PERTANYAAN DI KUBUR

Setiap manusia setelah mati akan ditanya oleh malaikat tentang siapa Rabb, Dien dan Rasul yang diutus. Orang mukmin akan diteguhkan ketika menjawab pertanyaan tersebut, adapun orang kafir tidak mampu untuk menjawabnya dengan benar.

Allah berfirman [artinya]:

‘’Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan berbuat apa yang Dia kehendaki’’ (Ibrahim: 27)

Al-Bukhari meriwayatkan dari Al-Barra bin ‘Azib radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ‘’Apabila seorang muslim ditanya di dalam kubur, maka dia bersaksi babwa tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah rasul Allah. Itulah maksud firman Allah, Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh di dalam kehidupan dunia dan di akhirat’’ (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini pun diriwayatkan oleh Muslim dan sejumlah kelompok orang yang menerima dari hadits Syu’bah juga.

Imam Ahmad meriwayatkan dari al-Barra bin Azib, dia berkata, ‘’Kami mengantarkan jenazah salah seorang dari kaum Anshar bersama Rasulullah. Kami tiba ke suatu kubur yang belum ditutup lahat. Maka Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam duduk dan kami pun duduk di sekitarnya. Seolah-olah di atas kepala kaini ada burung sedang di kakinya ada kayu yang hendak dijatuhkan ke bumi. Beliau menengadahkan kepalanya lalu bersabda, ‘Mintalah perlindungan kepada Allah dari azab kubur.’ Beliau mengatakannya dua atau tiga kali. Kemudian beliau melanjutkan, ‘Apabila seorang hamba yang beriman meninggalkan dunia dan menghadap akhirat, maka turunlah kepadanya para malaikat dari langit yang berwajah putih seperti matahari. Mereka membawa kain kafan dan membawa beberapa selimut dari surga. Mereka duduk di dekat hamba itu dengan mengarahkan pandangan. Kemudian datanglah malaikat maut dan duduk di dekat kepala hamba seraya berkata, ‘Hai nafsu yang baik, keluarlah untuk menuju maghfirah dan keridhaan dari Allah.’ Maka nafsu pun keluar mengalir seperti mengalirnya tetesan air dari minuman. Malaikat maut mengambilnya. Tatkala ia mengambilnya, maka para malaikat lain tidak membiarkan nafsu itu berada di tangan malaikat maut sekejap mata pun sehingga mereka mengambilnya lalu meletakkan di dalam kafan dan selimut tersebut. Dari nafsu (ruh) itu keluar semerbak wangi yang lebih harum daripada kesturi yang ada di permukaan bumi. Para malaikat membawanya naik. Tidaklah mereka melintasi suatu kelompok malaikat melainkan mereka berkata, Bau harum apakah itu?’ Para malaikat pembawa ruh menjawab, ‘Ia adalah bau ruh si fulan bin fulan.’ Mereka memanggilnya dengan nama terbaik yang dahulu digunakan di dunia. Akhirnya, sampailah mereka di langit dunia. Mereka meminta dibukakan untuk ruh itu. Lalu dibukakanlah untuknya serta disambutlah oleh setiap malaikat penghuni langit lalu diantarkanlah hingga ke langit berikutnya, hingga sampai di langit ketujuh.’’

Maka Allah Ta’ala berfirman [artinya], ‘’Tuliskanlah catatan hamba-Ku di dalam surga yang tinggi dan kembalikanlah dia ke bumi karena dari bumilah Aku menciptakan mereka dan ke bumilah Aku mengembalikan mereka serta dari bumilah Aku mengeluarkan mereka pada kali yang kedua. Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda, Kemudian ruh itu dikembalikan ke jasadnya. Ia didatangi oleh dua malaikat lalu mendudukkannya. Kedua malaikat berkata kepadanya, ‘Siapakah Tuhanmu?’ Dia menjawab, ‘Tuhanku adalah Allah.’ Kedua malaikat itu bertanya, ‘Apa agamamu?’ Dia menjawab,’Agamaku Islam.’ Kedua malaikat bertanya,’Siapakah prang yang diutus kepadamu?’ Dia menjawab,’Orang itu adalah Rasulullah.’ Kedua malaikat bertanya,’Apa pengetahuanmu?’ Dia menjawab,’Aku membaca kitab Allah, maka aku mengimani dan membenarkannya.’ Tiba-tiba ada seorang penyeru dari langit, ‘Benarlah hamba-Ku. Maka hamparkanlah untuknya.sebagian dari hamparan surga dan kenakanlah kepadanya sebagian pakaian surga serta bukakanlah baginya sebuah pintu dari surga.’’

Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ‘’Maka didatangkanlah kepadanya ruh dan kebaikannya. Allah melapangkan kuburan itu baginya seluas mata memandang. Kemudian datanglah kepadanya seorang laki-laki berwajah tampan, berpakaian bagus, dan berbau harum, lalu bertanya, ‘Bergembiralah dengan apa yang menggembirakanmu. Inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.’ Mayat orang mukmin berkata, ‘Siapakah kamu? Wajahmu merupakan wajah yang datang untuk membawa kebaikan.’ Orang itu menjawab, ‘Aku adalah amal salehmu.’ Mayat orang mukmin berkata, ‘Ya Tuhanku, segerakanlah kiamat agar aku dapat kembali kepada keluargaku dan hartaku’’.

Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ‘’Sedangkan apabila seorang hamba yang kafir meninggalkan dunia dan menuju akhirat, maka turunlah kepadanya para malaikat dari langit yang berwajah hitam. Mereka membawa tenunan kasar dan duduk di dekatnya sambil mengawasinya. Kemudian datanglah malaikat maut dan duduk di dekat kepalanya seraya berkata, ‘Hai ruh yang buruk, keluarlah untuk menuju kemurkaan dan kemarahan dari Allah.’ Nabi bersabda, ‘Maka ruh meninggalkan jasadnya. Malaikat maut mencabut ruh seperti menarik tusuk besi dari daging basah. Malaikat maut mencabutnya. Setelah dia mencabutnya, dia tidak membiarkan di tangannya sekejap pun sehingga ruh itu disimpan di dalam tenunan kasar. Maka keluarlah darinya bau yang lebih busuk dari bangkai terbau yang ada muka bumi. Para malaikat membawanya naik. Tidaklah mereka melintasi suatu kelompok malaikat melainkan mereka berkata, Bau busuk apakah ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini bau busuk si fulan bin fulan.’ Mereka memanggilnya dengan nama terburuk yang dahulu digunakan di muka bumi. Mereka sampai di langit dunia seraya meminta dibukakan pintu untuknya. Namun pintu itu tidak dibukakan untuknya. Lalu Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam membaca ayat [artinya], ‘Tidak dibukakan baginya pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk surga hingga unta masuk ke dalam lubang jarum.’ Maka Allah Ta’ala berfirman [artinya], ‘Tuliskanlah baginya tempat di dasar bumi yang terendah.’ Kemudian malaikat melemparkan ruh itu dengan keji. Lalu Rasulullah membaca ayat [artinya], ‘Adapun orang yang menyekutukan Allah, maka dia seolah-olah jatuh dari langit, lalu disambar burung atau dia dihempaskan oleh angin ke tempat yang jauh.’

Kemudian ruh itu kembali ke jasadnya. Lalu datanglah dua malaikat seraya mendudukkannya dan berkata, ‘Siapakah Tuhanmu?’ Dia menjawab, ‘A… e… aku tidak tahu.’ Kedua malaikat itu bertanya, ‘Apa agamamu?’ Dia menjawab, ‘A… e… aku tidak tahu.’ Kedua malaikat bertanya,’Siapakah orang yang diutus kepadamu?’ Dia menjawab, ‘A… e… aku tidak tahu.’ Tiba-tiba ada seorang penyeru dari langit, ‘Hamba-Ku berbohong. Maka hamparkanlah untuknya sebagian dari hamparan neraka dan bukakanlah baginya sebuah pintu dari pintu neraka. Lalu datanglah kepadanya panas dan racun api neraka. Allah menyempitkan kuburan itu baginya hingga tulang rusuknya berceceran. Kemudian datanglah kepadanya seorang laki-laki berwajah buruk, berpakaian buruk, dan berbau busuk, lalu berkata, ‘Bergembiralah dengan apa yang menyedihkanmu. Inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.’ Mayat orang kafir berkata, ‘Siapakah kamu? Wajahmu merupakan wajah yang datang untuk membawa keburukan.’ Orang itu menjawab, ‘Aku adalah amal burukmu.’ Mayat orang kafir berkata, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau menyegerakan kiamat.’ Hadits ini pun diriwayatkan dari Abu Daud dari hadits al-Amasy, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah dari hadits al-Manhal bin Amr.

