleh: Mukhtar Luthfi
diambil dari : http://dervishwarrior.blogspot.com/

Iklan

14 Tanggapan

  1. tampak qoum syi’ah,adres sekulnya※narasumber yg punya niat jahat.dari Ulama yg ku temui seorang mursyid memuji kebersihan ibadah beliau(yang disebut wahabi).wahabi adalah nama yang disematkan kaum orientalis.makin tampak jelas narasumber dari ulama syi’ah.anda syi’ah yang memukul wahabi,karena merasa dirugikan.berikut ajaran syi’ah yg dimentahkan wahabi dan ibnu Taimiyah:
    -Alloh bersifat AL BADA’.
    -AL QUR AN dg 6666 ayat diklaim palsu.

  2. saya cuma mau cerita ketika suatu saat ketemu dengan orang yang ngaku “salafi”, menurut dia:
    1. Allah itu mirip manusia, punya tangan dan kaki, duduk di Arasy
    2. semua ilmu selain ilmu agama yang ada di kalangan mereka, maka ilmu itu sesat dan sia-sia
    3. matahari itu mengelilingi bumi
    4. orang-orang lain yang bicara tentang Quran dan hadits yang tidak mengikuti guru-guru mereka adalah bodoh
    5. orang-orang yang tidak ikut golongan mereka adalah orang-orang yang tidak mengikuti Nabi
    6. orang-orang yang bukan dari golongan mereka adalah “musuh” yang harus dihadapi
    🙂 saya tidak bicara dulu tentang salafi itu apa, saya hanya bicara FAKTA bahwa seperti itulah perlakuan mereka pada saya sebagai sesama muslim (rasanya kok seperti dimusuhi dan terancam sekali ya dekat dengan mereka), padahal orang shaleh itu mestinya memberikan aura menyejukkan, bukan menakutkan !!!!!

  3. Tulisan yang dapat menambah WAWASAN buat saya pribadi…buat saya… ketika kita sadar sesadar sadarnya terhadap kalimah “LAA ILAAH ILLALLAAH” kita tidak perlu repot2 beradu argumen mencari cari dalil buat menangkis aliran “XXX” atau membenarkan aliran “XXX”…terapkanlah dalam diri masing masing selalu jujur…menganjurkan yang baik jauhi sikap dan fikiran buruk.. dan selalu ingat…tiada tuhan selain ALLAH jadi kemanapun kita pergi dimanapun kita berada ingatlah ALLAH. insya Allah kita terhindar dari godaan syetan yg terkutuk.ISLAM itu agama rahmat semesta alam, agama kita itu agama penyempurna bagi agama2 terdahulu.. kita tidak perlu saling menyalahkan atau merasa paling benar sendiri.kita(ISLAM) harusnya menjadi contoh bagi saudara2 kita di luar islam> Bagaiman islam bisa di nilai baik kalau kita selaku Muslim saling merendahkan menyalahkan bahkan saling memvonis ” kamu salah yang benar ini.”COBA di ingat kembali apa tujuan kalian berISLAM………….?
    Jadi jangan sok udah merasa berISLAM “secara benar” tapi ngga pernah menghargai orang lain(sesama islam)bagaimana islam bisa di nilai baik kalau kita selaku mulim saling merendahkan. coba aja klo kita merendahkan teman kita sendiri pasti teman kita otomatis menjauhi kita.
    pelajari ISLAM dari HULUnya jangan HILIRnya Pasti ngga kesasar, pasti ketemu semuanya.
    kalo kenal ISLAM dari HILIRnya maka akan kesasar. ibarat menyusuri sungai dari hulu hingga hilir pasti ngga kesasar… tapi klo dari hilirnya maka akan ketemu banyak anak2 sungai yang becabang.
    klo mau cari pahala silakan ibadah yang tekun… klo mau surga silakan ibadah yang rajin…Insya Allah apa yang kita perbuat akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan apa yang kita kerjakan.