Imam Abd bin Humaid rahimahullah ta’ala meriwayatkan di dalam musnadnya dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila seorang hamba diletakkan di dalam kuburnya, ditinggalkan oleb para sababatnya dan dia dapat mendengar suara sandal mereka, maka datanglah dua malaikat lalu mendudukkannya seraya bertanya, ‘Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?’ Nabi bersabda, Jika mayat itu orang mukmin, maka dia menjawab, ‘Aku bersaksi babwa dia adalah hamba dan Rasul Allah.’Dikatakan kepada hamba itu, ‘Lihatlah tempatmu di neraka dan Allah telah menggantinya dengan tempat di surga.’ Kemudian Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda, Lalu orang itu melibat kedua tempat itu. ‘

Qatadah menceritakan: telah diceritakan kepada kami bahwa Allah akan melapangkan kuburan bagi seorang mukmin seluas 70 hasta dan memenuhinya dengan kelembutan hingga hari kiamat. Hadits itu pun diriwayatkan oleh Muslim dari Abd bin Humaid dan dikemukakan oleh an-Nasa’i dari hadits Yunus. bin Muhammad al-Mu’dib.

Jarir menwayatkan dari Abi Hurairah, dari Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda, Demi Zat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya, sesungguhnya mayat masih dapat mendengar suara sandalmu tatkala kamu meninggalkannya. Jika dia orang yang beriman, maka shalat berada di dekat kepalanya, zakat di sebelah kananya, shaum di sebelah kirinya, dan aneka amal kebaikan seperti sedekah, silaturahmi, kemakrufan, dan ihsan kepada manusia berada di dekat kedua kakinya. Kemudian didatangkan malaikat dari arah kepalanya, maka shalat berkata, ‘Tidak ada jalan dari arahku.’ Kemudian didatangkan malaikat dari arah kanannya, maka zakat berkata, ‘Tidak ada jalan dari arahku.’ Kemudian didatangkan malaikat dari arah kirinya, maka shaum berkata, ‘Tidak ada jalan dari arahku.’ Kemudian didatangkan malaikat dari arah kakinya, maka aneka amal kebaikan berkata, ‘Tidak ada jalan dari arahku.’ Kernudian dikatakan kepada mayat, ‘Duduklah.’ Mayat pun duduk. Saat itu, matahari tampak olehnya sudah menjelang terbenam. Mayat itu ditanya, ‘Jawablah hat-hal yang hendak kami tanyakan kepadamu.’ Mayat berkata,’Beri aku waktu untuk shalat.’ Malaikat berkata, ‘Kamu akan mengerjakannya nanti. Sekarang jawab dulu hal-hal yang akan kami tanyakan kepadamu.’ Mayat bertanya, ‘Masalah apakah yang hendak kau tanyakan?’ Maka dikatakan, ‘Bagaimana pendapatmu tentang seorang laki-laki yang ada di tengah-tengahmu dahulu, apa pendapatmu dan apa kesaksianmu terhadapnya?’ Mayat berkata, ‘Maksudmu Muhammad?’ Malaikat berkata,’Benar.’ Mayat berkata, ‘Aku bersaksi bahwa dia merupakan rasul Allah. Sesungguhnva dia datang kepada kami dengan membawa aneka penjelasan dari sisi Allah, maka kami membenarkannya.’ Maka dikatakan kepada mayat, ‘Di atas pandangan itulah kamu hidup, mati, dan dibangkitkan. Insya Allah.’ Kemudian dilapangkanlah kuburannya seluas 70 hasta dan diterangi. Dibukakan baginya sebuah pintu menuju surga, lalu dikatakan, ‘Lihatlah apa yang dijanjikan oleh Allah untukmu di surga.’ Maka semakin bertambahlah keinginan dan kegembiraannya. Kemudian jiwanya ditempatkan dalam tubuh yang baik, yaitu berupa burung hijau yang bergantung di pohon surga. Kemudian jasad dikembalikan kepada asal ciptaannya, yaitu tanah. Itulah yang dimaksud oleh firman Allah Ta’ala [artinya], ”Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang kokoh di dalam kehidupan dunia dan di akhirat”. Hadits itu pun diriwayatkan oleh Ibnu Hibban.