    “SIAPA YANG MENGENAL DIRINYA MAKA AKAN MENGENAL TUHANNYA” klo sudah mengenal tuhannya maka kesehariannya akan bersamaNYA. INSYA ALLAH selamat dunia akhirat.
    yang di cari itu kan “selamat dunia akhirat

    WAssalam

  4. Cara bepikir antara kalangan muslim tekstualis dan kontekstualis, moderat dan ekstrem-radikal, eksklusif dan inklusif, rahmatan lil ‘alamin dan rahmatan li mutamadzhibin, formalis dan substansialis, kaku dan luwes, dan seterusnya nampaknya akan terus berlangsung hingga qiamat. Namun yang jelas, salah besar jika ada yang merasa paling benar atau paling taqwa. Klaim ini adalah kesombongan tersembunyi yang berbuah neraka. Hanya Allah yang paling tahu siapa yang bertaqwa, sedang kita tak tahu, kita hanya diperintah untuk berusaha keras jadi muttaqin, dan mudah2an Allah membimbing kita jadi muttaqin. Karena itu, perlu sikap rendah hati untuk saling mengerti dan bertoleransi walau satu sama lain berbeda paradigma, metodologi, dan pandangannya dalam hal memahami Islam.

  5. penulis ini sangat miskin informasi tentang salafy, koreksi akidah anda sendiri apakah sudah benar apa belum. Anda ternyata cuma copy paste dari situs lain, tulisan ini banyak dimuat di tempat lain.

  6. Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatu, wahai saudaraku mari kita saling koreksi diri. ketika ada saudara kita yang mengoreksi kita dahulukan muhasabah terhadap diri kita. dan jangan berlebihan dalam membenci. pelajari islam dari siapa saja yang menyampaikan ilmu dengan dalil Al Qur’an dan As sunnah, janganlah karena perbedaan pendapat menjadikan kita berpecah belah. musuh kita itu orang orang yahudi, nasrani dan seluruh kaum kafirun yang senantiasa membenci agama Allah. Setiap jama’ah tentu punya kesalahan karena tidak ada manusia yang ma’sum, kecuali Rasulullah.

  7. IntiNya, kita harus sama belajar Lagi, dan perbaiki ahlak, Kalo mau cari Guru cari yg ilmuNya tinggi ahlakNya Mulia….Ahlak Mulia……. Seorang Guru yg rendah Hati, tak merasa Benar Sendiri..

  8. Maaf, mohon jangan asal bicara.
    Bicaralah dengan ilmu dan teliti dulu agar tidak menimbulkan fitnah bagi umat.
    Perkataan dan tuduhan akan dipertanggungjawabkan kelak dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala dan orang-orang yang dituduhkan itu.
    Ingat pula bahwa ribuan orang bisa tersesatkan dengan tuduhan-tuduhan dusta ini. Bagaimana Anda menghadapi tuntutan di hadapan Allah nanti??
    Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua. Amiin.

  9. ass..akhy. ente ne ngomg ada dalilnya nggak, sok tau bener fitnah2 orang. barang cp mnuduh suatu kaum yang hal tsb tdk ada padanya mk akn kmbali padanya,, senjata mkan tuan gt looh…

  10. assalamualikum
    apakah ente semua yang udah merasa benar dan hebat dalam hadits dll yakin masuk surga??? yang jago bener dalam berdebat yang katanye ilmiah banget.. di teliti…ditelaah.. dll.. BOS agama itu bukan untuk diperdebatkan,di ilmiahkan, diseminarkan,ditelaah, ???
    ente pikirin dah..agama itu untuk apa?

  11. Assalammualaikum wr wb,
    Wahai saudaraku dalam Islam, bersatulah, berdamailah, dan hiduplah yang rukun., adapun kelebihan antum dalam melihat kekurangan saudaranya yang lain sampaikan dengan santun mudah mudahan Allah SWT memberikan hidayah dan inayahNya kepada kita semua sehingga dapat kembali ke Al Quran dan Ash Sunnah., setiap kelompok saudaraku tentu mereka ber amal dan beribadah berdasarkan dalild/nash yang shahih menurut masing masing keilmuan nya., namun perlu diketahui bahwa syetan dari golongan jin dan manusia banyak sekali mempelajari al Islam untuk menghancurkan Islam, ribuan Universitas memiliki jurusan Islamologi dan ribuan mahasiswa aktif belajar dan mereka memeiliki dana, lembaga, program , pemerintahan yang mendukung penghancuran Islam dalam segala segi hidup dan kehidupan, bagaimana kita ? masih saja bertikai, saling mengkafirkan yang lain, menyesatkan yang lain padahal masih saudara kita- bukan sesat danbukan kafir mereka mungkin belum mendapat kesempurnaan, mari doakan , da’wahi., yang kafir dan sesat itu ialah kaum YAhudi dan Kristen, itulah musuh kita yang sesungguhnya, sejak tegaknya Kitab BIBLE mereka itu sudah lebih 500 juta kaum muslimin di dunia hingga kii dibantai, dipecah diadu
    MARI KITA BERSATU BERDAMAI, KALAU MAU BERDISKUSI YANG DALAM DENGAN BAIK-
    Mari kembali ke jalan yang benar,- sudahkah anda mempelajari KRISTOLOGY untuk berdawah kepada mereka dan menyerang balik serta menghancurkan mereka( Ahmed Deedat alm., Zakir NAek., Sanihu MUnir, dll)., bukankah TASAWUF awalnya ajaran yang disebarkan setelah perang salib oleh orang Krsiten ( ABdul Gofar di Indonesia-/SNOUK HUGRONYE- ATAU ) atau dengan cerita WALISONGO hasil produk Kafir BELANDA SELAMA 400 TAHUN DI iNDONESIA, KALAU ANDA TELAAH dengan hati hati dan penuh kesabaran ternyata inti ajaran mereka adalah inti KATOLIK/KRISTEN/KABALAH/ YAHUDI-
    dan jangan bangga saudaraku negri ini mayoritas bukan muslim tetapi KEJAWEN ,. INI LADANG TERBESAR untuk dawah dan KAUM KRISTEN yang sudah meng obo obok islam – untuk lebih rinci silahkan hubungi ana di jacky2darky@gmail.com., mohon maaf karena yang benar datangnya haya dari Allah SWT- wassalam moh. zaky