Sehubungan dengan ayat ini al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa, sesungguhnya jika seorang mukmin meninggal, maka para malaikat mengunjunginya, memberinya salam, dan menghiburnya dengan surga serta diceritakan pula ihwalnya seperti telah dikemukakan dalam hadits di atas. Kemudian Ibnu Abbas berkata bahwa, adapun terhadap mayat orang kafir, maka malaikat turun sambil memukulkan sayapnya. Allah berfirman [artinya], ”Mereka memukul wajah dan bagian belakang mereka ketika mati”. Apabila dia masuk ke dalam kubur, maka didudukkan, lalu ditanya, ‘Siapakah Tuhanmu?’ Maka dia tidak ingat apa-apa dan dibuat lupa oleh Allah akan hal itu. Jika ditanya, ‘Siapakah rasul yang diutus kepadamu?’ Maka dia tidak memperoleh jawaban dan tak ingat apa pun. Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah mengerjakan apa yang Dia kehendaki’‘

Diambil dari Ringkasan Tafsir Ibnu Katsier, Syaikh Muhammad Ar-Rifa’i

12 BARISAN MANUSIA DI PADANG MASYAR

PADA suatu hari, Muaz bin Jabal menghadap
Rasulullah SAW dan bertanya: “Wahai Rasulullah,
tolong huraikan kepadaku mengenai firman Allah:
Ketika sangkakala ditiup, maka kamu sekalian
datang berbaris-baris.”(Surah an-Naba’, ayat 1.

Mendengar pertanyaan itu, Baginda menangis
hingga basah pakaiannya. Lalu Baginda
menjawab: “Wahai Muaz, engkau bertanyakan
kepada aku perkara yang amat besar, bahawa
umatku akan diiring, dikumpulkan berbaris menjadi
12 barisan, masing-masing dengan pembawaan
mereka sendiri.”

Maka, dinyatakan apakah 12 barisan itu.

Barisan pertama, diiring dari kubur dengan tidak
bertangan dan berkaki.

Keadaan mereka ini dijelaskan melalui satu seruan
dari sisi Allah Yang Maha Pengasih
bermaksud: “Mereka itu ialah orang yang ketika
hidupnya menyakiti hati jirannya, maka ini
balasannya.”

Barisan kedua, diiring dari kubur berbentuk babi
hutan.

Datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha
Pengasih: “Mereka itu ialah orang yang ketika
hidupnya meringankan solat, maka inilah
balasannya dan tempat kembalinya adalah neraka.”

Barisan ketiga, diiring dari kubur berbentuk keldai,
perut mereka penuh dengan ular dan kala jengking.

Mereka ialah orang yang enggan membayar zakat,
maka inilah balasannya dan tempat kembali
mereka adalah neraka.

Barisan keempat, diiring dari kubur dengan
keadaan darah seperti air pancutan keluar dari
mulut mereka.

Mereka ialah orang yang berdusta dalam jual beli,
maka inilah balasannya dan tempat mereka adalah
neraka.

Barisan kelima, diiring dari kubur dengan bau
busuk. Ketika itu Allah menurunkan angin
sehingga bau busuk itu mengganggu ketenteraman
di Padang Mahsyar.

Mereka itu ialah orang yang menyembunyikan
perlakuan derhaka takut diketahui manusia, tetapi
tidak pula takut kepada Allah, maka inilah
balasannya dan tempat kembali mereka adalah
neraka.”

Barisan keenam, diiring dari kubur dengan kepala
mereka terputus dari badan.

Mereka ialah orang yang menjadi saksi palsu.
Inilah balasannya dan tempat mereka adalah
neraka.

Barisan ketujuh, diiring dari kubur tanpa
mempunyai lidah, tetapi dari mulut mereka
mengalir keluar nanah dan darah.

Mereka ialah orang yang enggan memberi
kesaksian di atas kebenaran, maka inilah
balasannya dan tempat kembali mereka adalah
neraka.

Barisan kelapan, diiring dari kubur dalam keadaan
terbalik dengan kepala ke bawah dan kaki ke atas.

Mereka ialah orang yang berzina. Inilah balasannya
dan tempat kembali mereka adalah neraka.

Barisan kesembilan, diiring dari kubur dengan
wajah hitam gelap dan bermata biru sementara
dalam diri mereka penuh dengan api gemuruh.

Mereka ialah orang yang makan harta anak yatim
dengan cara haram, maka inilah balasannya dan
tempat kembali mereka adalah neraka.

Barisan ke-10, diiring dari kubur mereka dalam
keadaan tubuh mereka penuh sopak dan kusta.

Mereka ialah orang yang derhaka kepada orang
tuanya, maka inilah balasannya dan tempat
kembali mereka adalah neraka.

Barisan ke-11, diiring dari kubur mereka dengan
berkeadaan buta, gigi memanjang seperti tanduk
lembu jantan, bibir melebar sampai ke dada dan
lidah terjulur memanjang sampai ke perut serta
keluar beraneka kotoran.

Mereka ialah orang yang minum arak, maka inilah
balasannya dan tempat kembali mereka adalah
neraka.

Barisan ke-12, mereka diiring dari kubur dengan
wajah yang bersinar-sinar laksana bulan purnama.
Mereka melalui titian sirat seperti kilat.

Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha
Pengasih memaklumkan:

“Mereka ialah orang yang beramal salih dan
banyak berbuat baik. Mereka menjauhi perbuatan
derhaka, mereka memelihara solat lima waktu,
ketika meninggal dunia keadaan mereka sudah
bertaubat.

Maka, inilah balasannya dan tempat kembali
mereka adalah syurga, mendapat keampunan,
kasih sayang dan keredaan Allah Yang Maha

TANTANGAN LUAR DALAM BAGI JAMA’AH TABLIGH

Usaha untuk mencari pahala yang besar dengan jalan mengajak manusia ke jalan yang lurus, tidak selamanya berjalan mulus. Tantangan tidak hanya datang dari dalam diri, tapi juga orang lain. Bahkan untuk usaha dakwah Islam seperti yang dilakoni Jamaah Tabligh (JT), tantangan bahkan datang dari organisasi dan pengajian Islam lainnya. Sementara dari keluarga, terkadang masalah istri, mertua dan lainnya dapat menghambat langkah perjuangan.

Dari beberapa literatur yang ada, diketahui kalau Jamaah Tabligh adalah satu gerakan dakwah Islamiyah yang terbuka dan sangat dinamis. Mereka mengambil pedoman utamanya adalah Alquran, Assunnah, hayatush shahabah dan ijma para ulama. Basis gerakan JT ada di masjid dan alur pergerakannya dari masjid ke masjid di seluruh pelosok dunia.

Adapun konsep utama gerakannya adalah hijrah (khuruj) dan nushrah dengan harta dan diri sendiri. Alat bantu dalam memahami dan melakukan dakwah adalah 6 kualitas sahabat Rasulullah dan tempat utama untuk proses pembelajarannya adalah India, Pakistan dan Bangladesh.

Mulanya, gerakan yang bermula dari India ini, tidak memiliki nama. Namun karena kerja mereka menyampaikan agama dan mengajak orang-orang untuk kembali ke jalan Allah SWT, mereka akhirnya digelari dengan sebutan Jamaah Tabligh.

Pelopor dari gerakan dakwah ini adalah syeikh Muhammad Ilyas Kandahlawi (1303-1364 H) dari India. Ia sangat menekankan dakwah secara praktis untuk membangkitkan kesadaran, kepahaman, kemampuan dan kekuatan setiap muslim dalam mengamalkan agama dengan cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

JT terbuka bagi semua mahzab, golongan dan aliran dalam Islam. Dikatakan sangat dinamis, karena mobilitasnya yang tinggi, kuat dan menembus hingga ke ujung-ujung dunia. Sebagaimana diakui oleh ulama-ulama dunia yang jujur, JT obyektif dan tidak dipengaruhi oleh kepentingan politik atau golongan.

Mereka juga tidak membeda-bedakan masjid sebagai tempat ibadah. Pengikut JT shalat di mana azan dikumandangkan, tidak peduli itu masjid atau musalla punya siapa. Mereka berjuang menyebarkan cahaya kebaikan, sebagaimana kaum muhajirin melakukannya pada periode Mekkah dan Madinah dan kaum anshor pada periode Madinah.

JT dalam bersikap, berpedoman pada 6 kualitas (atau enam sifat) sahabat-sahabat Rasulullah SAW. Enam sifat itu adalah La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah, sholat khusyu’ wal khudu, ilmu ma’a dzikir, ikramul muslimin, ikhlasun niyah dan da’wah wat tabligh.

Dipilihnya tiga negara, India, Pakistan dan Bangladesh sebagai tempat belajar agama, karena di tiga negara ini memiliki suasana berbeda. Hingga saat ini, mayoritas penduduk India adalah kaum penyembah banyak tuhan. Sementara mayoritas penduduk Pakistan adalah kaum muslimin dengan bermacam-macam golongan. Sedangkan mayoritas penduduk Bangladesh adalah kaum fakirin dan masakin. Ketiganya mewakili suasana yang dapat menguatkan iman-yakin yang justru sangat diperlukan oleh para da’i dikalangan JT.

Untuk menghalangi gerak JT di suatu daerah, tidak jarang ada pengurus masjid yang menggembok masjid yang seharusnya terbuka untuk siapa saja. Alasannya, masjid tidak boleh dijadikan tempat menginap atau tidur. Secara tidak langsung, pengurus masjid ini menyuruh JT bermalam di hotel. Entah apa yang terjadi, jika ini dituruti. Cemoohan akan meningkat, tentu dengan tuduhan JT memperbaiki dirinya dengan cara bersenang-senang di hotel.

Tudingan buat JT lainnya, terkait dengan hadis-hadis yang mereka amalkan. Tuduhan JT mengambil hadist dhaif yang mana juga diriwatkan oleh banyak ulama, menjadi senjata tajam para ustad pembenci sesama Muslim, kala berceramah di masjid. Mereka sedikitpun tidak mau berargumen, akan baik buruknya hadis yang diperdebatkan.

Tidak bisa ditutupi, bahwa di kalangan JT memang banyak preman yang berhasil ditobatkan. Di antara mereka ada yang kebiasaannya sebelum masuk JT malas bersih-bersih. Gigi mereka kuning, badannya dekil, bajunya kumal, gondrong dan sebagainya. Kepada mereka ini, dijadikan pembenci JT sebagai senjata ampuh untuk menuduh JT sebagai manusia jorok.

Mereka ini tentunya butuh waktu untuk memahami hadis mengenai kebersihan dan keindahan. Bagi kalangan JT sendiri, tidak terlalu dipermasalahkan, asal mereka telah kembali ke jalan Islam. Biasanya, kebisaan buruk anggotanya, diajari dengan cara yang hasan dan perlahan-lahan, sehingga nantinya bisa bersih iman luar dan dalam.

JT juga sering dituding tidak bertanggung jawab pada keluarga. Di mana beberapa kasus menunjukkan, ada anggota JT yang menelantarkan keluarganya karena terlalu bersemangat dalam berdakwah. Orang ini lolos, karena pemimpin rombongan yang tidak arif. Padahal dalam JT, jemaah yang inging khuruj (pergi berdakwah), harus memiliki kecukupan uang untuk diri sendiri dan juga untuk keluarga. Karena itu, mereka senantiasa disarankan untuk menabung.

Entah apa jadinya, jika orang-orang yang sinis dengan masalah meninggalkan anak istri ini, disodorkan kepadanya kisah Ibrahim dan istrinya Siti Hajar. Ia ditinggalkan Ibrahim AS, di tengah padang tandus, gersang, tidak ada perlindungan dan makan sedikitpun. Siti Hajar lebih menderita, dibanding istri orang JT yang ditinggalkan tanpa bekal. Mereka tinggal di keramaian dan akses mendapat air mudah pula. Sungguh para penuduh, telah membutakan mata dan hatinya dengan kisah ini.

Sungguhpun berbagai tantangan datang menghampiri JT, baik dari kalangan umat Islam dan luar Islam, jemaah ini sukses dan eksis di semua negara. Keberadaannya banyak dicemburui oleh organisasi dan perkumpulan Islam lainnya. Maklum saja, JT berjuang untuk agama dengan harta dan dirinya, alias tidak setengah-setengah. Sementara yang lain, kalau mau berdakwah, menampungkan tangan dulu untuk meminta biaya.

Banyak cara yang telah dilakuan pemerintah Amerika untuk membungkam gerak laju JT di Amerika. Mereka terakhir membawa isu terorisme, untuk menghalangi masuknya jemaah dakwah JT. Mereka tidak punya alasan menangkap jemaah, karena hanya berbekal kompor dan peralatan makan seadanya.

JT telah berhasil menembus dunia, dengan keberhasilannya menyadarkan banyak orang dalam kebenaran. Tidak doktrinisasi dalam JT, kecuali kesatuan tekad untuk berdakwah sampai ke ujung dunia hingga ajal menjemput. Mereka malah menyarankan warga yang telah mengikuti dakwah bersama mereka, untuk mempelajari ilmu fiqih, tajwid dan ilmu-ilmu Islam lainnya ke ulama yang lebih kompeten.

Sementara saat mereka berkumpul dalam markas, mereka diminta menanggalkan baju organisasi, pangkat, jabatan, partai politik dan lainnya. Pikiran harus fokus pada daerah sasaran dakwah dan pembicaraan harus menghindari khilafiyah dan politik. Namun tidak berarti mereka dilarang berpolitik atau berdiskusi. Jika sudah selesai dalam pertemuan, mereka bebas beraktivitas apa saja. Bagi yang suka politik, silahkan berkecimpung dengan dunia politik dan lainnya.

Bagi semua jemaah ditekankan, bahwa kumpulan JT hanya sebagai tempat memperbaiki diri. Mereka juga diminta menyampaikan pada saudara Muslim lainnya, akan pentingnya memperbaiki diri sendiri dan juga orang lain. Mereka juga terbuka terhadap nasehat yang baik. Dan satu hal yang disalutkan, mereka tidak membalas hinaan orang dengan hinaan pula. Mungkin inilah kunci sukses keberadaan mereka, sehingga akhirnya mendunia. Usaha yang ikhlas, tanpa mengharap publikasi, pujian ataupun sanjungan dari orang-orang.

sumber:http://hendrinova.wordpress.com

Silsilah Keturunan Maulana Muhammad Yusuf Al Kandahlawy Rah A

 

Ayahnya, Syaikh Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi (wafat 1943), memainkan peranan penting dalam gerakan pemurnian yang dipimpin oleh dua ulama, Ahmad bin Muhammad Irfan dan Muhammad Ismail, dan keduanya wafat sebagai syuhada. Gerakan pemurnian yang bertujuan untuk menghapus semua penyimpangan dari kepercayaan rakyat dan kembali kepada agama Islam yang murni. Beberapa ulama dalam keluarganya belajar di bawah Syaikh Abd al-Aziz bin Ahmad bin Abd al-Rahim Al-Dahlawi, seorang ulama yang sangat terkemuka dalam ilmu Hadits. Sesungguhnya keluarga beliau menghasilkan barisan panjang ulama-ulama terkenal dalam ilmu Hadis, Fiqh, dan ilmu Islam lainnya.

Silsilah keturunan dari Garis Ayah:

Maulana Muhammad Yusuf anak dari Maulana Muhammad Ilyas anak dari Maulana Muhammad Ismail anak dari Syaikh Ghulam Hussein anak dari Hakim Karim Baksh anak dari Hakim Ghulam Mohiuddin anak dari Maulana Muhammad Sajid anak dari Maulana Muhammad Faiz anak dari Maulana Hakim Muhammad Syarif anak dari Maulana Hakim Muhammad Asyraf anak dari Syaikh Jamal Muhammad Syah anak dari Syaikh Nur Muhammad anak dari Syaikh Bahauddin Syah anak dari Maulana Syaikh Muhammad anak dari Syaikh Muhammad Fadhil anak dari Syaikh Qutb Syah.

Silsilah keturunan dari Garis Ibu:

Ibunya anak dari Maulvi Rauful Hasan anak dari Maulana Zia-ul-Hasan anak dari Maulana Nurul Hasan anak dari Maulana Abul Hasan anak dari Mufti Ilahi Baksh anak dari Maulana Syaikhul Islam anak dari Hakim Qutbuddin anak dari Hakim Abdul Qadir anak dari Maulana Hakim Muhammad Syarif anak dari Maulana Hakim Muhammad Asyraf anak dari Syaikh Jamal Muhammad Syah anak dari Syaikh Nur Muhammad anak dari Syaikh Bahauddin Syah anak dari Maulana Syaikh Muhammad anak dari Syaikh Muhammad Fadhil anak dari Syaikh Qutb Syah.

Garis silsilah keturunan ayah dan ibu dari keluarga Maulana Yusuf bertemu di Hakim Muhammad Syarif. Lalu garis silsilah keluarga keturunan mereka kembali ke Amirul Mukminin Hazrat Abu Bakar Siddiq RA. Kedua keluarga ini tinggal di desa Kandhala dan Jinhjana. Mereka terkenal dengan kereligiusan, keilmuan dan kesalehan.

sumber: http://imanyakin.wordpress.com