  12. Bismillah,
    Assalamu’alaykum. ana balik lagi mas, agar timbul diskusi ilmiah diantara kita. ana ada beberapa point yang ingin ana diskusikan….
    1. Afwan bisa mas beritahu darimana mas tahu tarekat sufi/suluk itu amalan ashabus shufah?
    2. Tapi ana dulu juga pernah ikut lho menyembah kuburan, tabarruk dll , terus itu tulisan antum “berdoa disamping makam para kekasih ilahi (waliyullah),mengambil berkah dari makam kekasih allah, menyeru atau meminta pertolongan dan syafaat dari para kekasih allah pasca kematian mereka, bernazar atau sumpah atas nama para kekasih allah, memperingati dan mengenang kelahiran atau kematian para kekasih allah, bertawasul…” apa namanya itu kalau bukan beribadah di kuburan??
    3. Trus tulisan mas pada akhir paragraf 10 “…konsekuensi dari ungkapan Ahmad bin hanbal di atas itulah, akhirnya ia beserta banyak pengikutnya termasuk ibnu taimiyah terjerumus ke dalam jurang kejumudan dan kaku dalam memahami teks agama” trus yang lebih jelas lagi pada akhir paragraf 11 dan awal paragraf 12 “lantas ia (ahmad bin hanbal) menjawab: kita meyakini semua hadits-hadits tersebut. Kita membenarkan semua hadits tadi, tanpa perlu terhadap proses pentakwilan. Jelas metode semacam ini tidak sesuai dengan ajaran al-qur’an dan as-sunnah itu sendiri…” nah dengan kata lain statement tersebut menunjukkan bahwa imam ahmad tersesat. Betul??
    4. Trus kata mas yang “ayat dan hadits serta apapun yang datang dari allah dan rasulnya serta dari para sahabat dan ulama yang sudah mumpuni tidak perlu dibuktikan” wah ini perkataan yang rusak mas, coba pikirkan al qur’an itu masih harus ditafsirkan gak bisa seenaknya aja makanya ada ilmu tafsir yang merupakan ilmu menafsirkan al qur’an sehingga kita tidak terjerumus dalam menafsirkan al qur’an, nah kita juga harus cek dong siapa yang menafsirkan al qur’an tersebut apakah ulama yang mumpuni atau malah orang kafir!!!, terus hadits harus di cek makanya ada hadits yang shahih,hasan, dhoif, palsu dll, gak bisa kita berkata gak perlu di cek, begitu juga dengan apa yang disampaikan oleh ulama bisa juga salah karena tidak ada manusia yang terlepas dari kesalahan sehingga dalam masalah agama kita harus betul2 teliti.
    5. Trus kata mas “sampaikanlah olehmu walau satu ayat”,mas jangan lupa hadits ini lengkapnya begini ballighuu ‘annii walau aayah…(sampaikan dariku walau satu ayat..). nah ‘anni (dariku) dalam hadits ini yakni bermakna yang disampaikan betul2 dari rasulullah bukan dari fulan atau fulan…ini menjadi dalil ana, wong nabi aja nyuruh nyampaikan hadits yang betul2 dari beliau, trus gimana kita tau hadits tersebut betul2 dari beliau kalau gak kita cek??!! Trus masalah istawa’banyak dalam al qur’an misalnya “Yang Maha Pemurah yang bersemayam diatas ‘Arsy (QSThaahaa : 5)” nah yang ana maksud membuktikan bukan ana menolak ayat ini, tapi apa penafsiran yang benar tentang ayat ini, yang tentunya penafsiran menurut ahlusunnah bukan sufi lho!!
    6. Masalah gambar tahukan mas tentang hadits ini? “sesungguhnya orang-orang yang membuat gambar-gambar ini disiksa pada hari kiamat. Dikatakan kepada mereka “hidupkan apa yang kamu ciptakan”” (terjemahan fathul baari No. 5951 jilid 28 hal. 888 pustaka azzam), nah disitu al hafizh ibnu hajar al asqolani menjelaskan hadits ini sesuai zhahirnya bahwa mencakup semua gambar baik yang di rumah atau yang di majalah, koran dll begitu juga media internet, karena tidak ada madharatnya kalau mas tidak menggunakan gambar di blog mas, makanya gambar di blog mas terkena hadits ini, kecuali gambar yang digunakan untuk KTP, SIM dll yang akan timbul madhorot bila tidak ada gambar di KTP/SIM tersebut. Misalnya kita tau shalat berjamaah bagi laki2 wajib di masjid kecuali ada alasan syar’i seperti sakit atau hujan lebat maka kita boleh shalat wajib dirumah gak perlu ke masjid, begitu juga dengan gambar ,ketika tidak ada alasan syar’i mas membuat gambar maka gambar tersebut haram hukumnya walaupun gambar itu cuma ada di dunia maya karena keumuman hadits tersebut di atas.
    Demikian ana tulis lagi kritik untuk antum, dan mas jangan salah bahwa perdebatan itu harus ilmiah, dalilnya “jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,maka kembalikanlah ia kepada allah (al-qur’an )dan rasul (sunnahnya), jika kamu benar2 beriman kepada allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS an-Nisa’ : 59), mas bisa liat tafsir ibnu katsir tentang penafsiran ayat ini bahwa yang dimaksud dengan kembalikan kepada al-qur’an dan sunnah adalah kita harus berdebat dengan dalil sehingga bukan hawa nafsu semata yang keluar dari perdebatan tersebut dan gak cukup hanya dengan hati yang bersih dan lapang saja. Dan alhamdulillah ana menerima kebenaran dari siapapun tapi tidak mencari kebenaran dari siapapun. Jazakumullah khoir mas atas tanggapannya. Mudah2an allah memberikan ilmu yang luas kepada mas.

    Saudaramu,

    Abu Mundzir al-falimbanji

  13. @abu mundzir
    Assalamu alaikum warahmatullahi wa barakatuh.
    Saya selalu mengucapkan salam kepada semua saudara seiman seakidah walaupun dari golongan atau firqah manapun.

    Saya ucapkan terimakasih atas saran dan kritikan akhi kepada saya.
    Adapun jawaban saya adalah:
    1. Tarekat sufi atau suluk itu merupakan amalan ashabus shufah yaitu para sahabat miskin yang hidup di jaman rasulullah. Amalan kesufian dengan zikir zihri dan qalbi adalah usaha hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhana wata’ala. Mereka mengamalkan ayat Al Qur’an dan hadist yang banyak menganjurkan zikir ini. Kemudian tuduhan anda bahwa mereka menyembah dan beribadat di kuburan adalah sangat tidak berdasar dan tidak ada bukti. Sedangkan tuduhan anda bahwa mereka membenci ulama mahzab yaitu Imam Ahmad Rahimahullah ternyata terbalik. Yang sebenarnya suka menjelek-jelekan ulama mahzab adalah kaum yang mengaku salafy dan tidak mau bermahzab karena sudah merasa pandai sendiri langsung mempelajari Al Qur’an dan hadist dari sumbernya sendiri dan tidak mau mengikuti salah satu imam mahzab tersebut.
    2. Dalil saya adalah sampaikanlah olehmu walau satu ayat. Ayat dan hadist serta apaun yang datang dari Allah dan Rasulnya serta dari para sahabat dan ulama yang sudah mumpuni tidak perlu dibuktikan karena memang itu tidak bisa dibuktikan. Misalnya anda menyampaikan dalil bahwa “Allah berada di langit” kemudian “Allah itu dekat “, “Allah beserta orang yang sabar”. Bagaimana anda membuktikannya.
    3. Makanya anda belajar hadist dari ulama yang mumpuni. Larangan gambar itu sebagai hiasan di rumah karena malaikat tidak akan masuk jika rumah itu ada gambar dan patung makhluk bernyawa, serta anjing. Sedangkan untuk blog dan internet itu bukan rumah dan kadang padam dan gambar itu hilang jika blog atau internet dimatikan. Sedangkan anda sendiri memanfaatkannya.
    Mohon maaf bahwa dalam tulisan itu tidak ada yang menuduh sesat para ulama, makanya anda baca dengan teliti sebekum anda berkomentar.
    Semua jawaban dan perdebatan untuk masalah agama tidak perlu ilmiah tetapi harus hati yang bersih dan lapang. Jika kita berhati sempit dan ficik maka apapun jawaban yang saya berikan anda akan menuduhnya bahwa saya menjawab berdasarkan nafsu saya. memang agama ini tidak bisa selalu dikaitkan dengan keilmiahan. Karena otak manusia tidak bisa menandingi ilmu dan khasanah Allah Subhana Wata’ala yang menurunkan agama ini yaitu Islam kepada seluruh manusia dan Allah menurunkan Al Qur’an dan Sunnah Baginda Rasulullah Sallahu Alaihi wasalam sebagai pedoman sedangkan kita hanya diperintahkan untuk sami’na wa ato’na agar kita selamat. Bukan wa sami’na wa tafakarna.
    Wallahu a’lam bi showab.

  14. Bismillah,
    maaf sebelumnya, hati saya tergelitik untuk mengomentari tulisan ini, sbb:
    1. Mas menyadur tulisan ini dari blog dervishwarrior yang jelas2 penulis blog itu sufi pengikut tarekat naqsabandiyah yang sering beribadah/tabarruk di kuburan2 para wali, habib dll pada hari haul mereka. apakah itu tidak bertentangan dengan larangan nabi untuk beribadah di kuburan?? saya tahu hal ini karena saya dulu hampir 3 tahun ikut tarekat ini di tempat kelahiran saya. Sudah tentu penulis blog itu sangat membenci imam ahmad yang sangat menentang ritual tarekat ini.
    2. Jangan menggunakan kaedah qila wa qol, katanya dan katanya tanpa ada bukti yang jelas bahwa imam ahmad melakukan itu. mas harus mengilmui terlebih dahulu, ingat al ilmu qobla qoul wal ‘amal (lihat shahih bukhari) dan hati2 karena blog mas dibaca semua orang sehingga bila mas menyebarkan sesuatu yang salah bisa fatal dan berdosa.
    3. Trus di blog ini juga terdapat gambar makhluk bernyawa yang jelas2 dilarang dalam islam (lihat shahih bukhari).
    @saran saya saudaraku hati2 membaca, sebab sebelum kita memvonis seseorang itu sesat (apalagi sekaliber imam ahmad yang adalah salah satu dari imam madzhab) maka kita harus tabayyun (cross check) benarkah imam ahmad melakukan itu, karena tanpa tabayyun dan ilmu maka anak kecil pun bisa memvonis ulama.
    wallahua’lam
    Sekian kritik dan saran dari saya mudah-mudahan bermanfaat dan saya menunggu jawaban dari mas (tapi ilmiah lho bukannya menjawab dengan hawa nafsu). jazakumullah khoir.
    saudaramu,

    Abu Mundzir al-Falimbanji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: